MEKKAH – Wukuf dapat bermakna hibernasi. Yakni, proses mengistirahatkan diri untuk mengoptimalkan kembali fungsi rohani dan ragawi. Kesediaan menahan kepenatan dalam melaksanakan rukun Islam kelima ini adalah wujud penegasan diri sebagai hamba yang hanya berserah kepada Sang Maha Kuasa.

“Kesabaran berpanas-panas di Arafah adalah energi yang menghubungkan manusia dari berbagai latar belakang ke dalam satu ikatan ummatan wahidah,” kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam sambutan jelang kutbah wukuf di Padang Arafah, Minggu, 11 September 2016.

Lukman mengatakan, sebesar apa pun perbedaan di antara umat Islam, apa pun latar belakangnya, dari mana pun asalnya, sejatinya semua ingin berkomunikasi dengan pesan yang sama kepada Allah SWT, yakni diakui sebagai seorang muslim di mana seorang yang berserah diri kepada ajaran Allah SWT demi mewujudkan keselamatan dan kedamaian, wa ana minal muslimin.

“Di Arafah ini lah, umat muslim menyempurnakan makna syahadat yang setiap hari diucapkan, Asyhadu Allah Ilaha Illallah wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah,” ujar Lukman yang juga amirul hajj ini.

Lukman menambahkan, melalui penyelenggaraan ibadah haji yang terlihat dan dirasakan secara kasat mata ini, diharapkan seluruh jemaah haji meraih haji mabrur. Kemabruran haji dapat dilihat dari dua dimensi yaitu hablum minallah dan hablum minannas.

Dalam konteks hablum minallah, kemabruran haji tercermin dari meningkatnya keimanan, ketakwaan dan ketaatan kepada Allah SWT. Sementara itu, dalam konteks hablum minannas, kemabruran haji tercermin dari semakin meningkatnya keshalehan sosial.

“Kemabruran haji sangat tergantung dari perilaku individu dalam mengamalkan dan menebar kebenaran, kebaikan, dan kedamaian dalam kehidupan sosial,” ujar menag.

Wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah 1437 Hijriah adalah puncak pelaksanaan ibadah haji. Namun, ibadah haji tidak berakhir di Arafah ini.

Haji, menurut Lukman, merupakan syiar Islam terbesar. Tidak ada peristiwa yang menandingi ibadah haji yang menghimpun jutaan umat manusia dari berbagai suku bangsa dan negara di seluruh dunia untuk hadir dan berkumpul secara serentak di tempat yang sama dalam waktu bersamaan.

“Haji merupakan prosesi keagamaan terbesar sepanjang sejarah kemanusiaan sejak dari masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang,” ucapnya.[]Sumber:viva.co.id