LHOKSEUMAWE – Pemerintah Kota Lhokseumawe melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menggelar ‘Festival Kultural Kesenian dan Kebudayaan, Pameran Temporer Koleksi Museum, serta Launching Alat Musik Tradisional Canang Ceureukeh’, di Museum Kota Lhokseumawe, 25-27 April 2025.

Kegiatan itu dibuka Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Lhokseumawe, Muhammad Maxalmina, S.H.I., M.H., Jumat (25/4). Turut hadir unsur Forkopimda, para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dan sejumlah tamu lainnya.

Maxalmina dalam sambutannya menyampaikan salah satu kegiatan utama dalam festival tahun ini peluncuran alat musik tradisional khas Kota Lhokseumawe, canang ceureukeh.

“Canang ceureukeh merupakan alat musik khas dari Lhokseumawe yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada 2022,” kata Maxalmina.

Menurut Maxalmina, ini menjadi ajang penting untuk memperkenalkan dan memperkuat nilai-nilai budaya lokal kepada masyarakat luas. Selama beberapa hari ke depan, masyarakat Kota Lhokseumawe akan disuguhkan beragam kegiatan budaya, yaitu pertunjukan seni tradisional dan modern, perlombaan seni dan budaya, hingga pameran temporer museum. “Ini menjadi wujud nyata bahwa budaya dan ekonomi dapat berjalan beriringan”.

Maxalmina mengucapkan selamat berkarya dan berkreasi kepada para seniman dan pelaku budaya yang akan tampil dan berpartisipasi dalam kegiatan ini. Kepada peserta lomba, saya berpesan untuk menjadikan ajang ini sebagai ruang belajar, silaturahmi, dan kesempatan untuk menampilkan potensi terbaik.

“Bertandinglah dengan semangat sportivitas, junjung tinggi nilai-nilai budaya, dan tampilkan karya yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga bermakna bagi masyarakat. Tunjukkan kepada dunia bahwa Lhokseumawe memiliki kekayaan budaya yang tidak kalah hebatnya,” ujar Maxalmina.

Pemko Lhokseumawe, kata Maxalmina, berharap melalui festival tersebut dapat terus mendorong pelestarian dan pengembangan kebudayaan daerah. “Sekaligus memperkuat peran budaya sebagai fondasi dalam pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal”.[]