LHOKSEUMAWE – Sampai saat ini otoritas Myanmar masih menutup akses media masuk ke wilayah konflik Rakhine yang dihuni minoritas etnis Rohingya. Akibatnya tidak banyak yang tahu persis bagaimana penderitaan masyarakat Muslim tersebut dalam beberapa pekan ini akibat dibantai militer Myanmar.

Robi Alam, imigran Rohingya yang berhasil selamat dan kini masih berada di Shelter Blang Adoe, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe. Pemuda 26 tahun itu merupakan manusia kapal yang berhasil mendarat di Kuala Cangkoi, Aceh Utara pada Mei 2015 lalu bersama ratusan pengungsi Rohingya lainnya.

Ditemui portalsatu.com, Selasa 29 November 2016, Robi mengaku kembali  rutin  menghubungi ibu dan ayahnya via telpon seluler sejak pembantaian kembali terjadi beberapa pekan lalu di desanya di Bado Adel. Ini sebuah kawasan pemukiman Muslim Rohingya tidak jauh dari ibu kota negara bagian Rakhine, Sittwe.

Menurut Ribi, ibu dan ayahnya bersama ribuan warga lainnya  sudah dua pekan  mengungsi ke titik aman yakni dalam hutan. Berjarak kira-kira 50 kilometer dari kampung halamannya di Bado Adel. Mereka hanya berbekal pakaian seadanya dan bahan makanan yang  sangat terbatas.

“Mungkin saat ini mereka sedang kelaparan di hutan,  karena  tidak bisa keluar dari lokasi persembunyian, karena takut di bunuh oleh kaum Buddhis. Tidak ada yang menolong mereka di sana, semua diam, saya sangat khawatir,” tutur Robi sedih.

Dia juga mendapat kabar dari keluarganya, militer Myanmar tidak hanya membakar perkampungan mereka. Namun juga membunuh dengan cara sadis, anak-anak digorok, wanita diperkosa kemudian dibunuh dengan parang oleh pria-pria berkepala botak. Bahkan saat mereka berusaha lari menjauh, tentara menembak membabi buta.

Hal sama dikisahkan teman Robi, Nur Ali, 20 tahun. Walaupun berbeda kampung, kisah Rohingya tersebut tak kalah mengerikan. Dia sempat menyaksikan tentara Myanmar dan orang-orang berparang membakar rumah yang didalamnya ada anak-anak dan wanita.

“Kami (orang dewasa) berusaha  melawan dengan parang, tetapi tidak seimbang, banyak yang tewas dikeroyok, ditembak atau digorok. Mereka (militer Myanmar) sebut kami hewan yang harus mati,” kata Nur Ali.

Diakhir wawancara, Nur Ali mengaku sudah pasrah dan tidak ingin kembali ke Rakhine, apalagi banyak keluarga saudaranya di sana tidak ada lagi akibat dibantai. Dia hanya berharap dunia bisa bertindak dengan semua yang terjadi di Rakhine.

Untuk diketahui, sisa imigran Rohingya di Blang Adoe kini hanya sekitar 25 orang dari sebelumnya 334 orang. Pada Desember ini, mereka semua akan dipindahkan ke Rumah Detensi Imigrasi Medan, lalu diberangkat ke Amerika Serikat.[]

Laporan Munir