DI tengah terik matahari yang membakar bumi tandus semenanjung (jazirah) Arabia, Ibnu Marzuki dengan sangat bersahaja berangkat menghadap seorang yang terkenal di negeri tersebut, Syekh Ismail Al-Qari.

Mulanya, seakan-akan langkah pemuda jenius yang adalah mahasiswa pascasarjana Universitas Al-Azhar itu bukannya bergerak maju, tetapi mundur. Begitu segannya Ibnu Marzuki kepada Syekh Ismail. Meski jantung berdebar-debar ditambah perasaan acuh tidak acuh, ia membulatkan tekad, tetap melangkah hingga tiba di kediaman Syekh Ismail.

Assalamu’alaikum...,” ucap Ibnu Marzuki dua kali mengulangi salam. “Seperti tidak ada beliau,” gumamnya dalam hati.

Assalamu’alaikum…,” ucap Ibnu Marzuki lagi.

“Wa'alaikumsalam…,” jawab Syekh Ismail Al-Qari yang merupakan ahli qira’ah sab'ah yang masyhur di semenanjung Arabia itu.

Jawaban yang muncul dari balik dinding itu terasa menyejukkan hati Ibnu Marzuki. Seperti biasa, setiap tamu yang datang disilakan duduk dan dihidangkan air atau sedikit makanan. Setelah berbincang-bincang dan terlibat dialog akrab, Ibnu Marzuki mencoba mengutarakan isi hatinya. Namun, mulutnya  seakan-akan terkunci rapat. Setelah berusaha sekuat tenaga, akhirnya pemuda tampan itu mampu mengeluarlah sepucuk hasrat yang telah lama terpendam.

Dengan suara nyaris tertahan, ia mengungkapkan, “Maksud dan tujuan saya ke sini wahai Syekh, tiada lain, melainkan ingin menikahi putrimu yang mulia.”

Sebagai seorang ayah, tentu saja dengan penuh bijaksana dihiasi akhlakul karimah, Syekh Ismail tidak langsung memberi jawaban. Ia tetap mengedepankan musyawarah sebelum mengambil keputusan. Ini berbeda dengan sebagian orang tua di zaman sekarang, tanpa musyawarah dengan pertimbangan harta, pangkat atau jabatan lebih diutamakan.

Detak jantung dan perasaan Ibu Marzuki tidak beraturan dan harap-harap cemas menunggu jawaban dari Syekh Ismail. Keringat kegundahan mahasiswa semester akhir pascasarjana Universitas Al-Azhar itu tidak terhindarkan. Di tengah suasana yang tidak menentu itu, Syekh Ismail pun membuka mulutnya sambil berucap: “Saya tidak akan menerimanya hingga saya meminta izin pada putriku Siti Rahmah.”

Begitu mulia akhlak Syekh Ismail. Ia seorang ulama yang menghargai anaknya dalam hal ini. Lantas, Syekh pun menemui putrinya yang jelita dan menceritakan keinginan Ibnu Marzuki. Syekh Ismail dengan lemah lembut bertanya kepada putrinya Siti Rahmah, “Ada seorang pemuda mahasiswa Al-Azhar datang padaku dan sungguh dia telah menyebut namamu. Apakah engkau ridha dia menjadi suamimu?”

Mendengar nama sosok yang disebutkan oleh ayahnya itu dan keinginan pemuda tersebut, detak jantung Siti Rahmah melaju cepat. Apa yang terjadi kemudian?[] Bersambung