BANDA ACEH – Dosen Fakultas Adab Universitas Islam Ar-Raniry Banda Aceh, Asmanidar, mengatakan ada beberapa karakteristik yang menjadi identitas perempuan Aceh dalam eskalasi sejarah. Yang pertama katanya, perempuan Aceh sangat hebat dalam berdiplomasi dan bersanding dengan negara lain.
Ia mencontohkan, ada dua ratu yang sangat terkenal selama berdirinya Kerajaan Samudera Pasai yang sangat berpengaruh di Asia Tenggara pada abad ke-13. Kedua ratu tersebut adalah Ratu Malikah Dahnier dan Ratu Nahrasiyah. Ratu Nahrasiyah sendiri memerintah selama 20 tahun dan mencetak mata uang sendiri ketika itu.
“Ini sesuatu hal yang bisa kita lihat, tidak mungkin seorang ratu yang memerintah begitu lama tidak punya kebijakan-kebijakan. Dan mereka adalah orang-orang yang mampu bersanding dan bersaing dengan negara luar. Ketika Majapahati menjadi raja maritim di perairan nusantara, mereka sudah mengambil bagian yang sangat penting dalam percarutan politik Kerajaan Samudera Pasai,” kata Asmanidar dalam acara Bincang-bincang Perempian bertema “Sejarah Perempuan Aceh Dalam Lintasan Sejarah” di Kafe 3 in 1 Banda Aceh Senin sore, 9 Januari 2017.
Kedua, perempuan Aceh memiliki talenta bahari yang luar biasa. Hal ini terbukti dari munculnya nama Laksamana Keumala Hayati yang menjadi sosok paling dikagumi dalam lintasan sejarah Aceh. Bahkan sampai sekarang jejaknya masih bisa dilihat berupa benteng Kuta Inong Balee di Krueng Raya, Aceh Besar.
Selanjutnya, perempuan Aceh memiliki karakter yang hebat, cerdas, berdedikasi dan cinta ilmu pengetahuan. Ini seperti yang dilukiskan oleh seorang arekolog dari Belanda, ada empat ratu yang mereka kagumi di Nusantara itu ada di Kerajaan Aceh Sumatera dan sangat diperhitungkan di Nusantara. Empat ratu itu adalah Safiatuddin,
Selanjutnya menurut paparan Asmanidar, perempuan Aceh memiliki karakter yang tidak gila pangkat, tidak gila kehormatan maupun gila pangkat. Hal ini dibuktikan oleh kisah Cut Meutia yang rela meninggalkan suami pertamanya Teuku Syam Syarif, karena kedekatannya dengan penjajah Belanda. Padahal, setelah menikah sengan Syam Syarif yang seorang Uleebalang, nama Cut Meutia menjadi Cut Nyak Meutia sebagai sebuah gelar kehormatan.
“Cut Meutia meninggalkan suaminya yang punya kehidupan luar biasa. Ia meninggalkan keempukan dan kemewahan demi sebuah yang namanya perang suci dan cinta tanah air,” ujarnya.
Terakhir, perempuan Aceh memiliki visi adventure atau jiwa petualang yang kuat dan rasa patriotisme yang tinggi. Dengan durasi masa perjuangan yang lama menurut Asmanidar, hanya perempuan yang tangguhlah yang mampu naik turun gunung.
“Bukan sembarang perempuan mampu naik gunung turun gunung, hanya perempuan yang tangguh. Mereka seperti Cut Meutia bisa membesarkan Raja Sabi di lereng-lereng gunung, sehingga bisa menjadi pemuda yang tangkas. Dan ini menjadi suatu hal yang luar biasa bagi seorang yang mampu bertahan, nggak mungkin kalau nggak ada rasa perjuangan yang tinggi,” ujarnya.
Diskusi ini diinisiasi oleh para aktivis perempuan Aceh. Selain Asmanidar, penyelenggara juga menghadirkan empat narasumber lainnya yaitu Sehat Ihsan Shadikin, dosen Fakultas Ushuluddin universitas Ar-Raniry, Sri Rahmayanti Tiba, akuntan dan juga pengamat sosial politik, Azhari Aiyub, direktur komunitas Tikar Pandan dan Meutia Faradilla, dosen muda dan pemerhati kawula muda Aceh. Dipandu oleh Munawar Liza Zainal sebagai moderator.[]


