SIGLI – Sastrawan Aceh termasyhur, Musmarwan Abdullah, menjadi pembicara utama pada pertemuan pertama siswa kelas menjulis Forum Lingkar Pena (FLP) Pidie, di Indatoe Cafe, Sigli, Kabupaten Pidie, Ahad 14 Februari 2016.
Penulis buku kumpulan cerpen “Pada Tikungan Berikutnya” ini memberikan ilmu dasar tentang seni kepada peserta selama dua jam pertemuan.
Menulis sama juga dengan karya seni lain seperti melukis dan bermain gitar, sama-sama harus di pelajari dan terus dilatih, kata Musmarwan yang akrab disapa bang Mus, membuka acara sambil memegang gitar.
Musmarwan mengatakan, para penulis pemula tidak usah takut menulis tulisannya karena sudah pasti tidak dibaca, karena orang akan memilih membaca tulisan penulis terkenal.
Penulis pemula harus menghilangkan rasa takutnya dalam menulis sehingga bisa menulis dengan bebas, kata penulis asal Kembang Tanjong, Pidie ini.
Ketua FLP Pidie, Riazul Iqba, mengurai tentang perjalanan forum tersebut di Pidie sudah ada sejak tahun 2003 silam. Pada tahun pertama diketuai Nurainun (Guru tetap di Madrasah Aliyah Sigli). Selanjutnya FLP Pidie juga pernah dipimpin Musmarwan Abdullah dan Siti Zakiah.
Saya ini merupakan penerus dari para pendahulu. Karena FLP bukan barang baru di Pidie. Sebanyak 14 orang mendaftar kelas ke FLP Pidie tahun ini, namun pada acara inagurasi atau penyambutan hanya setengah yang hadir,” katanya.
Dilanjutkan Riazul, FLP Sigli memfokuskan pada promosi Sigli dan sekitarnya dalam bentuk tulisan. Dan mencetak penulis-penulis baru di Sigli. Organisasi ini sudah berada di Aceh sejak 2001.
“Para anggota FLP Aceh sudah menerbitkan beberapa Novel seperti The Messiah Project, Marwah di Ujung Bara yang ditulis Rahmat Idris, Teller Sampai Teler karya Ferhat, OMG My Mom karya Riazul Iqbal, dan kawan-kawan juga Al-Ummi Madrasati karya anak-anak FLP Sigli,” katanya.[](tyb)



