Pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, cabang angkat besi lagi-lagi mengharumkan nama Indonesia. Keberhasilan angkat besi mengangkat prestasi olahraga langsung mengundang sanjung puji. Mendadak perhatian masyarakat teralih ke cabang yang rutin menghasilkan medali bagi Indonesia sejak Olimpiade 2000 itu.
Namun, perhatian masyarakat hanya sebatas itu. Angkat besi hanya dipandang saat kejuaraan multicabang. Namun, lepas ajang multicabang itu, sorotan pada angkat besi perlahan meredup, tertutupi gempita kompetisi olahraga lain macam bulu tangkis dan sepak bola.
Padahal, usaha angkat besi untuk melahirkan prestasi bukanlah proses sekali jadi. Usaha keras itu terus dilakukan nyaris tanpa henti di sejumlah padepokan angkat besi. Usaha yang terus dilakukan bahkan hingga detik ini.
Republika berkesempatan mengunjungi salah satu padepokan yang telah melahirkan atlet angkat besi kelas dunia. Padepokan itu ada di Kota Bekasi.
Memang, akhir-akhir ini wilayah Bekasi kerap menjadi bumbu candaan dalam perbincangan masyarakat sehari-hari. Entah apa penyebabnya. Yang jelas, nama Bekasi kerap menjadi sasaran bully. Namun, siapa yang menyangka bahwa di wilayah ini pula ada sebuah lokasi yang menjadi dapur lahirnya atlet andalan Indonesia di cabang angkat besi.
Perjalanan Republika lantas sampai ke Padepokan Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI) Patriot, Kota Bekasi. Di sana, Republika bertemu dengan nama yang tak asing bagi dunia angkat besi nasional, Sodikin.
Dia adalah mantan peringkat kedua kejuaraan dunia dan posisi kelima pada ajang Olimpiade. Kini Sodikin mengabdi sebagai pelatih utama di Padepokan Patriot Bekasi.
Kepada Republika, Sodikin pun membuka perkataannya. “Saya mau ke depannya muncul Sodikin lainnya yang bisa menjadi tulang punggung Bekasi mendapatkan prestasi baik sebagai atlet angkat besi.”
Cita-cita Sodikin nyatanya bukan sekadar ide yang mengawang di atas kepala. Sebab, usaha mencetak atlet angkat besi dunia dari Bekasi sudah dilakukannya sejak kini.
Hasil didikan Sodikin pun sudah mulai terlihat. Salah satu buah dari didikan Sodikin bahkan tampil pada Olimpiade 2016 lalu, yakni Deni di kelas 69 kilogram putra. Namun sayang, Deni belum mampu membawa pulang medali.
Keluarga atlet
Tak hanya Deni yang jadi buah didikan Sodikin. Bahkan, ketiga anak Sodikin sendiri kini menjadi salah satu asa Indonesia untuk bisa berprestasi di ajang dunia.
Ketiga anak Sodikin, yakni Sonia Febriyani Lestari, Dwi Mayassah Lestari, dan Nyoman Art Ismail. Mereka kini menjadi atlet angkat besi potensial di kelasnya.
Meski bisa menurunkan generasi atlet angkat besi kepada anak-anaknya, Sodikin tidak pernah memaksa. Kendati Sodikin juga mengakui, keinginan terbesarnya adalah melihat salah satu dari anaknya mengangkat medali pada Olimpiade 2020 di Tokyo.
“Kalau itu (menjadikan anak-anak sebagai atlet angkat besiRed) saya demokratis saja, tidak memaksa. Anak saya tadinya juga mencoba hobi olahraga lain, tapi tetap jatuh cinta pada angkat besi,” ungkap Sodikin.
Tidak hanya sang anak. Istri Sodikin, Ni Made Widyani, juga merupakan mantan atlet angkat besi nasional. Jadilah keluarga ini menjadi keluarga angkat besi Indonesia.
Sodikin dan istri mendukung pilihan anak-anaknya yang secara alami juga jatuh cinta pada angkat besi. Meski begitu, Sodikin dan istrinya bukan berarti tidak menghadapi kesulitan untuk membuat anak-anaknya bisa disiplin berlatih.
Sodikin selalu mencoba profesional. Tak ada istilah bapak-anak saat latihan. Yang ada hanyalah hubungan profesional dirinya sabagai pelatih dan anaknya sebagai atlet.
Karena itu, tak jarang dia memarahi ketiga anaknya bila tak fokus berlatih. “Saya di rumah berlaku sebagai ayah yang juga mendukung mereka sabagai atlet. Namun, di tempat latihan saya murni sebagai pelatih. Di rumah, saya buat aturan, setiap pukul sembilan malam, mereka harus mengumpulkan gadget-nya,” ujar Sodikin.
