Mendengar kabar kedatangan Muda Balia di Banda Aceh membuat kita bertanya-tanya mengapa ada dua Muda Balia.
Bergerak dari rasa penasaran yang besar sebagai orang muda yang mencintai kesenian leluhur Aceh, maka kami pun mulai menelusuri jejak sosok Muda Balia yang kami anggap sebagai tokoh kunci sejarah perjalanan keberangkatan kesenian teater tutur Dangdeuria ke Pentas Sagoe.
Walau berita hanya sebatas sebuah jpeg poster yang di share melalui akun sosmed Apa Kaoy, yang sengaja dihadirkan di kegiatan Pentas Sagoe yang didanai oleh program tahunan UPTD Taman Budaya Aceh beberapa hari lalu, itulah awal mula kami menelusuri jejak keberadaan pertunjukan yang digagas oleh almarhum Muhammad Yahya, atau lebih dikenal dengan nama panggung bergelar Mak Lapee.
Kehadiran Muda Balia yang dianggap sebahagian kalangan seniman sebagai duo superstart Muda Balia, telah membangkitkan rasa ambigu dan ingin tahu siapakah gerangan Muda Balia tersebut.
Untuk meminimalisir kebimbangan atau akan bangkitnya rasa konflik pertanyaan dengan kehadiran dua tokoh, yang sama-sama pernah mementaskan teater tutur Hikayat Dangdeuria di arena Pentas Sagoe Apa Kaoy, maka kami pun mencoba mewawancarai tokoh Muda Balia Manggeng yang sengaja dicantumkan oleh penyelenggara agar mudah membedakan Muda Balia Manggeng dan Muda Belia Bakongan.
Kami pun bertanya mengapa kedua tokoh pelaku teater tutur dari selatan ini punya nama yang sama?
Menyimak penggambaran fenomena dua nama pelaku teater tutur dari Abdya (dulu dikenal dengan Kabupaten Aceh Selatan) di malam penyelenggaraan Pentas Sagoe pada Sabtu, 16 April 2016 pukul 20:40 WIB, yang diwarnai dengan suguhan penampilan tari penari cilik Meuseukat dari sanggar Keumala Intan, tari Rapai Geleng sanggar Al-Funun dari Dayah Terpadu Insyafuddin serta penyampaian kisah perjalanan Pentas Sagoe dan Pentas Teater Tutur Hikayat Dangdeuria Berkisah Boh Lam On, yang ditampilkan secara acak oleh Muda Balia bin Muhammad Yahya alias Mak Lapeh yang dikutip dalam kisah kapten Banta dalam kisah cerita Dangdeuria sebagai acara inti dalam pagelaran pentas sagoe.
Akhir pagelaran itupun dibuka dengan sesi diskusi yang dipandu oleh M. Yusuf Bombang nama asli dari Apa Kaoy sang pemilik Pentas Sagoe. Tampak hadir Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi, Kepala UPTD Taman Budaya Aceh Suburhan, Kepala Bagian Pengkajian Sejarah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Zulkarnaen, serta budayawan Barlian AW, Safrizal debus, Muhrizal, Helmi Hass, Thayeb Loh Angen, D' Kemalawati, Nab Bahany, Tzulfajri, Ody Nugraha, Darmen, dan tokoh-tokoh muda penggiat kesenian Banda Aceh.
Rangkaian pertunjukan berakhir dalam diskusi Minggu, 16 April 2016 malam.
Intisari dari kehadiran Muda Balia Manggeng adalah pada kenyataan sejarah perjalanan munculnya pelaku teater tutur Hikayat Dangdeuria secara panggambaran sejarah yang terputus-putus, telah memunculkan tokoh-tokoh penerus pelaku kesenian teater tutur Hikayat Dangdeuria.
Dari tokoh yang muncul dalam frame kesenian teater tutur hikayat dangdeuria yang memiliki nilai orisinalitas tinggi ini, ternyata Mak Lapee telah melahirkan beberapa tokoh penutur. Salah satunya adalah almarhum Tengku Adnan PMTOH yang mulai berkeliling Aceh bermain teater tutur pada 1957.
