DEKRALASI paket Illiza Sa'aduddin Djamal dan Farid Nyak Umar sebagai bakal Cawalkot dan Cawawalkot Banda Aceh pada PILKADA 2017 menunjukan selangkah lebih maju dibandingkan kandidat lainnya. Dibuktikan dengan tiket masuk dari partai pengusung secara adminitrasi sudah melebihi syarat yang diamanahkan UU, partainya meliputi; Partai Aceh (4 kursi), Partai Keadilan Sejahtera (4 kursi), Partai Persatuan Pembangunan (3 kursi), Partai Damai Aceh (1 kursi) total kursi 12 dari berbagai latar belakang partai politik.
Ditinjau dari total jumlah suara PKS (8,41%), PA (11,35%), PPP (9,15%), PDA (6,22%). Total akumulasi suara dari partai pengusung pasangan Illiza Sa'aduddin Djamal dan Farid Nyak Umar berjumlah 35,13%. Tentunya modalitas poitik yang cukup besar sekali secara dukungan partai. Ini akan menjadi pertimbangan dari para lawan politik untuk berpikir keras membuat strategi mengalahkan Illiza dan Farid.
Tapi perlu diwaspadai jika terjadi konsolidasi ppartai politik yang tersisa diluar partai pengusung lliza, meliputi Partai Demokrat (5 kursi), Partai Nasdem (4 kursi), Partai PAN (3 kursi), Golkar (3 kursi), dan PKPI (1 kursi). Total perolehan suara yang sah dari partai sisa berjumlah 42,73%. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi koalisi besar yang mengusung paket tersendiri untuk melawan petahana (Illiza Sa'aduddin Djamal). Pertanyaan mendasarnya adalah apakah mampu terjadi koalisi besar dengan berlatar belakang berbeda kepentingan di masing-masing partai tersebut?
Bisa saja sebaliknya partai sisa terpecah menjadi beberapa pasangan calon. Bilamana itu terjadi pihak yang diuntungkan yaitu Illiza. Para calon yang berkeinginan menjadi walikota Banda Aceh masih muka lama yaitu Irwan Djohan dan Aminullah Usman.
Hal lain patut dicermati adalah dengan bermunculan para kandidat dari kalangan independent akan menggerus suara dari Illiza Sa'aduddin Djamal. Mereka terdiri dari; pasangan Marniati-Amiruddin Usman Daroy dan Pasangan Adnan Beuransayah-Umar Rafsanjani.
Di sisi lain paket Illiza Sa'aduddin Djamal dan Farid Nyak Umar dapat dibaca secara perkawinan politik kesukuan, dimana latar belakang keluarga Illiza berasal dari Aceh Besar sedangkan Farid berasal dari Pidie. Dalam konteks itu penduduk di Banda Aceh sangat besar kedua suku tersebut.
Memahami perilaku politik tentunya sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri secara matang dibandingkan kandidat lainnya. Karena posisi petahana sangat diutungkan sekali dari akses pemerintahan, ekternal, dan pendukung lainnya. Bentuk persiapan yang dilakukan Illiza mulai membangun basis berbagai komunitas, tim pemenangan, dll.
Terkait dengan dukungan masyarakat Banda Aceh terhadap dirinya sangat besar sekali, jika dilihat dari hasil survey. Berdasarkan survei Nasdem, Illiza menempati posisi tertinggi yang mencapai 35 %. Disusul oleh Irwan Djohan 18%, dan Aminullah Usman 15%. Sedangkan hasil survey Partai Demokrat Iliza menduduki posisi puncak berjumlah 47,7%.
Namun faktor yang sangat berpengaruh mengalahkan Illiza yaitu sosok memiliki elektabilitas yang tinggi, bisa juga dari duet maut pasangan calon. Bagi kandidat lain sulit harus mengejar Illiza, tetapi masih terbuka peluang untuk meningkatkan elektabilitas dari lawan (kandidat) lainnya untuk mengalahkan Illiza. Itu semua sangat tergantung dari strategi yang dilakukan para kandidat penantang Illiza.
Di akhir komentar saya ingin bilang pesan tersirat di publik Banda Aceh deklarasi Illiza Sa'aduddin Djamal dan Farid Nyak Umar menunjukkan langkah maju dibandingkan dengan lawan politiknya yang belum deklarasi dari kendaraan partai politik. Mulai dari awal hingga deklarasi selalu maju. Ini menunjukan kerja-kerja membangun komunikasi politik Illiza lebih baik dengan berbagai partai politik. Satu hal terakhir Illiza Sa'aduddin Djamal sosok yang sulit dikalahkan. Perlu ekstra kerja keras mengalahkan perempuan yang tangguh ini.
Aryos Nivada
Direktur Eksekutif Politik Desain
Penulis Buku Wajah Politik dan Keamanan Aceh

