BANDA ACEH – Calon gubernur Aceh periode 2017-2022 diharapkan tidak membuat gaduh masyarakat dengan klaim yang dibuat, karena hal ini dapat menganggu masyarakat. Siapapun yang terpilih nanti untuk menjadi Gubernur Aceh, maka pihak yang kalah harus menerima kekalahan.

Demikian kata Kordinator Political club prodi Ilmu Politik FISIP Unsyiah, Munawwar, 20 Februari 2017. Menurutnya, mekanisme yang ditempuh untuk mengasilkan satu pasangan yang terpilih, sudah sesuai konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu melalui pemilihan secara langsung dan pasangan yang terpilih ini merupakan pilihan masyarakat Aceh.

“Keenam pasangan kandidat Gubernur Aceh merupakan sosok-sosok yang luar biasa, yang memiliki dedikasi tinggi agar masyarakat Aceh menjadi lebih baik, kendati demikian pasangan yang kalah tidak boleh berkecil hati, karena pada dasarnya mereka juga masih memiliki peluang untuk melaksanakan pengabdian walaupun bukan melalui prodesur kepimpinan untuk menjadi orang nomor satu di Aceh,” katanya, dalam siaran pers.

Menurut Munawwar, program-program mereka masih bisa dilaksanakan walaupun dengan kapasitas terbatas, namun hal tersebut tidak menutup kemugkinan apabila hasil yang diperoleh akan cukup baik.

“Keenam Paslon tersebut merupakan orang-orang terpilih, dan memiliki niat tulus untuk mesejahterakan dan memakmurkan masyarakat, dan tidak memiliki kpentingan ptibadi ataupun kepentingan kelompok. Maka apapun hasilnya nanti, itu merupakan pilihan publik ataupun masyarakat. Kita tunggu saja hasil resmi yang dikeluarkan oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP), jangan ada kegaduhan lagi,” kata Munawwar.[]