TAPAKTUAN – Pada musim (bulan) maulid Nabi Besar Muhammad SAW tahun 2017 ini, harga ikan melonjak drastis di Kabupaten Aceh Selatan. Meningkatnya harga ikan di pasaran disebabkan hasil tangkapan nelayan menurun, karena cuaca sedang ekstrem yang ditandai muara arus air laut sedang deras.

“Hasil tangkapan nelayan merosot tajam selama lebih kurang dua pekan terakhir. Sementara kebutuhan ikan terjadi peningkatan untuk memenuhi kegiatan kenduri Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di berbagai pelosok Aceh Selatan. Kondisi ini mengakibatkan harga ikan melonjak dari harga sebelumnya,” kata Mushardi, 38 tahun, pengusaha ikan sekaligus pengusaha boat nelayan asal Gampông Lhok Pawoh, Kecamatan Sawang, Selasa, 21 Februari 2017.

Menurutnya, kenduri Maulid sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh Selatan. Segala upaya dicurahkan untuk merayakan hari kelahiran Rasulullah SAW tersebut.

“Ikan salah satu menu penting untuk melengkapi sajian makanan. Tidak heran, jika masyarakat ramai-ramai membeli ikan. Soal harga tergantung persediaan, yang jelas pengusaha tidak melakukan spekulasi,” tambah Mushardi.

Dia menyebutkan, harga ikan di TPI Lhok Pawoh, Kecamatan Sawang mengalami lonjakan drastis sejak beberapa hari terakhir. Seperti ikan tongkol kecil dibandrol Rp 20.000-Rp 30.000 per kilogram, sebelumnya berkisar Rp 12.000-Rp 15.000 per kilogram.

Demikian juga ikan ame-ame (tongkol sedang) Rp 25.000-Rp 30.000 per kg, sebelumnya Rp 15.000-18.000 per kg. Ikan sisek (tuna kecil) Rp 30.000-Rp 40.000 per kg, padahal harga standar sebelumnya Rp 20.000-Rp 22.000 per kg.

“Kalau harga ikan tuna dengan berat antara 30 sampai 100 kg/ekor, harganya masih standar yakni berkisar Rp 25.000-Rp 40.000 per kg. Namun pasokan dan tangkapan ikan jenis ini nyaris tidak ada selama dua pekan terakhir. Sejak memasuki  musim kenduri maulid, harga ikan karang malah lebih mahal dari ikan biasa, untuk ikan karang per kilogramnya bisa tembus Rp 80 ribu sampai Rp 100 ribu/kg,” sebutnya.

Sementara itu, Panglima Laot Lhok Sawang Ba`u, Kecamatan Sawang, Zainal Abidin mengatakan, salah satu faktor menurunnya hasil tangkapan para nelayan selama ini disebabkan karena kondisi cuaca. Walaupun tidak diterpa angin kencang dan hujan lebat, namun kondisi arus air laut juga menjadi kendala bagi nelayan dalam mengais rezeki.

“Saat ini kondisi air laut deras, upaya penangkapan ikan terkendala bahkan keberadaan ikan sulit terdeteksi. Jangankan nelayan tradisional, nelayan profesional juga kesulitan mendapat hasil tangkapan yang maksimal. Perkiraan saya, penurunan tangkapan ikan tidak hanya menimpa nelayan Aceh Selatan, daerah lain juga menuai hal yang sama,” tandas Zainal Abidin.[]