Politik dagang sapi sudah lazim dikenal publik. Idiom ini menggambarkan tawar menawar politik yang sifatnya tertutup dan dirahasiakan. Tak ada yang tahu proses tawar-menawar itu, kecuali penjual dan pembelinya.

Sebenarnya banyak idiom lain yang dapat diciptakan selain politik dagang sapi. Penciptaan terhadap idiom-idiom baru perlu dilakukan, paling tidak untuk mengembangkan bahasa politik negeri ini. Bukankah panggung politik kita saat ini sudah sesak dengan akronim dan singkatan: caleg, capres, cawapres, pilgub, pilkada, pilpres, balon (bakal calon). Bahkan nama para kandidat disingkat menjadi JK-Win, Karsa, Zikir (Zaini-Muzakir), Azan (Zaini Abdullah-Nasruddin).

Kalau mau kreatif, ada banyak idiom yang bisa tercipta di atas panggung politik. Misalnya, sementara tawar-menawar tertutup ada ”politik dagang sapi”, untuk proses politik yang terbuka dan transparan kita mengambil perumpamaan transaksi dari pasar hewan juga: politik dagang ikan. Ini karena, di pasar ikan—lebih dikenal dengan singkatan TPI (tempat pelelangan ikan)—yang terjadi bukan tawar-menawar secara rahasia, tapi lelang terbuka. Semua bisa melihat proses terbuka itu. Yang menang, tentu saja, yang menawar lebih tinggi (Majalah Tempo 25 Mei 2009. Qaris Tajudin. Wartawan).[]

Sumber: Majalah Tempo 25 Mei 2009. Qaris Tajudin. Wartawan