BANDA ACEH – Pengurus Museum Tsunami Aceh mengadakan rapat rencana Pameran Kontemporer berbasis artefak nisan Aceh di ruang rapat museum tersebut, Rabu 4 Januari 2017.

Koordinator Museum Tsunami Aceh, Almuniza Kamal, mengatakan, pameran yang direncanakan terlaksana awal tahun 2017 ini, fokus pada mengenalkan artefak Aceh kepada orang Aceh sendiri, terutama generasi muda.

“Orang Aceh harus mengetahui tentang kekayaan warisan ini. Karenanya, selain pameran, kita juga buat seminar, dan lainnya. Kali ini, fokus kita pada artefak batu nisan Aceh berukir tulisan yang mencatat data sejarah,” kata Almuniza.

Arkeolog Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Dr Husaini Ibrahim, mengatakan, ia akan membawa beberapa koleksi artefak di laboratorium Unsyiah dan rumahnya untuk pameran tersebut.

Peneliti kebudayaan Islam, Taqiyuddin Muhammad, mengatakan, pameran tersebut akan dilengkapi dengan sistem digital untuk data artefak hasil penelitiannya bersama CISAH dan Mapesa.

Pertemuan yang berlangsung sekira satu jam tersebut dihadiri empat petugas utama Museum Tsunami Aceh, yaitu koordinator Almuniza Kamal, Daud, Saiful dan tim kreatif Dindin Koda.

Turut hadir para undangan, yaitu pendiri CISAH dan Pembina Mapesa Taqiyuddin Muhammad. Arkeolog Unsyiah sekaligus pendiri Yayasan Warisan Nusantara Aceh (Wanda), Husaini Ibrahim.

Hadir pula Mizuar Mahdi Ketua Mapesa, Yusri Ramli Sekretaris Mapesa, Safari staf informasi CISAH, Masykur kolektor manuskrip kuno, dan Thayeb Loh Angen dari Sekolah Hamzah Fansuri. Sementara arkeolog Deddy Satria yang turut diundang berhalangan hadir.[]