LHOKSEUMAWE – Kemerdekaan itu merupakan puncak perjuangan dari seluruh rakyat Indonesia tanpa ada lagi penjajahan. Seperti halnya di Aceh yang telah merdeka dari konflik yang berkepanjangan.

Hal itu dikatakan Duta Wisata Provinsi Aceh 2015 asal Lhokseumawe, Cut Hariyani, 23 tahun, kepada portalsatu.com, Rabu 17 Agustus 2016. Menurutnya, di usia kemerdekaan RI yang mencapai 71 tahun, rakyat Aceh juga telah menikmati kemerdekaannya. Baik itu dari segi pendidikan, ekonomi dan pembangunan.

“Saya melihat rakyat Aceh telah merdeka dalam beberapa sektor penting. Hal itu dapat dirasakan dari banyaknya perubahan yang ada. Lihat saja dunia pendidikan yang kini telah membebaskan iuran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), sehingga masyarakat miskin pun dapat mengenyam pendidikan dengan baik. Demikian juga dengan banyaknya beasiswa bagi siswa, baik yang berprestasi, yatim, atau kurang mampu,” ujar gadis yang akrab disapa Pocut ini.

Dari segi ekonomi, menurut Pocut, sejak diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Pemerintah Aceh memberi peluang besar bagi investor asing yang ingin membuka industri besar. Hal itu membuka peluang lapangan kerja bagi masyarakat Aceh, sehingga mengurangi angka pengangguran.

Pocut menambahkan, hal terindah yang dirasakan masyarakat Aceh adalah setelah penandatanganan MoU Helsinky. Masyarakat Aceh benar-benar merasakan damai, tanpa perang dan keributan seperti masa konflik dahulu.

“Bagi saya, kita sudah merdeka. Hanya tinggal meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dari masing-masing individu dan menggali potensi, sehingga menjadi pribadi berkualitas. Marilah sama-sama kita lanjutkan pembangunan Aceh, sehingga mampu mencapai kesejahteraan rakyat Aceh yang lebih bermartabat,” pungkasnya.[] (idg)