ISTANBUL – Ibn Haldun Universitesi mengadakan forum peradaban internasional pada tanggal 20-22 Oktober. Acara ini dihadiri Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Dalam sesi tentang hubungan agama dan kenegaraan di wilayah timur dan Asia Tenggara, Assos. Prof. Dr. Jatswan Singh dari Universiti Malaya berpidato tentang Rohingya, Myanmar.

Ia membawa makalah berjudul “Agama dan negara di Myanmar: kebijakan pengabdian”. Sesi ini dimoderatori oleh Dr Mehmet Ozay, sesorang sosiolog pengamat perkembangan Asia Tenggara.

“Ada 135 etnis di Myanmar yang menunjukkan bahwa masyarakat negeri ini sangat majemuk. Meskipun tidak ada agama resmi, namun sebagian besar penduduknya beragama Budha dan negara bagian dikelola oleh umat Buddha Burma mayoritas,” kata Jatswan Singh.

Oleh karena itu, kata dia, seperti yang diamati di masa lalu, peraturan militer membangun kuil Buddha, menyumbangkan kongregasi umat Buddha. Jatswan menyentuh sebagian besar isu Muslim Rohingya. Dia berargumen bahwa militer Myanmar masih mendominasi kekuasaannya di Tanah Air.

“Pmenang Nobel Price Syu Kyi telah gagal memperbaiki standart Myanmar yang demokratis dan tetap diam mengenai isu Muslim Rohingya. Penguasa Myanmar sudah lama melakukan memerintah. Sejak tahun 1962 sampai 2010, hampir 50 tahun negara tersebut diperintah sebagai hegemoni militer langsung. Dan hampir ada 12 kelompok sekcessionist yang ingin otonom atau independen,” kata Jatswan, sebagaimana dikabarkan Dr Mehmet Ozay kepada Portalsatu.com, Senin, 23,Oktober 2017.

Jatswan menyebutkan, ada beberapa perselisihan politik di NLD, partai berkuasa yang dipimpin oleh Syu Kyi. Dan isu Rohingya telah menjadi semacam manipulasi. Di masa lalu, militer mengambil tanah Muslim secara paksa dan mengalihkan perhatiannya kepada orang-orang Buddhis yang tidak memiliki tanah.

“Syu Kyi membutuhkan para pemilih Buddhis untuk tetap berkuasa. Inilah salah satu alasan penting mengapa dia tidak bertindak sesuai kemanusiaan dengan kekerasan yang terjadi di Negara Bagian Rakhine. Ada semacam genosida budaya. Budaya Muslim Rohingya telah mengalami pemusnahan,” kata Jatswan.[]