Tokoh selanjutnya adalah Muda Balia bin Muhammad Yahya atau lebih dikenal sebagai anak kandung dari Mak Lapee. Kemudian Muda Balia bin Syafi'i binti Rusna, yang sudah mengharumkan nama Aceh dengan menyelesaikan penampilan untuk penghargaan rekor MURI, dengan bermain selama 26 jam pada acara mengenang bencana gempa dan tsunami pada 26 Desember 2010 lalu.
Catatan ini pun akan mengupas persoalan kehadiran almarhum Tengku Adnan PMTOH dan Muda Balia Manggeng, yang berguru secara langsung kepada Mak Lapee. Walau Muda Balia Bakongan hanya belajar pada gurunya Zulkifli, atau lebih dikenal dengan panggilan bang Zul dan Zulkifli pun belajar dari Mak Lapee walau tidak secara langsung. Namun dalam eksistensi berkesenian, dalam bentuk pertunjukan bagi ketiganya masih sama-sama memiliki nilai bentuk yang orisinil, dari setiap pertunjukan hanya dibedakan dalam bentuk pengemasan model bentuk pertunjukan.
Sementara Tengku Adnan PMTOH telah banyak mereformasi segala bentuk property. Dari semula hanya menggunakan pelepah kelapa dan bantal berbalut tembikar sebagai property dasar, telah berkembang menjadi berbagai bentuk seperti penambahan corak warna kostum–penanda penokohan dari bangsawan, panglima, serta rakyat jelata–sampai kepada perubahan musikalitas yang awalnya hanya seruling atau bansi berganti menjadi instrumen rapaii dan senjata mainan yang berbunyi.
Di sisi teknis itulah kita dapat menjadikan beberapa pertunjukan teater tutur terbagi dalam beberapa nilai penawaran bentuk. Apa yang ditawarkan oleh Tengku Adnan PMTOH, apa yang ditawarkan oleh Muda Balia bin Muhammad Yahya alias Mak Lapee, atau apakah penawaran bentuk yang disampaikan oleh Muda Belia bin Syafi'i binti Rusna dari Bakongan.
Hal yang jelas dari semua bentuk pertunjukan itu terdapat polarisasi yang sama. Itu terlihat dari skema irama, pembagian teks cerita dan penabalan penokohan tokoh dalam unsur dialog.
Dari semua penelitian yang kami kumpulkan, maka kami pun berkesimpulan bahwa bentuk asli pertunjukan Dangdeuria asli ada pada Muda Balia bin M. Yahya alias Mak Lapee. Pertunjukan ini kemudian diperbaharui oleh Tengku Adnan PMTOH.
Lalu melihat fenomena pertunjukan yang dibawakan Muda Balia bin M. Yahya dalam nada emosi–akibat perjalanan beliau yang sekian tahun–yang dimulai debut karir pertunjukannya pada acara PKA 1997 di Banda Aceh. Popularitasnya kemudian redup akibat banyak pelaku kesenian di Aceh merasa kehilangan kontak.
Tetapi kemudian persoalan tersebut bisa kami redam setelah berdiskusi pajang lebar pada 16 April 2016 malam. Selaku penikmat seni teater tutur kami bisa menyerahkan segala catatan perjalanan atas keterbatasan ruang gerak Muda Balia bin M. Yahya kepada pandangan audies di kemudian hari.
Intinya, apa yang dikhawatirkan dari pengembangan kesenian teater tutur Hikayat Dangdeuria secara pemikiran secara perlahan telah terjawab oleh waktu. Dan kunci penokohan, siapa sebenarnya tokoh sejarah teater tutur Aceh kembali muncul dengan bantuan M. Yusuf Bombang alias Apa Kaoy, yang telah menghadirkan Muda Balia Manggeng.[]
Penulis adalah Rasyidin, S.Sn, Tim peneliti Teater Tutur Aceh yang menyelesaikan pendidikan studi teater di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung. Rasyidin juga tercatat sebagai Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Aceh dan Dosen Prodi Teater ISBI Aceh







