PEMILIHAN Umum Kepala Daerah Aceh kian dekat. Sejumlah tokoh mulai mengumumkan niatnya mencalonkan diri pada pesta demokrasi tahun 2017 mendatang. Diantara mereka ada yang pernah menjabat sebagai Gubernur Aceh, Penjabat Gubernur Aceh, petahana dan ada juga yang benar-benar pemain baru.
Dari sejumlah nama yang bakal mencalonkan diri tersebut, ada yang dinilai serius dan ada pula yang terkesan hanya sekadar ajang menguji elektabilitas popularitas mereka di mata publik. Diantara mereka yang serius ini acap kali menegaskan keinginannya untuk menjadi Gubernur Aceh periode 2017-2022 dalam berbagai kesempatan, baik di hadapan masyarakat maupun kepada media. Beberapa figur baru bakal calon kepala daerah itu juga ada yang sudah memasang spanduk di sudut-sudut kota, di Aceh.
Dari sejumlah nama yang dinilai serius mencalonkan diri menjadi Gubernur Aceh ini tersebutlah Zaini Abdullah, Irwandi Yusuf, Muzakir Manaf, Tarmizi Karim, TM Nurlif, Abdullah Puteh dan Zakaria Saman. Ketujuh orang ini memiliki track record masing-masing yang mampu menjadi bekal untuk menghadapi pemilu mendatang. Sebagai informasi publik, berikut hasil penelusuran portalsatu.com dari berbagai sumber mengenai beberapa sosok calon kepala daerah Aceh yang bakal meramaikan pesta demokrasi mendatang yang disusun berdasarkan huruf abjad:
Abdullah Puteh
Abdullah Puteh lahir di Meunasah Arun, Aceh Timur pada 4 Juli 1948. Dia merupakan mantan Gubernur Aceh periode 2000-2004. Berdasarkan penelusuran portalsatu.com, tidak banyak referensi yang ditemukan mengenai sosok suami Marlinda Purnomo ini di dunia maya.
Catatan terbanyak mengenai Abdullah Puteh justru terkait kasus yang pernah membuatnya tersandung hingga terpaksa menginap di “Hotel Prodeo” pada 7 Desember 2004 lalu. Puteh saat itu dituduh melakukan korupsi dalam pembelian helikopter PLC Rostov jenis MI-2 senilai Rp 12,5 miliar.
Pada 11 April 2005, Puteh divonis hukuman penjara 10 tahun oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Saat vonis hakim dibacakan, Puteh berada di rumah sakit karena baru selesai dioperasi prostatnya. Segera setelah putusan tersebut dikeluarkan, Departemen Dalam Negeri memberhentikan Puteh sebagai Gubernur.Sebelumnya Puteh hanya dinonaktifkan sementara sejak 26 Desember 2004. Dia kemudian menjadi penghuni Rutan Salemba, Jakarta dan baru dibebaskan pada 2010. (Baca: Catatan Hitam Abdullah Puteh; Pernah Tersandung Kasus Korupsi Pengadaan Helikopter dan…)
Irwandi Yusuf
Irwandi Yusuf lahir di Bireuen, 2 Agustus 1960 adalah mantan Gubernur Provinsi Aceh. Irwandi merupakan alumni Sekolah Penyuluhan Pertanian di Saree. Dia juga tercatat sebagai lulusan Faktultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh pada 1987. Dua tahun setelahnya Irwandi Yusuf diangkat menjadi dosen di FKH Unsyiah.
Irwandi Yusuf kemudian memperoleh beasiswa untuk melanjutkan S-2 di College of Veterinary Medicine State University (Universitas Negeri Oregon), Amerika Serikat. Suami Darwati A Gani ini kemudian disebut-sebut terlibat dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan ditangkap pada awal 2003. Irwandi yang kemudian diadili karena dinilai melakukan makar tersebut kemudian divonis penjara selama sembilan tahun.
Bencana tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 lalu membuatnya berhasil lolos dari penjara Keudah, Banda Aceh. Ayah Putroe Sambino ini kemudian melarikan diri ke Finlandia hingga akhirnya terlibat dalam perdamaian Aceh sebagai koordinator Juru Runding GAM.
Setelah damai terjadi antara GAM dengan RI, Irwandi mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh berpasangan dengan Muhammad Nazar. Mereka berhasil memenangkan suara terbanyak dan terpilih untuk memimpin Aceh periode 2007-2012.
Usai jabatannya berakhir, Irwandi kembali menyatakan diri maju sebagai calon Gubernur Aceh bersama dengan Muhyan Yunan. Namun karir politiknya saat itu kalah oleh rival sesama mantan kombatan GAM, dr Zaini Abdullah-Muzakir Manaf. Irwandi kemudian membentuk partai lokal baru yang diberi nama Partai Nasional Aceh (PNA). Dia menjabat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Partai Nasional Aceh (PNA) periode 2012-sekarang.
