SELAKU partai khusus terbesar yang diakui adanya dan terbentuk pasca MoU Helsinki, pada 15 Agustus 2005, yang umurnya baru sahaja belasan tahun, belum sampai puluhan apalagi ratusan dari masa terbentuknya. Namun kharismanya sudah mulai memudar, adakah itu semua kesalahan daripada kadernya, atawa ini adalah tok daripada kesalahan sang Panglima, yang ia selaku pengendali utama akan partai.

Ada apakah dengan Partai Aceh sekarang ini, atawa di sini (Aceh) tidak ada lagi akan keturunan yang memang mereka itu masih ‘meudarah Aceh’ asli, berhingga pada sabab itulah akan PA (Partai Aceh) menjadi seperti sekarang, memudar akan kharismanya. Lalu, ke manakah mereka-mereka itu ‘Aceh aseuli.’ Mungkinkah mereka masih terlelap di dalam buaian mimpi. Atawa kita (Aceh) sudah lupa pada diri.

Dengan geram kukataka, “cubitlah diri anda (kita) itu, masihkah terasa akan kesakitan di kala waktu, akanpada sekalian tubuh yang berjiwa merdeka raya. Jika tidak, belum lagi merasa akan sakit itu di badan setelah dicubit, berarti anda (kita) masih di alam mimpi maka bangunlah. Terlebih lagi akan sekalian generasi muda, jangan lalai, hari bertambah maka beban semakin pula terasa di pundak ini duhai taulanku,” kurasa perkara itu, saban jika berlaku.

Partai yang dulunya dielu-elukan seantero negeri, di mana mana kain berwarna itu bisa didapati. Adanya oleh kerana tumpah akan sekalian darah para pejuang sejati, adanya oleh kerana mereka yang tak segan untuk mati. Bahpun anak-anaknya menjadi yatim kini, menjadi janda akan istri. Bersadarlah terbentuknya akan partai itu, bukan adanya PA itu dengan sendirinya, bukan.

Tentu setelah setiap kejadian (apapun itu) pasti oleh sabab kerana adanya permasalahan, itulah sebenarnya yang menjadikan alasan bagi setiap kejadian tersebut, semua kita tahu perihal itu. Tapi, kenapa juga di zaman yang sudah semoden ini, hidup kita sudah di tahun 2017, dan enam bulan lagi akan memasuki tahun 2018, beberapa bulan lagi.

Padahal kita sering mendengar akanpada kekata ‘jika di rumah ada tikus, jangan rumahpun dibakar, cukup tikus sahaja yang diusir.’ ‘Jangan kerana benci kepada tikus di sawah, kitapun tidak makan nasi.’ ‘Jika benci pada oknum yang ada di dalam Partai Aceh, janganlah benci pada Partainya, Panglimanya’ kerana sungguh itu berbeda.

Baik-buruknya seorang manusia itu adalah berasal daripada sifatnya, pribadinya, kalau kata orang-orang “personality-lah.’ Dan siapa sahaja yang berada di sekeliling manusia yang berperangai (buruk) seperti itu, apakah mereka tidak merasa terganggu? Mereka menyukai akan perangai yang demikian, tidak, tidak. Kerana sifat tidak menyukai ada pada manusia, hanya sahaja berbeda-bebeda.

Nakeuh, di beberapa tahun ini, pengaruh daripada partai Aceh sudah berbeda. Hanya di setiap daerah-daerah basis, konflik sahaja yang masih mencintainya dalam suka dan duka. Perlu diketahui, sebegitulah efek daripada setiap bekas akan luka yang menyayat jiwa di masa itu.

Padahal PA itu lahir oleh kerana perjuangan dan di Aceh, apakah semua yang sekarang di beberapa tahun terakhir ini bukan lagi MA (masyarakat aceh) yang tinggal di sini, itu tidak mungkin! Maka untuk semua kita (Aceh), sudah sampai pada waktunya, simpanlah kebencian itu. Simpanlah setiap unek-unek yang bisa membuat pecah-belah bangsa dan negara ini, dan bersering-seringlah untuk mengingat akan pendahulu kita.

Sayangilah kami, akan generasi penerus bangsa. Berilah kesempatan kepada kami untuk bisa belajar dengan tenteram dan dalam kedamaian dunia ini. Bersatulah kita. Mari sama-sama menjaga maruah Aceh, Partai Aceh kerana ia milik semua kita. Etika dan moral juga akanpada pola-pola yang diwariskan oleh penjajah dahulu, sudah pada waktunya, buanglah jauh-jauh, semua kita harus melenyapkan itu. Semua kita.[]

Penulis: Syukri Isa Bluka Teubai; Penyuka Sastra.