BANDA ACEH – Sudah sebelas tahun Aceh berdamai dengan Republik Indonesia. Sudah sebelas tahun pula penandatangan MoU Helsinki berlalu. Selama itulah jalanan Aceh kembali ramai saat malam. Selama itulah Aceh telah aman.

Satu setengah dekade lalu Aceh masih larut dalam konflik. Selama puluhan tahun masyarakat Aceh dilanda kegelisahan yang mendalam. Jalanan malam tak pernah seramai sekarang. Banyak penjagaan atau pemeriksaan yang dilakukan dua pihak yakni GAM dan TNI.

Pakar Ilmu Sejarah Universitas Syiah Kuala, Mawardi Umar yang dihubungi pada 14 Agustus 2016 mengatakan, peristiwa penandatangan MoU Helsinki adalah peristiwa sejarah yang sangat besar. Meredanya konflik antara kedua pihak ini menjadi titik tolak pembangunan Aceh saat ini.

“MoU dan Tsunami adalah dua peristiwa besar yang secara paralel telah mengubah wajah Aceh,” ucapnya.

Peritiwa tersebut amat terasa dari berbagai segi terutama pembangunan dan keamanan. Jika Tsunami telah membuat Aceh dilimpahi berbagai macam bantuan kemanusian, maka MoU adalah jalan yang menjadikan bantuan tersebut sampai ke Aceh.

“Tsunami telah membuat banyak pihak sadar untuk menghentikan perang. Dan mungkin jika tidak ada MoU maka bantuan kemanusian itu akan sulit untuk sampai ke Aceh,” ucap Mawardi.

Berkah MoU tak hanya sebatas aman namun lebih dari itu. Meski psikologi rakyat Aceh sedikit terganggu setelah melewati konflik panjang namun Mawardi mengatakan, efek domino MoU dan Tsunami mengarah pada hal yang positif.

“Mungkin trauma konflik masih ada namun coba kita lihat hikmah damai sekarang, kombatan bahkan sudah berteman dengan TNI,” kata dia.

Dalam acara peringatan 11 tahun MoU di taman Ratu Safiatuddin di Banda Aceh, 15 Agustus 2016 Gubernur Aceh, Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengatakan, MoU memiliki hikmah yang besar. Ia mengatakan, MoU menjadi awal baru untuk Aceh membenahi diri. Ia meminta semua pihak untuk menjaga perdamain. “Mari kita rawat damai yang menjadi berkah ini,” ucapnya.

Zaini mengatakan, dengan adanya penandatangan MoU Helsinki maka Aceh telah menjadi aman. Titik tolak pembangunan inilah yang kemudian dijadikan oleh Zaini utuk terus berbenah dan menajdikan Aceh lebih baik. Meski dengan kucuran dana otsus yang berlimpah ia mengatakan akan terus menggunakan dananya sesuai dengan aturan dan merata.

“Aceh patut bangga, kita mendapatkan penghargaan WTP karena pengelolaan APBA berjalan dengan sangat baik,” kata dia.

Perwakilan KPA Pusat, Kamaruddin Abu Bakar yang menjadi perwakilan Muzakir Manaf dalam acara peringatan MoU Helsinki di taman Ratu Safiatuddin mengatakan, MoU adalah awal baru bagi Aceh. ia juga meminta pusat untuk segera merealisasikan poin-poin MoU yang belum terlaksana. “Selesaikan poni MoU secepatnya,” kata dia.

Wali Nanggro PYM Malik Mahmud pun mengatakan bahwa MoU adalah berkah dan rahmad yang patut disyukuri. Ia mengatakan meski sudah satu dekade berlalu, MoU tetap harus menjadi tolok ukur dalam berbenah.

Dalam pidatonya ia sempat menceritakan kilas balik 'panasnya' perundingan antara GAM dan Pemerintah Indonesia di Helsinki, Finlandia ketika itu. Tiba-tiba hujan pun turun dengan derasnya.

“Suasana meja perundingan agak panas kala itu. Saat kami ceritakan alasan kami berontak, delegasi Indonesia marah-marah dan mengatakan akan pulang. Akan tetapi, suasana kembali kondusif setelah itu,” ujarnya berkisah.

Langit yang awalnya sangat cerah menjadi redup. Hujan turun disertai angin kencang. Wali Nanggroe pun menghentikan pidatonya. Meja Wali pun digeser agak ke dalam panggung.

“Hujan telah turun ini tanda suasana telah sejuk,” ucap Malik Mahmud memulai kembali pidatonya yang sempat terhenti beberapa saat.

Dalam pidato tersebut Wali Nanggroe berbicara banyak hal seperti menjaga perdamaian dan meningkatkan perekonomian Aceh. Ia mengatakan, perjuangan belum berakhir, tetapi perjuangan sebenarnya baru dimulai.

“Kesejahteraan rakyat Aceh harus diutamakan. Mari kita rajut perdamaian ini,” kata dia.

Bak isyarat dari langit yang mengatakan bahwa hujan dan MoU adalah rahmat.

Meski sudah 11 tahun berdamai, masyarakat Aceh masih bersyukur atas rahmad tersebut. Derita masa konflik dan pedihnya luka lama tak ada yang ingin membukannya kembali. meski masyarakat telah 11 tahun tak lagi mendengar kontak tembak yang masif namun rasa syukur itu tetap ada.

“Dulu kalau malam tidak ada yang berani keluar rumah lagi. jalanan kosong, sweeping dimana-mana,” ucap Afid salah seorang warga Aceh Utara yang sekarang menetap di Banda Aceh.

Di daerahnya dulu di Paya Bakong, ia mengatakan bahwa malam selalu menjadi momok menakutkan. Suara tembakan dan teriakan orang melolong sepenjang malam. Dengan adanya MoU nampak jelas bahwa damai sangat berarti.[]