LHOKSUKON – Koordinator LSM Gerakan Transparansi dan Keadilan (GerTaK), Muslem Hamidi, mengatakan seharusnya PT Pema Global Energi (PGE) memberikan kompensasi untuk masyarakat lingkungan terkait kebocoran pipa gas yang mengakibatkan kepanikan dan sebagian aktivitas masyarakat jadi terganggu.

Muslem Hamidi turut menyoroti cara komunikasi pihak PGE yang dinilai terkesan kurang harmonis dengan mengatakan bahwa kebocoran tersebut tidak berbahaya. “Semestinya pernyataan seperti itu tidak perlu disampaikan karena masyarakat tidak akan terbantu dengan cara-cara komunikasi yang demikian,” kata Muslem Hamidi dalam pernyataan tertulis dikirim kepada portalsatu.com/, Ahad, 13 Februari 2022, sore.

Menurut Muslem, manajemen PGE cukup menjelaskan kesiapan tindak lanjut dari setiap adanya masalah yang ditimbulkan dan akan segera bertanggung jawab.

Muslem menyebut masyarakat hanya ingin aktivitasnya tidak terganggu dengan adanya kenyamanan dan jaminan keamanan hidup berdekatan dengan perusahaan yang selama ini dianggap tidak memberikan dampak yang baik bagi masyarakat sekitar.

“Kita ingatkan agar kejadian serupa tidak lagi terulang ke depan. Perusahaan selain menjaga dan memelihara kondisi perusahaan juga diharapkan dapat menjaga dan memelihara situasi kebatinan dari perasaan masyarakat sekitar, sehingga aktivitas perusahaan benar-benar dapat menjamin hajat dan aktivitas warga sekitar. Karena itu menjadi tanggung jawab utama manajemen sebuah perusahaan,” tegas mantan Ketua BEM Unimal ini.

Diberitakan sebelumnya, warga lingkungan Cluster I PT PGE meminta perusahaan itu menangani secara serius kebocoran pipa gas yang mengakibatkan semburan lumpur di area cluster tersebut, Jumat, 11 Februari 2022.

Sebelumnya, saat terjadi kebocoran pipa yang mengalirkan gas dari Cluster I ke Cluster III sempat membuat masyarakat sekitar panik. Video semburan lumpur pun beredar di media sosial Facebook dan WhatsApp.

“Ini ladang gas. Kalau dibilang tidak berbahaya akibat adanya kebocoran pipa gas, itu rasanya kurang masuk akal. Mungkin bagi mereka pihak perusahaan tidak bahaya, tetapi kita masyarakat menganggap ini sangat berbahaya. Kalau bisa itu diperbaiki secepatnya,” kata Amir, warga Gampong Blang, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara, kepada wartawan, Sabtu, 12 Februari 2022.

Amir menyebut bau yang muncul akibat semburan lumpur itu sangat menyengat. “Sehingga dampaknya berbahaya bagi kesehatan masyarakat sekitar, khususnya anak-anak yang melintasi jalan kawasan Cluster I saat pergi sekolah,” ucapnya.

External Relation Manager PT PGE, Agussalim, mengatakan kebocoran terjadi pada pipa yang mengalirkan gas dari Cluster I ke Cluster II. Kondisi terkini, kata dia, pipa tersebut sudah ditutup (dilock) dan sedang dilakukan perbaikan oleh tim teknis PGE dengan terlebih dahulu mengeringkan sisa gas dan cairan yang terdapat di dalam pipa tersebut.

“Kita pastikan tidak ada semburan lagi. Masyarakat jangan khawatir, karena hal tersebut dipastikan tidak berbahaya. Bau yang ditimbulkan adalah bau lumpur yang keluar dari pipa dan akan segera habis,” ujar Agussalim.

Agussalim menyebut saat ini sudah tidak ada lagi gelembung kebocoran. “Kondisi terkini tidak ada lagi semburan atau gelembung. Pipa underground 42 Cluster I sudah diisolate, pressure pipa sudah zero,” ucapnya.

“Tim teknis PGE melakukan flushing dengan water, dan dilakukan penggalian dengan penggantian clamp yang lama dengan yang baru dan kita tutup,” tambah Agussalim.

Kabag Humas Pemkab Aceh Utara, Hamdani, mengatakan pihaknya sudah mendapatkan laporan dari pihak PGE terkait kebocoran pipa gas di Cluster I.

Menanggapi laporan dimaksud, kata Hamdani, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Aceh Utara untuk melakukan langkah-langkah strategis dalam pemantauan lingkungan. “Terkait laporan yang diterima dari pihak PGE, selanjutnya akan dikaji oleh DLH,” ucapnya.[](red)