SUBULUSSALAM – Pansus DPRK Subulussalam meninjau realisasi program peningkatan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Runding, termasuk pembangunan Instalasi Pengelola Air Limbah (IPAL).
“IPAL ini belum bisa digunakan karena ampere yang tersedia saat ini tidak sanggup menghidupkan alat ini, meteran langsung mati jika dihidupkan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Subulussalam, Masyhuri, kepada Wakil Ketua DPRK Fajri Munthe, dan sejumlah anggota dewan lainnya saat melakukan Pansus, Rabu, ?7 September 2016.
Karena itu, kata Masyhuri pihaknya akan mengajukan dana pada perubahan APBKP mendatang untuk menambah 10 ampere lagi, agar IPAL bisa segera difungsikan. “Khusus IPAL harus ada 10 ampere,” kata Masyhuri.
Kedatangan pansus DPRK untuk melihat realisasi pembangunan rehab kantor Puskesmas, ?bangunan aula pertemuan, bangunan tanggul dan rehab rumah dinas perawat. Program yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2016 ditargetkan selesai pada November mendatang.
“Kita targetkan pembangunan ini selesai tepat waktu pada bulan November,” kata Masyhuri.
Masyhuri mengatakan IPAL ini berfungsi untuk pengelola air limbah? sehingga saat dibuang tidak menimbulkan aroma tak sedap. Karena semua saluran air kotoran akan mengalir ke IPAL dan diproses lalu dibuang.
Lebih jauh Masyhuri menjelaskan, ?pertama air pengalir ke tabung IPAL ditampung mesin pembunuh kuman, di bagian dalam ada obat, setelah diproses, baru masuk ke mesin pemanas, masuk ke bagian sampah, di sana kotoran disaring, setelah kering air mengalir ke tempat pembuangan akhir. Sementara kotoran sebelumnya berubah menjadi pasir atau semacam pupuk.
“Sekarang ini Puskesmas harus ada IPAL karena sudah disurati oleh Kemenkes, untuk menjadikan Puskesmas registrasi harus ada IPAL,” kata Mayhusi didampingi Kepala Puskesmas Runding, Sapriadi Kombih.
Mashyuri mengatakan, Dinkes Subulussalam akan terus berbenah dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di seluruh kecamatan, saat ini sudah empat unit Puskesmas memiliki IPAL seperti Puskesmas Simpang Kiri, Penanggalan, Sultan Daulat dan Runding.
Pansus di bawah koordinator Fajri Munhte ini diikuti Ansari Idrus Sambo, Usman Kahar, H Ajo Irawan, Zainuddin, Heppy Sinaga dan M Nasir.
Ansari Idrus Sambo yang juga Sekjen PPP Aceh melihat proses pembangunan aula gedung pertemuan sangat baik karena pembesian dan adukannya menggunakan batu pecah.[](ihn)
Laporan Dirman Bakongan




