Rajab sebagai bulan yang penuh berkah. Dalam mengkaji kelebihan bulan Rajab sering muncul polemik yang ditemui dalam kitab turast (klasik) ulama. Kesempatan kali ini kita mencoba untuk melihat perbedaan pendapat dua ulama besar yaitu Ibnu Shalah ulama yang hidup pada tahun 557-643 H, dan rival beliau juga ulama besar Syekh Izzudin bin Abdus Salam, sosok ulama kesohor yang hidup tahun 577-660 H.

Polemik (perdebatan) yang kontras terihat di bulan Rajab yaitu seputaran tentang shalat Raghaib. Ibadah Raghaib ini sering dan biasa dikerjakan di Baitul Maqdis pada Kamis pertama bulan Rajab.

Sosok ulama bernama Ibnu Shalah merupakan seorang muhadits kenamaan dan pengarang karya monumental kitab “Muqaddimah Ibnu Shalah” yang kitabnya hingga kini masih banyak dipelajari dan dikaji dibelahan dunia Islam termasuk Nusantara, Asia dan lainnya. Dalam karya beliau tersebut meski beberapa kali dalam fatwanya mengenai beberapa ibadah menganggapnya sebagai bid’ah, tetapi di belakangannya beliau tidak mem-bid’ah-kannya. Bahkan, memperbolehkannya khususnya tentang shalat Raghaib tersebut,

Namun, fatwa Ibnu Shalah itu sangat ditentang Syekh ‘Izzudin. Beliau merupakan ulama besar yang digelar sebagai Sulthanul ‘Ulama, juga pengarang kitab termasyhur “Qawa’idul Ahkam”. Tradisi 'perang' ilmiah itu pun terjadi untuk menjawab pernyataan Ibnu Shalah dengan mengarang kitab “At Targhib ‘an Shalat Raghaib Al Maudu’ah”.

Rupanya 'perang' ilmiah tidak berhenti di situ. Ibnu Shalah lantas membalasnya dengan menulis kitab “Ar Radd ‘ala Targhib”. 'Perang' kian memanas. Syekh Izzudin pun membalas dengan mengarang kitab berjudul “Tafnid Radd”.

Sungguh indah 'perang' llmiah mereka tanpa mengorbankan jiwa dan bentrok fisik, hanya perang pemikiran.

Apakah keduanya belajar kepada guru yang berbeda sehingga melahirkan dua pendapat yang berbeda? Jawabannya: tidak. Keduanya berguru dan mengaji pada masyaikh yang sama. Kedua ulama besar ini adalah murid Syekh Fakhrudin ibn ‘Asakir, seorang ulama yang hidup pada masa 550-620 H dan juga penulis kitab “Tarikh Dimasyq”. Bahkan, ulama besar ini juga menyusun sebuah kitab kecil yang mengupas tentang kelebihan dan keutamaan bulan Rajab berjudul “Fadlu Rajab (Kelebihan Bulan Rajab)”.

Dalam biografi mereka disebutkan bahwa sebenarnya telah terjadi beberapa kali Syekh Izzudin dan Ibnu Shalah berpolemik dan berbeda pendapat di antara keduanya. Di antaranya mengenai persoalan bau mulut harum orang puasa yang termaktub dalam hadis. Paling tidak jika kita melihat komentar Ad Darimi (742-808 H) dalam kitabnya “Hayatul Hayawan“ yang berkata demikian saat mengomentari khilaf antara Ibnu Shalah dan Izzudin saat membahas bau mulut orang yang berpuasa.

Sebenarnya tradisi keilmuan dalam Islam terjadi kontroversi pendapat dan polemik orang-orang berilmu dan beradab memang 'perang' ilmiah dengan penuh santun dan ta’lim mereka ajarkan untuk kita. Perbedaan tidak harus dihadapi dengan emosi dan perlawanan fisik dan lainnya. Namun, perbedaan pendapat dijawab dengan ilmu lewat tulisan dan karya berupa kitab dibalas dengan kitab juga. Polemik wacana dibalas wacana, risalah dibalas risalah sama. Sungguh indah dan santun 'perang' seperti ini.

Lihatlahlah misalnya jika kita menghitung berapa banyak kitab yang ditulis saat terjadinya perbedaan pendapat kubu ulama Sakhawi, beliau hidup pada tahun 831-902 H, dengan kelompok dan pendukung Imam Suyuthi, sosok ulama besar Imam Syafii yang hidup sekitar tahun 849-911 H.

Kita pun sangat mengharapkan berbagai perbedaan pendapat di kalangan ulama dan ahli ilmu dapat mengikuti tradisi pendahulu dengan 'perang' ilmiah kitab dibalas dengan kitab. Minimal pendapat ditulis dalam bentuk karangan sehingga lebih menghidupkan ruhul dan semangat Islam yang sempat tenggelam. Semoga.[]