BANDA ACEH – Kepala Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota atau DK3 Banda Aceh, Jalaluddin, membantah pihaknya menebang pepohonan cemara di sepanjang Krueng Aceh, Minggu, 25 Desember 2016. Dia menyebutkan penggundulan deretan pepohonan cemara itu merupakan bentuk peremajaan.
“Cemara itu kan sudah tinggi, terpaan anginnya kan kencang, habis itu disitu kan ada rumah masyarakat, kita pangkas, setengah. Nanti itu tumbuh lagi dahannya,” kata Jalaluddin melalui sambungan seluler kepada portalsatu.com terkait penggundulan pohon cemara di sepanjang Krueng Aceh pagi tadi. (Lihat Foto: Dinas Cukur Pohon Cemara Jalan Tepi Krueng Aceh)
Dia menyebutkan sebenarnya pepohonan cemara itu sudah terlambat dipangkas. Namun jika dibiarkan, Jalal menakutkan pepohonan ini akan tumbang ke rumah warga dan menyebabkan tanggul Krueng Aceh jebol ketika banjir.
“Kita rapikan, kita pangkaslah, nanti kan tumbuh lagi. Bukan kita potong rata, ya 10-10 meterlah, sehingga tinggi kali,” katanya.
Jalaluddin mengaku sebenarnya tidak ingin memangkas pepohonan cemara yang ada di sepanjang Krueng Aceh ini.
Namun dia mempertimbangkan kondisi alam, seperti curah hujan tinggi dan angin kencang. Dia mencontohkan seperti kejadian beberapa waktu lalu. Saat itu ada lima pohon cemara yang tumbang dan merusak pagar lapangan Gampong Pango, Banda Aceh.
“Pelan-pelan kita pangkas,” katanya.
Jalal mengaku upaya yang dilakukan pihak DK3 Banda Aceh ini tidak akan merusak lingkungan. Terlebih, penggundulan pepohonan cemara ini juga tidak akan menyebabkan casuarina equsetifolia (latin) ini mati. Dia memaparkan pengalaman DK3 Banda Aceh saat memangkas pepohonan cemara di Taman Putroe Phang. (Baca: Dinas Cukur Pohon Cemara di Sepanjang Krueng Aceh, Fauzi: Saya Sedih)
“Insya Allah (tidak mati). Kita akan memprioritaskan (pemangkasan cemara) daerah-daerah yang ada rumah penduduk dulu dan pemukiman penduduk yang agak rawan. Kita usahakan semua kita pangkas itu. Secara teknis irigasi sungai, cemara mengganggu. Sangat mengganggu, karena akarnya tinggi, gembur, saat hujan dahan menjadi berat, ditambah terpaan angin jadi terguling (tumbang) dia. Tapi insya Allah lah, masak kita orang kebersihan dan keindahan kota malah memotong pohon? Jadi bukan kita potong, tapi kita rapikan,” kata Jalaluddin.[]


