BANDA ACEH – Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Banda Aceh, Zainal Arifin Lubis, memaparkan perkembangan perekonomian Aceh. Pemaparan dilakukan di sebuah acara di Banda Aceh, 29 Januari 2019.
Dia menjelaskan, pada Desember 2018 Aceh mengalami inflasi tahunan sebesar 1,84 persen. Inflasi ini tercatat berada di bawah inflasi nasional yang mengalami inflasi secara tahunan sebesar 3,13 persen.
Sementara tingkat pengangguran terbuka di Aceh tercatat 6,36 persen, menurun dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar 6,57 persen. Agka menurun terendah dalam 18 tahun terakhir.
Menurut dia, angka garis kemiskinan mencapai 15,68 persen. Angka tersebut menurun dibandingkan periode sama di tahun sebelumnya 15,92 persen.
Sedangkan sektor penyaluran kredit atau pembiayaan perbankan mengalami pertumbuhan positif, tercatat penyaluran kredit tumbuh sebesar 8,23 persen. Secara sektoral, sektor perdagangan menyerap dana kredit terbesar, mencapai Rp 6,38 triliun atau 18 persen, dari total kredit di Aceh yang mencapai Rp 35,89 triliun.
“Risiko kredit di Aceh yang tercermin dari Non Performing Loan (NPL) menunjukkan tren penurunan sejak tahun 2016. Rasio NPL tercatat berada pada level aman yaitu sebesar 1,54 persen,” paparnya.
Pada tahun 2018, NPL kredit tertinggi berada pada sektor konstruksi yang mencapai 7,79 persen. Tahun 2018, terjadi net outflow di Provinsi Aceh sebesar Rp 3,05 triliun, meningkat dibanding dengan tahun sebelumnya mengalami net outflow sebesar Rp464,5 miliar.
“Peningkatan tersebut seiring dengan adanya peningkatan realisasi APBA dan konsumsi masyarakat pada saat Maulid Nabi dan liburan akhir tahun,” ungkapnya.
Selanjutnya tahun 2018, volume transaksi kliring meningkat dibandingkan periode sebelumnya menjadi 102 ribu transaksi (DKE). Peningkatan volume transaksi tersebut pun diikuti oleh peningkatan nilai transaksi yang diproses menjadi sebesar Rp3,96 triliun atau mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp3,42 triliun.
“Porsi belanja modal 2019 mencapai 27,00 persen, dari total APBD merupakan porsi tertinggi sejak 2015. Pertumbuhan ekonomi 0,63 persen, penyerapan tenaga kerja, 0,45 persen, pertumbuhan ekspor 0,27 persen,” jelanya.
Lebih lanjut, penambahan pertumbuhan DPRB 0,08 persen, pertumbuhan ekspor 0,25 persen, penmbahan penyerapan tenaga kerja, 0,03 persen. Sedangkan Tahun 2017 penambahan pertumbuhan DPRB 0,08 persen, pertumbuhan ekspor 0,03 persen, penambahan penyerapan tenaga kerja, 0,02 persen,
“Ekspor kopi Aceh memiliki tren yang meningkat. Namun demikian, 90 persen lebih ekspor kopi Aceh masih dalam bentuk green beans atau nilai tambah belum optimal,” pungkasnya.[](Khairul Anwar)




