BANDA ACEH – Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila. Presiden Jokowi juga menetapkan hari kelahiran Pancasila pada 1 juni sebagai hari libur nasional.
Penetapan hari kelahiran lambang negara ini menuai reaksi positif dari sejumlah netizens Indonesia. Apalagi belakangan hari, Indonesia sedang dilema kebhineka tunggal ika-an pasca kasus penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, disusul pembubaran organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan kisruh berbau SARA di Kalimantan Barat dan Papua.
Lalu bagaimana sikap warga Aceh mengenai penetapan Hari Lahir Pancasila ini?
Razie Mohammad, misalnya. Aktivis muda Aceh ini menuliskan kenangan yang tidak bisa dilupakan ketika berbicara tentang Pancasila.
“Ingat Pancasila, ingat keunong trom, teupuk, sipak, tampa, gituk, jigeuti bak boh idong, cutit, dll. Mohon ditambah teman-teman kalau ada nostalgia yang lain….” Tulis Razie di akun facebooknya, Jumat, 2 Juni 2017.
Apa yang disampaikan Razie ini diduga terkait dengan pengalaman mayoritas warga Aceh saat dilanda konflik masa lalu. Saat itu, Pancasila merupakan momok yang harus dihafal seluruh warga Aceh pemilik KTP Merah Putih agar bisa leluasa melewati pos-pos tentara dan polisi. Jika satu sila saja terlupakan, maka nasib mereka akan seperti yang ditulis Razie di akun facebooknya: disepak, ditampar dan hal buruk lainnya.
Maka menghafal seluruh sila dalam Pancasila sangat wajib bagi masyarakat Aceh saat itu.
Berbeda dengan Razie, hal lain ditulis Muhammad MTA, salah satu Komisioner KKR Aceh. Dia memandang makna Pancasila secara luas termasuk mengenai polemik lahirnya Pancasila dan Islam.
“Dalam dua hari ini polemik lahirnya Pancasila bergulir “memanaskan” jagad maya, diawali dengan “Saya Indonesia, Saya Pancasila.” Muhammad MTA membuka tulisan di akun facebooknya, Jumat dinihari tadi.
Dia melanjutkan, “hal yang paling menarik sebenarnya dari debat kusir ini adalah ketika publik tergiring kepada seakan-akan yang Pancasilais anti Islam dan Islam anti Pancasila. Padahal kedua pemahaman ini berada pada wilayah arsiran sama yaitu demi keutuhan bangsa dan negara.”
Muhammad MTA kemudian menuliskan, “saya sangat tidak menarik membahas debat yang sangat tidak mendidik ini, yang apabila debat ini tidak berorientasi kepada menjawab problematika anak-anak jalanan yang semakin liar dan sudah berani membantai orang di setiap persimpangan, anak-anak putus sekolah tanpa rumah dan tidur di kolong-kolong jembatan, orang-orang fakir miskin yang nyenyak di gerobak-gerobak dorong beratap dan beralas karton barang-barang mahal, yang kadang basah kuyup karena hujan dan dinginnya malam sampai pagi menjelang. Atau mereka yang terlelap di teras-teras kaki lima pertokoan di kota besar dengan perut kelaparan dan belum tau besok pagi di tempat sampah restoran atau warteg mana sarapan harus mereka dapatkan.”
Lebih lanjut, mantan aktivis 98 ini menulis, “saya sangat tidak nyaman untuk berdebat Pancasila karena pemegang amanah falsafah negara justru sangat tidak memahami pilar-pilar yang sedang mereka dengungkan seantero NKRI, karena nyatanya dari gedung-gedung itu juga masalah kebangsaan lahir dan membuat penjara-penjara sesak oleh mereka sendiri karena melanggar “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.” Butuh waktu yang sangat singkat sebenarnya untuk membuat setiap kita memahami Ketuhanan Yang Maha Esa. Yaitu memperbaiki hubungan kembali dengan Tuhan, agar kita bisa memahami hakikat berbangsa dan bernegara.”
Muhammad MTA kemudian menutup tulisannya dengan “Saleum Ramadhan Karim”.
Hal lebih kritis justru ditulis Fadhli Abdullah, politisi Hanura yang juga mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Fadhli yang lebih dikenal dengan Petrus alias Reungkom alias Bang Prosa ini justru menilai Pancasila dari sisi negatif, sesuai pengalamannya pada masa konflik dulu.
“Teungku Ahmad Dewi, Teungku Bantaqiah, Teungku Abdullah Syafei, dibunuh atas nama Pancasila. Itu yang mampu saya pahami tentang PANCASILA,” tulis Fadhli.
Itu pendapat mereka, bagaimana dengan Anda?[]



