Bulan Syawal merupakan bulan silaturrahmi. Salah satu bentuk usaha melahirkan silaturrahmi dengan bermudik. Kita ketahui bersama bahwa seorang perantau tentunya kendaraan mudik baik mobil, kenderaan bermotor dan lainnya pada umumnya, sebelum mudik kekampung halaman.

Begitu juga dengan diri kita harus senatiasa merawat diri dengan memberikan service terbaik. Di antara service itu lewat intropeksi diri atau yang lebih dikenal dengan nama muhasabah. Muhasabah  ini kalau perlu setiap ada waktu dicoba untuk terus berkaca diri.

Saidina Umar bin Khaththab dalam bermuhasabah telah memperingatkan kita dengan perkataanya,: “Hisablah dirimu sebelum dihisab, timbanglah diri kalian sebelum ditimbang. Sesungguhnya berintropeksi bagi kalian pada hari ini lebih ringan dari pada hisab di kemudian hari” (HR. Iman Ahmad dan Tirmidzi secara mauquf dari Umar bin Khaththab).

Pernyataan senada juga datang dari salah seorang tokoh sufi yang masyhur yakni Hasan Al-Bashri pernah mengungkapkan, :“Seorang mukmin itu pemimpin bagi dirinya sendiri. Ia menghisab dirinya karena Allah. Karena sesungguhnya hisab pada hari kiamat nanti akan ringan bagi mereka yang telah menghisab dirinya di dunia.”

Prosesi introspeksi diri akan lebih sempurna dengan kombinasi mu’ahadah (mengingat selalu perjanjian kita di alam arwah dengan sang khalik Allah Swt). Perjanjian ini diawali penciptaaan menurut para ulama sebagai syahadat yang pertama. Kejadian ini diabadikan dalam Alquran berbunyi: “Dan ingatlah ketika Rabb mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?, mereka menjawab. “Betul (Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS. Al A’raf:[7] : 172).

Perjanjian tersebut apakah kita mengingkari atau tidak hanyalah pribadi masing-masing yang lebih mengetahuinya. Di antara perjanjian lain yang sering kita ikrarkan sehari semalam lima waktu dalam sembahyang berbunyi: “hanya kepada Engkau kami menyembah, dan hanya kepada Engkau kami memohon dan meminta pertolongan.”(QS. Al-fatihah:[1]:5).

Kita harus mampu merealisasikan diri kita sebagai abdun (hamba). Di samping itu sebuah pertanyaan layak kita tanyakan serta dijawab sendiri adalah pada sudahkah kita mengabdi dalam penghambaan kepada sang khalik dan memohon pertolongan hanya kepada Allah SWT?

Seperti yang kita ketahui bahwa kehidupan di dunia ini merupakan tempat bercocok tanam dan beramal saleh. Benih dan tanaman yang kita semai plus perawatan yang baik akan menghasilkan panen yang baik pula di dunia untuk dibawa pulang waktu mudik nantinya. Dunia sebagai ladang untuk bercocok tanaman di akhirat. Sebagaiman disebutkan dalam sebuah hadist walaupun status hadistnya masih diperdebatkan antara maudhu’atau tidak berbunyi ,”Dunia merupakan ladang akhirat”.

Terkadang esensi mudik juga telah mengalami reposisi yang cukup memprihatinkan. Atmosfer semacam ini disebabkan  oleh ekses berbagai pe­ngaruh budaya global yang meng­kung­kung jiwa dan qalbu dunia Islam yang kosong dari nilai-nilai spritual.

Salah satu di antara reposisi tersebut, di mana tradisi mudik telah menjadi ajang konsumtif yang melebur dalam perilaku dan tingkah laku umat Islam yang terbuai oleh budaya hedonis-kon­sumeris. Ekses budaya global semacam itu akan meng­hi­langkan esensi mudik yang sesungguhnya yakni mem­perkuat ikatan emosio­nal yang telah lama hilang karena pe­ru­bahan pola pikir dan gaya hidup yang serba mewah. Sungguh mulia nilai mudik yang mampu kita realisasikan dalam kehidupan ini.[]