SIGLI — Hiruk-pikuk mewarnai kegembiraan warga memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia pada Kamis, 17 Agustus 2017. Berbagai hiburan digelar untuk dinikmati sebagai refleksi hari bersejarah bagi bangsa Indonesia.
Namun, kegiatan seremonial yang menghibur itu tidak berlaku bagi mereka yang tetap harus bekerja meski harus berbalut debu dan dibakar panasnya sinar matahari.
Dengan menggunakan “peralatan tempur” berupa sapu lidi, para perempuan yang berprofesi sebagai petugas kebersihan terus membersihkan sampah di sepanjang jalan protokol. Ini merupakan jalur yang dilalui peserta pawai usai upacara menuju Meuligoe Bupati Pidie.
Mereka memungut sampah-sampah yang berserakan di jalan, sampah yang dibuang sembarangan oleh warga yang menyaksikan pawai devile sesaat setelah acara selesai.
Belasan perempuan yang umumnya para ibu-ibu ini terus bekerja tanpa terusik dengan keramaian kota. Yang mereka tahu hanyalah bekerja agar mendapat upah untuk menyambung hidup keluarga.
Sayangnya, ketika portalsatu.com menyapa mereka, Kamis, 17 Agustus 2017 saat mereka bekerja, tidak seoarang pun mau menyebutkan nama. Entah alasan apa, yang jelas mereka enggan bicara dan terus bekerja.
“Kami bekerja sebagai buruh harian di bagian kebersihan kota,” hanya itu jawaban singkat dari salah seorang perempuan paruh baya tanpa menoleh.[] (*sar)



