SIGLI – Komisi B DPRK Pidie memeriksa sejumlah pangkalan dan distributor fas elpiji di kabupaten ini, <!–StartFragment–>Senin, 21 Maret 2016. DPRK melalui komisi B membentuk panitia kusus (pansus) untuk menelusuri indikasi permainan harga elpiji 3 kilogram (kg). Sebelumnya, dewan mendapat laporan dari masyarakat, harga elpiji 3 kg dijual melampaui harga eceran tertinggi (HET) dari Rp18.000 dijual Rp20.000 hingga Rp30.000 per tabung.
Ketua Komisi B DPRK Pidie Anwar Husen, S.Pdi., kepada portalsatu.com, Senin (kemarin), mengatakan, umumnya setiap pangkakan dan disrtibutor mengaku menjual elpiji 3 kg sesuai HET.
“Kami menanyakan kepada pangkalan, mereka menampik telah menjual elpiji 3 kg lebih dari Rp20.000. Mereka hanya mengambil Rp1,000 di atas HET, terang Anwar Husen.
Akan tetapi, lanjut Sekretaris Partai Aceh Wilayah Pidie ini, pihaknya mendapatkan informasi bahwa masyarakat harus membeli Rp20.000 elpiji 3 kg pertabung, bahkan ada yang Rp27.000. Ini kami dapatkan dari masyarakat di kecamatan, kota Sigli, Pidie, Indrajaya, Gronggrong, imbuhnya.
Menurut dia, kemungkinan harga elpiji 3 kg di kawasan Kecamatan Tangse dan Geumpang, Mane, dijual melebihi Rp27.000 lantaran kuota untuk Kabupaten Pidie minim, sementara kebutuhan masyarakat tinggi.
Anwar meminta Pertamina menertibkan harga di tingkat agen dan pangkalan sesuai HET. Hal itu perlu dilakukan, lanjutnya mengigat para konsumen pengguna elpiji 3 kg bersubsidi merupakan masyarakat kurang mampu. Untuk mengatasi kelangkaan, Pertamina juga harus menambah kuota sesuai kebutuhan masyarakat, pintanya.
Anwar melanjutkan, terindikasi adanya permainan di tingkat pangkalan terhadap kelangkaan elpiji 3 kg ilogram. Pasalnya, berdasarkan pengakuan masyarakat di sekitar Kecamatan Peukan Baro, Indrajaya, Simpang Tiga dan Kecamatan Pidie, setelah distributor menyalurkan gas ke pangkalan, pihak pangkalan hanya menyalurkan sebagian kepada masyarakat sesuai HET. Selebihnya, kata dia, para agen pangkalan menjualnya ke pihak lain yang harganya jauh melebihi HET.[]