Irwandi kemudian sering pulang pergi keluar negeri usai tidak lagi menjabat sebagai Gubernur Aceh. Kepada portalsatu.com, dia mengaku bekerja di pabrikan pesawat terbang Shark Aero milik Vladimir Pekar di Swedia sebagai mekanik.
Muzakir Manaf
Namanya Muzakir Manaf, tetapi orang Aceh biasa menyapanya dengan sebutan Mualem. Penamaan ini dilatarbelakangi oleh ilmu kemiliteran dan pernah melatih pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) saat konflik Aceh.
Berdasarkan penelusuran portalsatu.com, Mualem diketahui lahir di Seunuddon, Aceh Utara pada 1964. Muzakir kecil pernah tercatat sebagai murid SDN Seuneuddon Kabupaten Aceh Utara. Dia juga merupakan alumni SMPN Idi Kabupaten Aceh Timur dan lulusan SMA Negeri Panton Labu Kabupaten Aceh Utara.
Sebelum aktif di GAM, Mualem pernah mendaftar masuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Hal tersebut diungkapkannya beberapa waktu lalu, ketika mengunjungi salah satu sekolah tempatnya mengenyam pendidikan tempo dulu. Namun dia gagal.
Muzakir Manaf kemudian tercatat aktif di GAM dan pernah mengikuti pelatihan militer di Camp Tanjura, Libya, pada 1986-1989. Dalam dunia kemiliteran GAM, karir Mualem cemerlang. Dia pernah menjabat sebagai Panglima Wilayah Pase Gerakan Aceh Merdeka 1998-2002, kemudian menjadi Wakil Panglima Tentara Negara Aceh (TNA) 1998-2002 menggantikan Tgk Yahya bin Abdul Wahab. Mualem kemudian diangkat menjadi Panglima GAM pada 2002-2005 menggantikan Tgk Abdullah Syafi'ie. (Baca: Sosok Muzakir Manaf di Mata Adi Laweung)
Setelah damai, GAM dileburkan menjadi Komite Peralihan Aceh (KPA). Mualem yang sebelumnya menjabat Panglima GAM ditetapkan sebagai Ketua KPA hingga sekarang. Muzakir Manaf juga terpilih menjabat sebagai Ketua Partai Aceh (PA), salah satu partai lokal di Aceh, hingga sekarang.
Melalui Partai Aceh, Muzakir Manaf merintis karir di dunia politik. Dia berhasil terpilih menjadi Wakil Gubernur Aceh periode 2012-2017 berpasangan dengan Zaini Abdullah.
Tarmizi Karim
Tarmizi Karim lahir di Lhoksukon, Aceh Utara, pada 24 Oktober 1956. Dia merupakan lulusan S-2 Manajemen Pembangunan American University Washington DC, Amerika Serikat.
Sebelum menjadi Staf Ahli Mendagri bidang Ekonomi dan Keuangan, Tarmizi Karim pernah menjabat sebagai Bupati Aceh Utara periode 1997-2002. Dia kemudian dipilih menjadi Kepala Bappeda Aceh, dan juga pernah menjadi Wakil Ketua BKPMD.
Mendagri kemudian mempercayakannya untuk menjadi Pejabat Gubernur Kalimantan Timur pada 2008. Dia kemudian ditarik sebagai Kepala Bagian Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Dalam Negeri sebelum akhirnya menjadi Pj Gubernur Aceh pada 2012.
Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai Pj Gubernur Aceh, Tarmizi Karim dilantik menjadi Irjen Kemendagri RI pada 2015. Dia kemudian dipercayakan menjadi Pj Gubernur Kalimantan Selatan. Pengisian posisi Penjabat Gubernur Kalsel dilaksanakan karena masa jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalsel Rudy Ariffin dan Rudi Resmawan berakhir pada 8 Agustus 2015.
Saat ini, dia optimis untuk mencalonkan diri pada Pemilukada Aceh 2017 mendatang meski belum diketahui apakah akan melaju melalui calon perseorangan atau menggunakan kendaraan partai politik.
TM Nurlif
Teuku Muhammad Nurlif lahir di Sigli, 11 Juli 1958. Dia sekarang menjabat sebagai Ketua Umum Golkar Aceh menggantikan Sulaiman Abda. Sebelumnya TM Nurlif juga tercatat sebagai anggota DPR RI pada 1997 dan Anggota PAH I MPR RI pada 1999.
Merujuk catatan viva.co.id, TM Nurlif diketahui sebagai alumni SMA Sigli pada 1975. Dia juga tercatat sebagai lulusan S-1 Akuntansi Univ. HKBP Nommensen Medan pada 1981. Masih berdasarkan catatan viva.co.id, TM Nurlif juga pernah mengenyam pendidikan di Ditjen Peng. Keu Negara pada 1982, kemudian S-1 Ekonomi Perusahaan Univ HKBP Nommensem Medan 1984. Dia juga tercatat sebagai alumnus pesantren di Dayah Tgk Chik Direubee Aceh.
