ACEH UTARA – Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman, melakukan gerakan optimalisasi lahan di Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa, 10 Desember 2024. Gerakan itu merupakan upaya pemerintah dalam membuat lumbung pangan nasional sekaligus mengantisipasi darurat pangan global.

Mentan bersama rombongan didampingi Anggota DPR RI asal Aceh TA. Khalid, Plt. Sekda Aceh Muhammad Diwarsyah, Pangdam IM Mayjen TNI Niko Fahrizal, dan Wakapolda Aceh Brigjen Misbahul Munauwar, tiba di tempat opla (optimalisasi lahan) itu disambut Pj. Sekda Aceh Utara Dayan Albar, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Utara Erwandi. Turut hadir Danrem 011/Lilawangsa Kolonel Inf Ali Imran, Dandim dan Bupati/Wali Kota se-Aceh, Kepala Balai Wilayah Sugai (BWS) Sumatera I Heru Setiawan, VP TJSL & Humas PT PIM Saiful Rakjab, Assistant Vice President Humas PT PIM Dedi Ikhsan, Calon Bupati Aceh Utara terpilih Ismail A. Jalil (Ayahwa), Ketua DPW Partai Aceh (PA) Aceh Utara, M. Jhony, serta undangan lainnya.

Mentan mengendarai motor trail dan dikawal sejumlah prajurit TNI dari jalan nasional Medan-Banda Aceh menuju lokasi optimalisasi lahan tersebut dengan jarak diperkirakan 1 kilometer dan kondisi jalan berlumpur. Optimalisasi itu dilakukan di Gampong Nga Matang Ubi, Kecamatan Lhoksukon dengan luas 2.037 hektare.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Utara, Erwandi, mengatakan luas baku sawah di Kabupaten Aceh Utara 39.762.27 hektare terdiri dari 81,07 persen sawah beririgasi, dan 18,93 persen sawah tadah hujan.

“Indeks penanaman memang masih rendah disebabkan oleh 18 persen masih sawah tadah hujan. Juga ada wilayah masih belum sempurnanya prasarana penyediaan air di beberapa daerah layanan irigasi (Bendung Irigasi Krueng Pase rusak),” kata Erwandi di hadapan Mentan Andi Amran.

Mentan Andi Amran meminta pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera-I untuk terus memperbaiki saluran layanan irigasi (bendung) yang bermasalah di Aceh Utara dan Aceh pada umumnya. Pemerintah pusat akan segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan sejumlah masalah pertanian terutama terkait irigasi. Perbaikan irigasi menjadi salah satu prioritas utama.

“BWS Sumatera I juga harus siap untuk diperintahkan guna mendukung upaya perbaikan tersebut, dan memastikan irigasi bisa selesai tepat waktu demi kesejahteraan petani di Aceh Utara,” kata Andi Amran dalam perbincangannya bersama stakeholder di lokasi opla itu.

Menurut Andi Amran, apabila saluran irigasi tidak normal maka ketahanan pangan pun akan bermasalah, sedangkan Presiden RI Prabowo Subianto selalu menekankan pentingnya swasembada pangan dan energi. Jika ada bendungan atau jenis irigasi lainnya yang bermasalah, tentu tidak akan sejalan dengan program ketahanan pangan nasional.

“Jadi, kita minta unsur BWS untuk melihat kondisi ini di lapangan. Makanya kami yang fokus terhadap pertanian, bapak (pihak BWS) siapkan air ke kami apapun modelnya sampai bisa mengalir ke tingkat petani secara keseluruhan. Karena pada prinsipnya para petani itu membutuhkan air semaksimal mungkin dalam memproduksi hasil pertanian,” tegas Mentan.

Mentan memandang bahwa kegagalan maupun keberhasilan produksi pertanian tergantung pada bendungan atau irigasi. Bila ini belum memadai maka perbaiki terlebih dahulu supaya dapat berjalan lancar produktivitas para petani. “Sedangkan ketersediaan pupuk khususnya di Aceh itu tidak ada kendala, di sini ada PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) yang bisa memenuhi kebutuhan pupuk untuk petani”.

VP TJSL & Humas PT PIM, Saiful Rakjab, kepada wartawan mengatakan kunjungan Menteri Pertanian dalam rangka optimalisasi lahan pertanian di Aceh utara untuk persiapan musim tanam. “PIM sebagai produsen pupuk memastikan kesiapan produksi serta pemenuhan pupuk dalam mendukung program pemerintah untuk swasembada pangan”.[]