“Sudah dua tahun berturut-turut murid saya alhamdulillah dapat medali emas di olimpiade sains kebumian tingkat kabupaten. Mereka cerdas-cerdas, walau tinggal di daerah terpencil.”

Begitulah sepotong kalimat pembuka yang dilontarkan Muhammad Arif, mengawali percakapan melalui media sosial pertengahan Juni 2016 lalu. Kalimat yang menyiratkan kegembiraan dan kebahagiaan karena kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil.

Arif adalah guru PNS yang mengajar di dua sekolah sekaligus di Aceh Barat. Ia mendedikasikan dirinya untuk mengajar pelajaran fisika dan kimia di SMA N 1 Woyla Barat dan di MAN Suak Timah. Prestasi di atas merujuk pada anak didikannya di SMA N 1 Woyla Barat.

Arif, meski perawakannya kecil namun memiliki semangat mengajar yang sangat besar. Melakoni pekerjaan sebagai guru diakuinya bukan pekerjaan yang mudah. Bukan beban moral saja yang harus ditanggungnya, tapi juga beban fisik. Bertahun-tahun Arif yang tinggal di Kecamatan Samatiga harus naik rakit menyeberangi Krueng Woyla yang terkenal dengan buayanya demi sampai ke sekolah.

“SMA Woyla Barat terletak 40 km dari pusat kota, dulu medannya sangat sulit harus naik rakit selama tiga tahun, sekarang alhamdulillah sudah lancar, 30 menit sudah sampai ke sekolah,” katanya.

Ngerih-ngerih sedap. Begitulah Arif menjelaskan pengalamannya selama menjadi guru di daerah pedalaman. Jika sedang musim banjir arus Krueng Woyla sangat deras. Tak jarang nyawa menjadi taruhannya. “Pernah rakitnya hanyut jauh, untungnya ada ujung pohon bambu yang rebah jadi penolong,” cerita Arif.

Namun Arif tak pernah menjadikan semua itu sebagai beban. Sejak dulu ia sudah paham akan konsekuensi menjadi seorang guru. Karena cita-citanya memang ingin menjadi guru. Tak pula ia pernah mengeluh. Setahun setelah selesai kuliah pada 2007 silam ia memutuskan pulang ke kampungnya di Samatiga. Tahun 2008 Arif lulus PNS dan sejak itu mengabdikan diri sepenuhnya di tanah kelahirannya.

“Memang sejak dulu cita-citanya ingin menjadi guru, waktu kuliah dulu pilihan pertamanya FKIP. Waktu kecil sering main sekolah-sekolahan, yang jadi muridnya adik-adik kami, senang rasanya kalau bisa membuat mereka paham,” ujar alumnus FKIP Fisika Unsyiah angkatan 2002 ini. “Saya juga sangat terkesan dengan guru-guru dari MIN sampai MAN, terutama guru matematika Pak Zamzami, Pak Syahrial, Pak Cut Aswandi, Ibu Ummi, Ibu Rosmalawati dan Ibu Asmaran.”

Arif mengakui jika fisika memang pelajaran favoritnya, begitu juga dengan biologi dan kimia. “Isi pelajarannya logis, tidak bertentangan dengan fakta-fakta yang kita temui di alam. Banyak hal-hal baru yang menurutku sangat mengagumkan ketika kita belajar fisika, kimi, biologi. Gejala-gejala alam yang terjadi ooo… ternyata begitu ya…. Ternyata begini ya….”

Sejak 2009 hingga 2011 Arif mulai membimbing siswa-siswa yang akan diikutkan untuk olimpiade kimia di MAN Suak Timah. Hasilnya tidak mengecewakan. Di 2009, seorang muridnya berhasil mendapatkan juara tiga, di 2010 ada yang lolos juara dua dan di 2011 mendapatkan juara tiga.

Namun sejak 2012 sekolah madrasah termasuk MAN Suak Timah tidak diikutsertakan lagi dalam olimpiade. Pak guru Arif pun akhirnya fokus membimbing olimpiade fisika, kebumian dan astronomi di Woyla Barat. “Walaupun awalnya pesimis, karena minat belajar anak-anak Woyla Barat rendah sekali.”

Hasilnya, siswa binaan Arif hanya dapat peringkat tujuh bidang fisika di tahun 2012. Arif tak kecewa meski siswanya tak berhasil maju ke tingka provinsi.

“Saya mulai optimis anak-anak di sana sebenarnya juga punya potensi, asalkan rajin kita asah. Harus dari kita memang, sangat beda dengan siswa-siswa di kota yang minat belajar tinggi,” katanya bersemangat.

Usahanya membimbing para siswa semakin menunjukkan perubahan yang signifikan. Tahun 2013 dua siswanya lolos juara dua dan juara tiga olimpiade fisika. Tahun 2014 hanya sampai di peringkat lima dan enam saja.

“Tahun 2015 alhamdulillah siswa saya mendapat medali emas bidang kebumian dari 66 siswa peserta dari seluruh SMA di Aceh Barat. Terharu sekali saat itu sampai meneteskan air mata.”

Kebahagiaan Arif kembali bertambah ketika di tahun 2016 ini karena siswanya kembali mendapatkan medali emas untuk ilmu kebumian. Selain itu ada juga yang mendapatkan juara tiga fisika dan juara dua kebumian. “Memang masih di tingkat kabupaten tapi itu sudah sangat luar biasa,” kata Arif mengakhiri ceritanya.

Dedikasinya bertahun-tahun berbuah manis. Belum lama ini Arif mendapatkan penghargaan dari pemerintah setempat sebagai guru berprestasi sekabupaten. Semoga penghargaan itu menjadi pemantik untuk terus berkarya Pak Guru Arif…[](ihn)