BANDA ACEH – Matahari siang itu kian tinggi. Jam menunjukan pukul 11.00 WIB, hawa semakin panas. Awak media terlihat masih berkumpul seusai mewawancarai salah seorang calon Gubernur Aceh yang datang ke TPS untuk mencoblos. Ada yang sedang mengetik berita, ada yang sedang mendengarkan rekaman.
Tiba-tiba dalam kerumunan itu ada yang bersuara. “Ayo kita ke rumah sakit jiwa. Kabarnya ada TPS di sana,” kata seorang wartawan media online lokal di Aceh.
“Wah menarik itu, kalau pasien RSJ memilih,” ucap rekan wartawan lain.
Akhirnya informasi menyebar dan jamak awak media berbondong-bondong menuju ke Rumah Sakit Jiwa, yang terletak di dekat RSUD Zainal Abidin tersebut.
Sesampai di sana terlihat ada sebuah TPS dalam lingkungan RSJ. Namun, tidak ada yang spesial. Tidak ada pemilih yang memakai baju hijau ala pasien RSJ. Hanya ada petugas dan masyarakat biasa.
“Bang ini pasiennya mana? Nggak ikut milih?” Tanya salah seorang wartawan kepada salah seorang petugas di TPS tersebut.
“Nggak ada, ini TPS 1, Bandar Baru, Kuta Alam. Di sini yang memilih warga, bukan pasien,” ucap petugas yang belakangan diketahui bernama Eliansyah.
Sontak hal tersebut membuat wartawan tetawa dan tersenyum. “Kami pikir yang memilih itu pasien,” kata salah seorang awak media online lokal Aceh.
“Kalian salah dapat info ya,” ucap Eliansyah sembari ikut tersenyum.
Ternyata TPS tersebut diperuntukkan untuk warga sekitar dan bukan untuk pasien di RSJ meski TPS tersebut terletak di dalam pekarangan RSJ.
“Untung kita cek dulu kan. Begini yang benar kalau kerja di media, setiap informasi kita cek ulang. Hampir saja kita sebar hoax,” ucap salah seorang wartawan yang paling tua dalam kerumunan itu. Yang lain hanya tertawa dan tersenyum.
“Hek ta balap keuno,” kata wartawan yang lain sembari diikuti gelak tawa.[]