Dia menilai, waktu dan kualitas tidur anak-anaknya akan terganggu jika tidak jauh dari gadget. Sementara, ketiga anaknya harus membagi waktu antara latihan dan sekolah setiap harinya.
Latihan sebagai atlet yang ia ajarkan kepada anak-anaknya tidak pernah dengan paksaan dan wajar. Selain latihan yang sesuai, Sodikin juga tidak lupa memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk bersosialisasi. Bahkan, ketika anak-anaknya merasa jenuh, dia selalu mengizinkan anak-anaknya untuk sekadar belanja, menonton film, dan menikmati hiburan agar bisa kembali fresh saat latihan.
Putri pertama Sodikin, yaitu Sonia, pernah menempati posisi ketiga di Kejuaraan Dunia Asia Angkat Besi di Uzbekistan pada 2010. Sonia mengakui bagaimana ia secara alami memutuskan menjadi atlet.
“Dulu bahkan aku awalnya itu bukan tertarik jadi atlet angkat besi tapi malah aktif jadi dancer. Akhirnya karena arahan papa, tapi bukan memaksa, ya, aku akhirnya memutuskan sendiri jadi atlet angkat besi,” ungkap Sonia.
Sonia yang pernah juga menjuarai Kejuaraan Nasional Angkat Besi 2011 itu menganggap pilihannya menjadi atlet angkat besi sudah tepat. Dibandingkan menjadi dancer, perempuan berusia 26 tahun itu menyadari menajadi atlet jauh lebih menghasilkan dibandingkan menjadi penari.
Risiko tinggi
Dibandingkan olahraga lain, Sonia merasa cabang angkat besi lebih enak. Namun, risikonya sangat besar.
Cedera berat menghantui Sonia. Mulai cedera kaki, lutut, bahkan patah tulang pernah dia alami. “Ini olahraga yang enggak semua orang bisa ngelakuinnya. Jadi seperti cedera pinggang, lutut, belikat, sampai patah tulang itu pernah dialami,” tutur Sonia. Dia terpaksa harus mengalami patah tulang tangan kanan saat latihan untuk Kejuaraan Nasional Angkat Besi di Riau pada 2007 sehingga harus berhenti latihan hingga empat bulan.
Risiko patah itu tetap dia terima demi mengangkat prestasi Indonesia di mata dunia. Risiko serupa juga siap dihadapi anak kedua Sodikin, yaitu Dwi yang berusia 19 tahun.
Dwi mengakui, menjadi atlet di usia muda membuatnya harus mengorbankan masa remaja. Dia tak bisa seperti remaja lain yang kerap wira-wiri setiap pekan.
Sebagai manusia normal, Dwi mengakui, ada kejenuhan yang sesekali melanda. Namun, dia sadar, posisinya berbeda dengan remaja pada umumnya. Sebagai olahragawan, dia sadar misi utamanya kini bukan untuk bersenang-senang, melainkan berjuang.
“Jenuh kadang memang terasa. Tapi daripada sebagai anak muda cuma bisa main sana-sini tanpa menghasilkan, mending kayak aku kan. Prestasi dan penghasilan ada,” tutur Dwi.
Berkat pengorbanan itu, prestasi kini perlahan dia torehkan. Lima tahun lalu, Dwi memetik prestasi pada kejuaraan junior angkat besi dunia di Australia. Dwi berhasil membawa satu emas untuk kelas remaja, satu emas kelas junior, dan satu perunggu untuk kelas senior se-Arafura.
Kini Dwi pun menjadi salah satu atlet potensial Indonesia yang siap unjuk prestasi. Putra ketiga Sodikin, Nyoman, juga tak ingin kalah dari kedua kakaknya. Remaja yang masih berusia 15 tahun itu kini menjadi atlet angkat besi pemula.
Satu cita-cita Nyoman adalah mengikuti jejak prestasi sang ayah. “Temannya Papa yang juga pelatih pernah bilang kalau aku harus melampaui prestasi Papa. Kalau masalah enggak bisa jalan-jalan karena harus latihan, itu risiko, tapi aku juga jadi lebih punya banyak waktu sama keluarga kan,” ungkap Nyoman.
Apa yang diungkapkan Nyoman jadi sepetik bukti pengorbanan atlet-atlet angkat besi. Mereka siap mengorbankan segalanya demi prestasi Indonesia. Walau tanpa sorotan kamera, para pejuang olahraga ini tak lelah mengangkat barbel yang memiliki bobot ratusan kilogram.
Patah kaki, ragam cedera, hingga kehilangan masa remaja tak sedikit pun menghalangi motivasi para atlet angkat besi, termasuk putra-putri Sodikin. Sebab, misi meraih prestasi telah menjadi harga mati. Harga mati yang kini dipikul satu keluarga di sudut Kota Bekasi.[]Sumber:Rahayu Subekti/republika

