IDI RAYEK – Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Badruzzaman Ismail, SH, M.Hum menyebutkan perpecahan sebuah bangsa, disebabkan karena hilangnya budaya yang merupakan identitas sebuah bangsa. Karenanya dia mengingatkan agar generasi muda di Aceh tidak melupakan atau menghilangkan identitasnya.

Hal ini disampaikan Badruzzaman Ismail usai membuka pelatihan Seumapa, di Kantor Kecamatan Idi Rayek, Senin, 5 Desember 2016.

“Coba kita lihat perpecahan bangsa itu terjadi karena mereka telah kehilangan identitas. Merebut materi demi kekayaan untuk (diri) masing-masing (juga) mempercepat terjadi konflik. Akan tetapi jika kita semua kembali kepada khazanah budaya, maka perpecahan itu tidak akan ada,” katanya.

Badruzzaman menyebutkan Aceh  memiliki nilai sejarah budaya yang sangat luar biasa asetnya. 

“Maka demikian mari kita olah budaya sedemikian rupa agar kita mampu mewariskan budaya itu dengan utuh kepada generasi ke depan,” ujarnya.

Demi melestarikan budaya tersebut, Badruzzaman meminta Pemerintah Aceh untuk turut mendukung aktivitas komunitas budaya, seperti Seumapa.

“Tujuan Seumapa mengembangkan dakwah. Melalui pantun, dan syair yang dilantunkan oleh komunitas yang memiliki daya tarik sendiri di setiap kalangan. Maka dalam hal ini perlu campur tangan pemerintah untuk ikut melestarikannya agar semangat keacehan terus berkibar, serta dipandag baik oleh bangsa lain,” katanya.

Sebagai catatan, Seumapa adalah budaya pantun yang dilaksanakan saat prosesi intat linto baro dan dara baro (mengantar pengantin) di Aceh. Dalam tradisi Seumapa, rombongan pengantar pengantin baru diperbolehkan masuk setelah mampu membalas pantun-pantun dari perwakilan tuan rumah. Pantun yang dirangkai dalam Seumapa biasanya berkisah tentang nasehat, humor dan tentang kiasan-kiasan kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh.[]