Manusia di dunia ini merupakan makhluk yang heterogen. Keheterogenan tersebut mencakup berbagai aspek. Salah satu aspek yang dimaksud adalah bahasa. Di dunia ini terdapat ribuan bahasa yang dipakai oleh manusia. Bahasa-bahasa yang dipakai oleh manusia ini tentu saja untuk berinteraksi antarsesama. Namun, pernahkah terpikir oleh kita tentang asal mula bahasa. Apakah bahasa yang beribu-ribu yang dipakai oleh manusia sekarang berasal dari satu bahasa? atau mungkin berasal dari satu bahasa?
Berkaitan dengan asal mula bahasa ini, ada beberapa spekulasi yang muncul. Ada orang yang menganggap bahwa semua bahasa di dunia ini berasal dari bahasa Ibrani. Anggapan ini menyiratkan sebuah spekulasi lagi, yaitu Adam dan Hawa berbicara dengan bahasa Ibrani di Taman Firdaus.
Suku Dayak Iban di Kalimantan mempunyai legenda yang menyatakan bahwa pada zaman dahulu manusia hanya memiliki satu bahasa, tetapi karena keracunan cendawan, mereka berbicara dalam berbagai bahasa sehingga timbul kekacauan dan berpencar ke segala penjuru. Di abad ke-17 seorang filosof Swedia menyatakan bahwa di surga Tuhan berbicara dengan bahasa Swedia, Adam berbicara dengan bahasa Denmark dan ular berbicara dalam bahasa Prancis. Terlepas dari benar atau tidaknya pernyataan ini, yang jelas tidak ada data yang konkret tentang asal mula bahasa.
Hal yang dapat dilakukan adalah melakukan pengelompokan terhadap bahasa-bahasa di dunia dan mencari kemungkinan rumpun-rumpun bahasa yang ada di dunia. Berkaitan dengan hal ini, terdapat suatu cabang linguistik yang menelaah perbandingan bahasa yaitu linguistik historis komparatif.
Dalam studi linguistik komparatif, bahasa-bahasa di dunia diklasifikasikan. Ada beberapa kriteria yang dipakai untuk mengklasifikasikannya. Menurut Greenberg, suatu klasifikasi yang baik harus memenuhi persyaratan non-arbitrer, ekshaustik, dan unik.
Non-arbitrer berati kriteria klasifikasi itu tidak boleh semaunya. Artinya, dalam pengklasifikasian bahasa hanya harus ada satu kriteria, tidak boleh ada dua atau lebih kriteria. Ekshaustik adalah setelah klasifikasi dilakukan, tidak ada lagi sisanya. Semua bahasa yang ada dapat masuk ke dalam salah satu kelompok. Hasil klasifikasi juga harus unik. Artinya, bahasa yang telah masuk ke dalam salah satu kelompok bahasa tidak dapat masuk ke dalam kelompok bahasa lain. Kalau dimasukkan, berarti hasil klasifikasi tidak unik.[] bersambung…
Sumber Bacaan:
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Merdeka.com (http://www.merdeka.com/teknologi/100-tahun-lagi-hanya-10-persen-bahasa-yang-tersisa-di-dunia.html), diakses 18 Januari 2016
Ohoiwotun, Paul. 2002. Sosiolinguistik. Jakarta: Visipro.

