SAYA sarankan kepada para politisi untuk mempertimbangkan bias dari setiap pernyatannya terhadap masyarakat umum. Ide persatuan sduah tidak berhasil, banyak partai politik bermunculan, banyak ormas, banyak aliran gerakan sipil, yang disebabkan tidak ada orang kuat yang mampu mewujudkan persatuan. Akan tetapi, ide untuk meminimalisir bias dari perbedaan selalu bisa dilaksanakan.
Dengan kata lain, masing-masing kita menjaga diri, selalu berpikir dan menimbang, apakah kata-kata kita bersifat menyerang? Bagaimana kalau itu ditujukan kepada kita sebagaimana kita tujukan kepada orang lain?
Harus diperhitungkan dengan baik, apakah serangan kata-kata itu itu akan mengenai sesama Aceh dan Islam atau bukan?
Sudah belasan tahun kita lihat, akibat dari saling menyerang itu, telah menyebakan kita berada dalam masyarakat yang gaduh, ketenangan yang terusik, pembangunan yang terhenti karena orang dijebak dalam emosional yang merugikan mereka, yakni emosional politik yang mereka tidak ada keuntungan apapun karenanya.
Tujuan dari politik harus direvisi oleh politisi supaya kembali kepada ajaran Nabi Muhammad, bukan Fir'un.
Saya sudah beberapa kali mendengar bualan, yaitu isi bicara yang tidak sesuai perbuatan dari politisi, mereka rekanku juga, yang sebenarnya kuharap ia dan partainya bisa diandalkan, ternyata tidak. Mereka salah guru, tidak berguru pada Nabi dan sahabat. Tapi entah berguru pada siapa.
Kalau ada yang mengatakan bahwasanya politik itu kejam dan dan penuh tipu muslihat, penuh buaaln, itu karena orang itu melihat contoh dari tokohjahat yang berpolitik secara tidak beradab. Politik yang sebenarnya mesti dicontoh pada masa rasulullah dan khulafaurrasyidin. Kita ummat siapa?
Sekali lagi, ide persatuan memang tidak berhasil, tapi ide meminimalisir bias dari perbedaan selalu bisa dijalankan. Berpikir dulu sebelum bicara, menyadari bahwa orang lain sama seperti kita, tidak ingin disakiti, dan ingin dihormati.
Banda Aceh, 31 Oktober 2017.[]
Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan.




