Oleh Taufik Sentana*
Lelah kelana tubuh dan debu debu membuat lusuh. Bagai burung yang terjebak di sangkar, isyarat ruh mengaduh menjangkau pohon kejadian. daun daun waktu berjatuhan. jatuh satu satu hingga senja yang mengintai.
pikiran musafir terbakar gairah mimpi di perjalanan. terlelap di persinggahan. berteduh di bawah bayangan. menyimpan yang segera hilang. atau memiliki yang segera pergi.
kemana musafir pergi? semesta dirinya bahkan lebih kecil dari inti atom. dirinya fana. dan kesenangan di sini hanya majazi .
Bayangan dunia telah menjebak persepsi. asupan listrik materialis menghantui batang otak. kita memandang benda benda begitu takjub.
ya..,mirip saat kita menjangkau layar maya di smartphone . begitu lekat. kita memandang ini akhir perjalanan. sering kita kecewa pada apa yang tidak kita genggam.
Kita lupa pada ruh yang terjebak di sangkar tubuh, mengaduh menjangkau tangkai asalnya .
Saatnya bersimpuh.
luluh.
rubuh.
berjalan lebih jauh
tanpa mata keruh
meniti cahaya mardhiyah .
menjaga thuma’ninah.
*Taufik Sentana. Penyuka prosa dan literasi sufistik. “Maha Kekasih” adalah Kumpulan terbarunya. Sedang menyusun Buku Puisi ” Perjalanan di Luar Kepala atau Matahari dan Manusia yang Pergi”.




