MEUREUDU – Medical Emergency Resscue Committee (MER-C) Aceh, berkerjasama dengan Aceh Society Westerm Australia (ASWA – salah satu organisasi masyarakat Aceh di Perth) Australia, beserta CV. Aliansi Mitra Mandiri dan karyawan Museum Aceh, kembali menyalurkan bantuannya di wilayah korban bencana gempa di Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya. 

Kordinator Relawan MER-C Aceh, Ira Hadiati, beserta relawan paramedis, Agus Kades Nugraha, dan Relawan Non Medis, Yulianda, juga relawan-relawan non medis lainnya melanjutkan mobile clinik serta pembagian sembako di beberapa titik pengungsian yang masih minim dari bantuan.

Gampong-gampong yang didatangi tim MER-C adalah Gampong Peulandok Baroh, Peulandok Teungoh, Peulandok Tunong, Tampui, dan Panton Beurasan.

“Pada hari pertama, kedua, dan ke tiga, MER-C juga sudah menurunkan tim medis di daerah bencana, namun dikarnakan tim medis dan obat-obatan terbatas, maka hari ini melanjutkan mobile clinik ke daerah yang kemarin-kemarin tertunda,” kata Kordinator relawan MER-C Aceh, Ira Hadiati, di Pidie Jaya, 11 Desember 2016.

Ira mengatakan, bantuan sembako yang dibawa oleh MER-C Aceh adalah berisi beras, minyak goreng, ikan asin, telur, sarden, kerupuk, mie instan, susu dewasa, susu balita, biskuit, pempers, sabun mandi, shampo, sabun cuci piring, dan juga obat-obatan.

“Pembagian sembako dan pengobatan dilakukan pada siang hari dan malam hari. Masyarakat korban gempa yang mendapat pengobatan berjumlah 98 orang dengan kasus penyakit-penyakit pasca bencana seperti gatal-gatal, demam, batuk pilek, dan depresi ringan akibat gempa,” katanya, dalam siaran pers.

Ida mengaku, dari beberapa pasien yang diobati pihaknya, tiba-tiba ada seorang pasien yang dipapah oleh beberapa orang, setelah diperiksa, ternyata pasien mengalami serangan maag akut dikarenakan pola makan dan makanan yang kurang baik. Ia bersyukur pihaknya dapat memberikan pertolongan pertama. 

“Ucapan ribuan terima kasih kepada tim MER-C Indonesia Cabang Aceh dan para donasi yang telah membatu masyarakat di lokasi gempa, kami tak sanggup membalasnya, hanya Allah yang dapat membalasnya,” kata Ira Hadiati, mengutip kata-kata yang keluar dari mulut para geuchik dan sekgam di lokasi posko pengungsian.[]