TM Nurlif sebelumnya pernah bekerja sebagai karyawan di PT Perkebunan I Langsa Aceh Timur pada 1981-1982. Dia juga menjabat Manajer Perencanaan dan Pengendalian PUSKUD, staff officer Bank Bukopin pada 1986-1987, dan juga tercatat pernah bekerja di PT Lampiri Jaya Abadi (1987-1996).
Di bidang organisasi, dia pernah dipercaya sebagai Sekjen DPP Pemuda Pancasila pada 1996, kemudian aktif di BPP HIPMI pada 1991-1995, juga menjadi Pengurus di Ikatan Alumni Univ HKBP Nommansen pada 1988.
TM Nurlif juga menjadi kader setia DPP Golkar pada 1988 dan pernah menjabat sebagai Dema Univ HKBP Nommansen pada 1977-1979. (Baca juga: Catatan GeRAK untuk para Bakal Calon Gubernur Aceh)
Zaini Abdullah
Zaini Abdullah lahir di Beureunun, Pidie pada 24 April 1940. Ayahnya adalah Teungku Haji Abdullah Hanafiah.
Zaini pernah dipercaya sebagai Menteri Kesehatan oleh Hasan Tiro dalam struktur kabinet Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Lama sebelum aktif di GAM, Zaini tercatat sebagai murid Sekolah Rakyat di Beuruneun pada 1947. Dia menamatkan study-nya di SR pada 1952. Pendidikannya kemudian dilanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Sigli pada 1953 dan lulus pada 1957. Kemudian dia meneruskan sekolah SMA Kutaraja, Banda Aceh pada 1957-1960.
Zaini berkenalan dengan ideologi GAM semasa duduk di bangku kuliah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (1960-1972). Meskipun demikian dia sempat mengambil Spesialis dalam Bidang Penyakit Kandungan dan Kebidanan pada Universitas Sumatera Utara (USU), RSU Pringadi, Medan (1975-1977), sebelum akhirnya bergerilya bersama Hasan Tiro, Husaini Hasan dan Teungku Ilyas Leube di rimba Aceh.
Setelah beberapa lama bertahan di hutan Aceh dan diburu TNI/Polri, Zaini memutuskan hengkang keluar negeri. Dia mendapat suaka politik di Swedia bersama Husaini Hasan, Zakaria Saman, dan beberapa teman seperjuangan GAM lainnya. Di Swedia, suami Niazah A Hamid ini kemudian meneruskan pendidikan Spesialis ëFamily Doctorí di Karolinska Universitets Sjukhus Huddinge, Stockholm pada 1990-1995.
Zaini bersama Malik Mahmud dan Zakaria Saman kemudian membentuk Partai Aceh setelah beberapa tahun damai berlangsung antara GAM dengan RI. Zaini kemudian terpilih menjadi Gubernur Aceh berpasangan dengan Muzakir Manaf melalui Partai Aceh.
Zakaria Saman
Zakaria Saman lahir di Keumala Dalam, Kabupaten Pidie pada 1 Januari 1946. Dia menghabiskan sebagian hidupnya di luar negeri setelah aktif di Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Dilansir aceh.tribunnews.com, Zakaria Saman pernah dipercayakan oleh Hasan Tiro menjadi Menteri Pertahanan GAM. Namanya kala itu kerap disebut lantaran dituduh memasok senjata api ke Aceh.
Sebelum “merantau” keluar negeri, Zakaria Saman disebut-sebut adalah seorang toke panglong kayu di Pidie. Dia aktif membantu perjuangan GAM sebelum akhirnya diketahui tentara. Zakaria Saman sempat ditangkap oleh TNI, tetapi berhasil kabur berkat kecerdikannya. Setelah itu dia memilih hidup di rimba Aceh sebelum akhirnya hengkang ke Malaysia dan hidup di Swedia.
Setelah Aceh damai, peranan Zakaria Saman tergolong besar di dunia perpolitikan. Dia bersama Malik Mahmud dan Zaini Abdullah menduduki posisi Tuha Peut Partai Aceh–partai lokal yang dibentuk mantan kombatan GAM–yang memiliki wewenang memutih-hitamkan partai.
Namun kini Zakaria Saman memilih mundur dari Tuha Peut dan berniat mencalonkan diri menjadi Gubernur Aceh di Pemilukada 2017. Sementara Partai Aceh telah sepakat menetapkan Muzakir Manaf sebagai cagub pilihan untuk gubernur di periode selanjutnya.[] (bna/dari berbagai sumber)

