Oleh: Irfan
MENGUBAH nasib tentu menjadi cita-cita semua orang sejak ia mampu berpikir secara normal. Berangan-angan agar menjadi “orang” sukses di masa depan sampai bercita-cita mampu mengubah dunia jika dewasa kelak. Semua kita tentu memiliki itu sejak kecil, kelak suatu saat ia akan menggapainya.
Tentu saja itu bukan hal yang terlarang dan tidaklah mustahil untuk terwujud. Namun terkadang di alam kenyataan, semua yang pernah kita cita-citakan adalah hanyalah sia-sia. Ada yang tercapai tetapi dalam konteks yang tidak seuai harapan, dan ada juga terwujud sebagaimana pernah kita harapkan.
Namun, hal paling penting bagi setiap orang yang ingin cita-citanya tercapai adalah ketekunan dan kepercayaan diri. Kedua hal inilah mengantarkan banyak orang yang bukan siapa-siapa dulunya menjadi “orang” dikemudian hari.
Berbicara ketekunan dan kepercayaan diri inilah apa yang ingin saya sampaikan dalam coretan ini. Terlahir dari keluarga yang tidak berpendidikan tinggi, bukanlah penghalang bagi saya dikemudian hari bergaul dengan orang lebih jauh tingkat pendidikannya dari saya. Hemat saya, kuncinya adalah satu, untuk apa kita bergaul dengan orang-orang hebat itu? Tujuan bergaul dengan mereka adalah untuk mendapat ilmu, maka itu akan sangat mudah jalannya.
Karena pada dasarnya orang-orang berpendidikan tinggi adalah mereka yang gemar menurunkan ilmu untuk siapa saja. Tidak memandang kepada siapa pun ia sedang berbagi. Apalagi sampai berpikir berapa biaya yang telah dihabiskannya untuk mengeyam pendidikan. Itu bukanlah tabiat yang digemari orang berpendidikan. Inilah yang kemudian mengarahkan saya untuk terus belajar dan lebih percaya diri karena termotivasi dari orang-orang hebat tersebut.
Sejak duduk di bangku SMA, saya suka dan ingin lebih tahu tentang bidang menulis. Tahun 2007 hingga 2010 saat menjabat ketua Forum Anak Aceh Besar di bawah binaan Unicef, PKPA, dan Dinas Sosial Aceh adalah masa di mana saya sering mengikuti pelatihan jurnalistik dan pelatihan penyiaran. Sehingga pada tahun 2009 pernah menjadi bagian tim wartawan anak pada Majalah Aneuk Aceh yang dibina Unicef dan Dinas Sosial Aceh. Mungkin, inilah secuil pengalaman awal dalam dunia kepenulisan saya.
Menjadi seorang santri, bukanlah penghalang bagi kita untuk bercita-cita mengubah dunia sebagaimana apa yang diinginkan orang lain juga. Jika dulunya orang menganggap bahwa santri tidak memiliki masa depan yang cerah, maka orang yang hidup di era modern seperti ini harus membuang jauh-jauh pemikiran tersebut, kalau ia ingin dianggap sebagai orang yang dapat berfikir cerdas.
Menghubungkan santri dengan dunia kepenulisan, sungguh banyak hal yang dapat ditulis oleh santri. Karena, setiap hari dan malam aktivitas santri adalah belajar. Selesai dari belajar, ia dapat menulis apa yang telah dipelajarinya ke dalam sebuah buku catatan, dan kemudian hari dirangkum dalam bentuk buku atau sebagainya.
Begitu juga seorang santri yang memiliki kecerdasan dan tingkat ilmiah lebih tinggi. Dia dapat menulis apa saja pengetahuan yang baru ia dapatkan dari guru atau buku yang dibacanya dalam sebuah catatan penting, hingga disusun dengan baik agar menjadi bentuk buku. Atau, bagi seorang yang memiliki imajinasi tinggi dalam merangkai kata, tentunya dapat dimanfaatkan untuk mengarang cerpen, puisi atau novel bernuansa santri.
Jika seorang santri gemar dalam mengikuti perkembangan peristiwa di sekitar kehidupannya sehari-hari, tentu dia bisa menuliskan peristiwa tersebut dalam bentuk berita maupun citizen reporter. Masih banyak lagi kejadian-kejadian yang kita alami sehari-hari yang dapat dicurahkan dalam bentuk karya tulis positif. Lalu kita teruskan karya tulis tersebut di media sosial agar bermanfaat bagi orang banyak.
Seperti saya alami pada 24 Agustus 2016 lalu, mendapat undangan dari panitia Workshop Kepenulisan Santri Pondok Pesantren se-Aceh. Karena tingginya antusiasisme santri yang mengikuti workshop itu, H. M. Daud Pakeh, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, ikut “memancing” semangat santri yang mengikuti acara tersebut dengan menjanjikan peluang magang secara gratis ke Banten pada POSPENAS VII.
Mendengar “pancingan” tersebut, terbesit dalam hati saya, bahwa di antara peserta dalam ruangan ini, tentu ada orang yang jauh lebih baik dari saya. Namun seketika pikiran saya berubah dan bertekad untuk turut mengambil kesempatan emas ini. Kepercayaan diri, membuat saya menjadi lupa bahwa orang lain lebih hebat dari saya. Dan yang ada dalam pikiran saat itu adalah, saya harus mencoba, dan harus percaya diri. Berberapa karya tulis yang disyaratkan panitia pun saya penuhi.
Ternyata janji orang nomor satu di Kantor Wilayah Kemenag Aceh itu adalah sebuah keseriusan yang luar biasa terhadap kemajuan santri. Alhasil, berbagai usaha yang telah saya tempuh tersebut mengantarkan saya ke Provinsi Banten, bersama dengan kontingen Aceh untuk mengikuti Pekan Olahraga Seni Pondok Pesantren Nasional (POSPENAS) VII.
Setelah beberapa hari berada di Banten, dan ikut meliput berbagai aktivitas santri Aceh di even tiga tahunan ini, saya mendapat berbagai macam pengalaman baru. Di antaranya cara mengolah hasil pertandingan menjadi bentuk berita dalam waktu yang relatif cepat, hingga pengalaman bagaimana mewawancarai narasumber.
Di sini juga saya menyadari masih sangat banyak hal yang harus saya pelajari tentang dunia kepenulisan. Bagaimana mengawali sebuah karya tulis, hingga memikirkan bagaimana karya tulis ini layak untuk saya simpan dalam dokumen pribadi, dan layak untuk dikonsumsi masyarakat luas. Kuncinya adalah mau belajar, mau berbuat (menulis) dan percaya diri.[]
* Irfan, santri Dayah Darul Aman Lubok Sukon, Aceh Besar. Jurnalis Santri Binaan Kanwil Kemenag Aceh yang Meliput Pospenas VII tahun 2016 di Banten.



