BANDA ACEH – Suasana Nacha Cafe Travel lumayan ramai malam tadi. Sejumlah penikmat kopi Arabika khas dataran tinggi Gayo terlihat asyik bercakap-cakap dengan sesama rekannya. Tiba-tiba seorang pria berpostur tinggi datang menghampiri dan sekaligus menyapa saya yang duduk di sudut depan cafe.
“Kiban, peu haba syedara? Meuah teulat bacut nyoe karna banleuh peubereh-bereh rumoh siat (bagaimana, apa kabar saudara? Maaf sedikit terlambat karena baru siap beres-beres di rumah),” kata pria berpostur tinggi tadi sambil mengulurkan tangannya, Rabu malam, 4 Maret 2016.
Pria itu adalah Muhammad Daud, salah satu tokoh pemeran film serial komedi Aceh Eumpang Breuh. Dalam film serial komedi tersebut, pria kelahiran Gampong Ceubrek, 22 November 1983 ini mengaku berperan sebagai preman gampông yang direkrut oleh Pak Salam Pasar Pagi.
“Meunyoe bak film nyan loen aneuk buah Pak Salam Pasar Pagi, tapi loen sabee lee akai tatipee bos sebab pak Salam nyan ureueng bangai ngon jeut ta olah (kalau dalam film ini saya anak buahnya pak Salam Pasar Pagi, tapi saya selalu banyak akal untuk menipu si bos sebab pak Salam itu orangnya bodoh sehingga bisa kita olah),” kata Muhammad Daud.
Sebelum terjun ke dunia akting, suami dari Rezeki Ferdianti ini mengaku sering aktif di berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan. Ayah tiga anak ini mengaku, kiprahnya di berbagai LSM itu digelutinya sejak pertama kali mengenyam pendidikan di Akademi Keperawatan Universitas Abulyatama Banda Aceh pada tahun 2002 lalu.
Waktu itu mungkin lebih tepatnya karena panggilan jiwa dan hati nurani saya agar bisa berbuat untuk rakyat banyak. Apalagi saat itu suasana konflik dan ditambah lagi dengan bencana tsunami yang kian menyisakan luka mendalam bagi masyarakat Aceh, kata Muhammad Daud.
Pria murah senyum yang kini dipercaya sebagai staf ahli DPD ini mengaku, ia mulai berkenalan dengan dunia akting saat diajak oleh salah satu kru Eumpang Breueh untuk menggarap sebuah film. Saat itu, ia berprofessi sebagai penulis sinopsis dan narasi film.
Ketika itu saya diajak oleh bang Abdul Hadi (Kapluk) untuk menggarap sebuah film komedi dengan posisi sebagai penulis narasi film dan asisten sutradara. Kala itu belum berani akting karena belum menjiwai sepenuhnya, kata Muhammad Daud sambil tertawa terkekeh.
Lama kelamaan, Daud mengaku makin didesak oleh kru Eumpang Breuh untuk memerankan salah satu tokoh preman gampông. Alasannya, karakter dan postur tubuhnya dinilai sangat cocok untuk berperan sebagai tokoh preman. Menurutnya, untuk memerankan tokoh preman tersebut, ia mengaku sangat sukar sehingga kerap menjadi bahan candawaan sesama kru saat berakting.
Watee lon mantong asisten sutradara kayem peugah akting gob salah, tapi watee tanyoe ka langsung terjun maken lee nyang salah. Tapi inti jih beuna tateupeu untuk taperankan sidroe tokoh nyan that susah. Contoh jih lagee aktor Reza Rahardian yang memerankan tokoh B.J Habibie pakiban that susah, (waktu saya masih asisten sutradara sering mengatakan akting orang lain salah, tapi setelah terjun langsung sebagai aktor makin banyak yang salah. Tapi intinya kita harus tahu bahwa untuk memerankan seorang tokoh itu sangat susah. Seperti Reza Rahadian yang memerankan B.J Habibie bagaimana susahnya), kata Daud.[]
Biodata :
Nama : Muhammad Daud
Tempat/Tgl Lahir : Gampong Ceubrek, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara/ 22 nov 1983
Nama Orang Tua :
Ayah : Hasballah
Ibu : Makawiyyah.
Pendidikan
SMAN 1 Syamtalira Bayu
Akademi Keperawatan Universitas Abulyatama, Banda Aceh
S1 Jurusan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Serambi Mekkah
Magister Ilmu Kebencanaan Unsyiah.
Ditulis oleh Taufik Ar Rifai

