LHOKSEUMAWE – Sebuah film dokudrama (dokumenter drama) berjudul “Sultan Al-Malik Ash-Shalih; Samudra Pasai di Bawah Curahan Cahaya Langit” mulai digarap oleh sejumlah sineas Aceh. Film itu ikut “dibintangi” Ketua DPR Aceh Tgk. Muharuddin. Bagaimana ceritanya?
Informasi diperoleh portalsatu.com/, pembuatan film dokudrama ini berangkat dari perpaduan ide peneliti sejarah dan kebudayaan Islam, masyarakat peduli sejarah dan sineas Aceh. Mereka ingin mengangkat kembali sebagian peristiwa sejarah Kerajaan Islam Samudra Pasai melalui reka ulang dengan cara memfilmkan. Dokudrama ini nantinya diharapkan dapat menambah pengetahuan berbagai kalangan di Aceh, terutama generasi saat ini tentang sejarah Samudra Pasai.
Ide tersebut lantas disampaikan pada Mukhtar Abdullah atau Tgk. Muh alias Aduen Jelas yang kemudian diteruskan ke Ketua DPRA Tgk. Muharuddin dan disambut dengan “tangan terbuka”. Hasilnya, lahirlah program pembuatan film dokudrama tersebut menggunakan sumber dana dari APBA dan mendapat dukungan penuh dari Center Informasi for Samudra Pasai Heritage (Cisah) dan Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa).
Tim pembuatan film itu turut memilih Tgk. Muhar—sapaan akrab Tgk. Muharuddin—sebagai salah seorang pemeran. Selain itu, Tgk. Muhar atas nama Ketua DPRA juga menyampaikan pandangannya tentang sosok Sultan Al-Malik Ash-Shalih atau sering disebut Sultan Malikussaleh, dalam film dokudrama tersebut.
“Film ini perpaduan dokumenter dan drama, jadi mendramakan ulang,” ujar Irfan M. Nur, sineas Aceh yang terlibat dalam pembuatan film dokudrama itu kepada portalsatu.com/ di Lhokseumawe, Rabu, 14 September 2016, sore.
Irfan M. Nur menyebut naskah fim dokudrama itu ditulis oleh Tgk. Taqiyuddin Muhamamd, peneliti sejarah dan kebudayaan Islam. Sedangkan produser film tersebut adalah Riswan, seorang pengusaha muda di Banda Aceh. Pembuatan dokumenter disutradarai Irfan M. Nur dan dramanya disutradarai Ayah Do “Eumpang Breueh”. Sementara musik yang mengiringi film tersebut digarap oleh Yakob Studio (Y. Studio) Banda Aceh.
Adapun narator untuk film dokumenter itu adalah Dr. Husaini Ibrahim (pakar Arkeologi Islam), Ramlan Yunus (tokoh masyarakat/kontributor penelitian sejarah), Tgk. Muharuddin (Ketua DPR Aceh), Sudirman alias Haji Uma (anggota Komite III DPD RI), Reza Pahlevi (Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata/Disbudpar Aceh), dan Zulkarnain (Kepala Bidang Sejarah Disbudpar Aceh).
Menurut Irfan, ditargetkan proses pengambilan gambar film dokudrama itu di lokasi bekas pusat Kerajaan Islam Samudra Pasai—kawasan Samudera, Aceh Utara sekarang dan sekitarnya—akan tuntas dalam sebulan. Proses shooting film dokumenter dimulai Selasa, 13 September 2016.
“Kemarin (Selasa) kita sudah melakukan pengambilan gambar Tgk. Muhar dan Haji Uma sebagai narator untuk dokumenter. Selanjutkan akan disusul proses pengambilan gambar narator lainnya,” ujar Irfan.
Selain itu, Irfan melanjutkan, juga sudah dilakukan pengambilan gambar kunjungan Tgk. Muhar dan Haji Uma ke Kompleks Makam Ratu Nahrisyah di Kuta Krueng, lalu Kompleks Makam Batee Balee, Blang Me, dan Makam Sultan Malikussalah di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Dalam kunjungan tersebut, Tgk. Muhar dan Haji Uma dipandu Ramlan Yunus, kontributor penelitian sejarah Samudra Pasai.[] (idg)


