BANDA ACEH – International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) bersama puluhan seniman dari berbagai negara mengadakan pameran seni kontemporer sejak 25 Februari hingga 12 Maret 2017 di Museum Tsunami, Banda Aceh.
Menariknya, benda yang dipamerkan pada perhelatan seni tersebut berupa tas, tepatnya tas siswa sekolah dasar dari Jepang.
Mengusung tema Field Trip Project, eksibisi seni interaktif ini sejak tahun 2012. Kerja seni ini diinisiasi seniman kelahiran Jepang yang tinggal di Kanada, Daisuke Takeya dan guru seni Chie Kajiwara yang mencoba memanfaatkan tas-tas anak sekolah dasar di Jepang. Awalnya tas-tas ini direncanakan untuk disalurkan kepada anak-anak di wilayah yang terkena tsunami Jepang tahun 2011.
Namun pemerintah daerah setempat memutuskan untuk membeli tas-tas baru yang seragam kepada anak-anak tersebut. Tas-tas yang tidak terpakai itu, lalu secara kreatif diolah secara bersama-sama dan interaktif oleh puluhan seniman dari seluruh dunia. Daisuke berhasil meyakinkan dan mengajak teman-temannya untuk mengkreasikan tas-tas tersebut dalam bentuk gambar, kerajianan tangan, dan berbagai kreasi lainnya yang juga dikemas dalam media yang berbeda.
Pratitou Arafat dari ICAIOS selaku koordinator pameran seni tersebut mengatakan, Walaupun terjadi dua belas tahun lalu, tetapi kita tetap perlu mengingat dan siaga akan potensi bencana alam ini. Karena Aceh adalah wilayah yang sangat rawan akan bencana geologi seperti gempa bumi dan tsunami.
Pameran ini diharapkan dapat menjadi media pembelajaran kepada siapa saja termasuk anak-anak tentang pentingnya mempelajari tentang pengurangan risiko bencana.
Sosialisasi dan edukasi tentang bencana adalah suatu proses yang harus dilakukan terus menerus, tanpa henti, dengan berbagai cara dan media.
Filosofi tas
Kolaborasi pemanfaatan tas sebagai media seni secara kreatif ini ternyata memiliki makna secara filosofis. Menurut Pratitou, anak-anak sekolah di Jepang, tas-tas sekolah terlihat berat dan bikin letih, karena dipenuhi banyak buku dan peralatan sekolah. Namun dalam pameran ini tas-tas tersebut diubah menjadi ringan dan menyenangkan.
Sama seperti memori tentang bencana. Bagi sebagian besar orang, bencana selalu berat untuk dibincangkan dan dibahas. Kita ingin agar memori itu bisa dikeluarkan, sehingga orang-orang dapat berbicara dan berdiskusi tentang bencana dengan lebih ringan, ujarnya.
Salah seorang pengunjung pameran, Afiati menilai kegiatan seni yang diselenggarakan para seniman berbagai negara ini sangat menarik. Tas-tas yang dipajang pada pameran seni ini sangat kreatif dan menarik, katanya.
Sekitar 63 tas yang dipajang pada pameran ini telah dipamerkan pada 20 kota di Jepang, dan negara-negara lain seperti Fillipina, Singapura, Kanada, dan Indonesia. Untuk Banda Aceh, ICAIOS selain bekerja sama dengan Japan Foundation selaku sponsor seniman dari Jepang, beberapa komunitas seni di Banda Aceh ikut terlibat, seperti Kanot Bu yang memamerkan karya seniman Aceh, Idrus bin Harun, dan komunitas Akar Imaji.
Tidak hanya bertempat di Museum Tsunami, pada 4 Maret 2017, tas-tas yang dipamerkan tersebut akan dibawa ke jalur yang pernah diterpa bencana tsunami. Para seniman dan anggota komunitas akan berjalan sambil memakai tas menuju PLTD Apung yang berjarak sekitar 2 kilometer dari lokasi pameran. Dalam perjalanan, mereka akan menanyai orang-orang yang dijumpai untuk ditanyai pendapatnya dan interpretasi mereka tentang tsunami. Nantinya jawaban dan pendapat warga tersebut akan dituliskan dan dipamerkan menjadi instalasi seni.[](rel)

