YERUSSALEM – Wanita Palestina berusia 53 tahun terbunuh dalam serangan udara yang dilakukan jet Israel di Jalur Gaza, kemarin. Serangan digelar menyusul kontak senjata terburuk antara kelompok Palestina dan aparat Israel sejak Perang Gaza 2014. 

Juru bicara Kementerian Kesehatan Jalur Gaza Ashraf al-Qedra mengatakan, wanita tersebut diketahui bernama Zeina Al Omor. Selain Zeina, sejumlah warga Palestina lain turut terluka. 

Serangan Israel dimulai pada Rabu dan dilanjutkan pada Kamis dini hari. Serangan menargetkan empat target di utara Gaza. Pada Kamis kelompok Jihad Islam mengaku bertanggungjawab atas serangan mortar ke Israel. 

Di tempat terpisah, juru bicara militer Israel berhasil menemukan empat terowongan di selata Gaza di kedalaman 27-29 meter. Tidak jelas berapa jauh terowongan tersebut. Ini merupakan terowongan kedua yang ditemukan Israel dalam satu bulan terakhir.

Sebelumnya dikabarkan, Israel ingin menguasai wilayah besar Tepi Barat yang diduduki di dekat perbatasan dengan Yordania. Langkah ini kemungkinan akan memperburuk ketegangan dengan sekutu Barat dan menarik kecaman internasional.

Dalam surat elektronik yang dikirim ke Reuters, COGAT, sebuah unit dari Departemen Pertahanan mengatakan keputusan politik untuk merebut wilayah itu telah diambil. Wilayah Tepi Barat tersebut telah berada di tahap akhir untuk dinyatakan sebagai tanah negara.

Perampasan ini, pertama kali dilaporkan oleh Radio Israel. Daerah itu meliputi 154 hektar wilayah di Lembah Yordania dekat Yerikho. Di wilayah tersebut Israel telah memiliki banyak peternakan dan membangun permukiman.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengeluarkan pernyataan pada Rabu (20/1), yang mengecam perebutan wilayah tersebut. Ini disebut sebagai perampasan terbesar di Tepi Barat sejak Agustus 2014.

“Kegiatan permukiman merupakan pelanggaran hukum internasional dan bertentangan dengan pernyataan publik dari Pemerintah Israel yang mendukung solusi dua negara terkait konflik,” ujar Ban dalam sebuah pernyataan.

Wilayah yang direbut tersebut terletak di dekat ujung utara Laut Mati. Palestina mengecam rencana perampasan tersebut pada Rabu. Amerika Serikat juga menentang keras tindakan mempercepat perluasan permukiman tersebut pada Rabu. Juru bicara Departemen Luar Negeri Mark Toner mengutuk langkah itu.

“Kami percaya mereka secara fundamental sangat tidak sesuai dengan solusi dua negara dan mempertanyakan komitmen pemerintah Israel untuk solusi dua negara,” kata Toner.

Kelompok anti-permukiman Israel, Peace Now, mengatakan perampasan wilayah merupakan yang terbesar di Tepi Barat sejak dua tahun lalu. Terakhir Israel merebut 400 hektar lahan di Tepi Barat pada 2014, sebuah langkah yang menarik kritikan internasional.

Israel telah merebut banyak wilayah Palestina sejak Perang Timur Tengah pada 1967. Padahal Palestina berencana mendirikan negara dengan meliputi wilayah Tepi Barat, Gaza dan Yerusalem Timur.[]Sumber:republika