BANDA ACEH – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengaku prihatin dengan kondisi warga sipil Rohingya di Kota Maugdaw atas tindakan militer dan kepolisian Myanmar. Meskipun tindakan tersebut disebut-sebut sebagai aksi balasan atas serangan tiga pos polisi di Arakan Utara, tetapi ini sudah menjurus ke arah genosida.
Demikian disampaikan Ketua DPW PSI Aceh, Kamaruddin, SH, kepada portalsatu.com, Minggu, 20 November 2016. “Kami menilai, apa yang sudah dilakukan militer Myanmar dan kepolisian Myanmar adalah bentuk kekerasan terburuk yang menjurus kepada tindakan genosida (pembasmian) etnis minoritas Muslim di negara Myanmar,” kata Kamaruddin.
Kamaruddin mengatakan tindakan yang tidak beradab ini sudah melampaui batas dan menimbulkan rasa takut serta trauma mendalam. Selain itu, penerapan jam malam serta blokade militer juga berdampak pada kekurangan makanan dan kebutuhan pokok bagi warga Rohingya.
Dia menyebutkan serangan militer kepada warga sipil ini, merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional. Menurutnya prinsip dasar dari hukum humaniter internasional tidak pernah mengizinkan kekerasan kepada warga sipil, non kombatan lainnya seperti yang dikodifikasikan dalam Konvensi Jenewa.
“Dengan ini kami menuntut pemerintah Myanmar untuk bertanggung jawab dan segera menghentikan tindakan kekerasan terhadap warga sipil Rohingya di Myanmar,” kata Kamaruddin, sembari menyebutkan kasus tersebut cenderung sama dengan yang dialami masyarakat Aceh di masa lalu.
PSI Aceh mendesak PBB, OKI, Uni Eropa, ASEAN, dan negara-negara tetangga untuk peduli, dan bertindak atas dasar kemanusiaan terhadap derita yang dialami warga Rohingya.
Mereka juga mendesak pemerintah Indonesia dan Pemerintah Aceh untuk ikut serta dalam upaya perlindungan dan kedamaian bagi etnis Rohingya. Salah satu caranya adalah melalui diplomasi dan melakukan penekanan terhadap pemerintah Myanmar.
Seperti diketahui, konflik yang terjadi di Myanmar kerap berimbas ke Aceh dengan berdatangannya jumlah pencari suaka dari Rohingnya. Tak jarang para pengungsi mengalami nasib tragis saat mengarungi lautan dan terombang-ambing hingga terdampar di pantai Aceh, Indonesia.
Sejak 2012, puluhan ribu Rohingya lari dari Myanmar. Mereka takut oleh ancaman ekstrimis Budha yang terus mengejar mereka, yang beragama Islam.
Pada periode akhir selama konflik pembantaian etnis terjadi di Myanmar, warga Rohingya yang berdatangan ke Aceh masuk dari jalur laut melalui pesisir Aceh Besar, Aceh Utara hingga di Aceh Timur. Mereka juga sempat ditampung di rumah pengungsian Blang Adoe, Aceh Utara, sebelum akhirnya ada yang memilih pindah ke negeri jiran, Malaysia.
“(Kami) menyerukan kepada masyarakat Aceh untuk membangun semangat solidaritas moriil dan materil untuk kedamaian bagi warga sipil Rohingya dengan menggalang dukungan dan bantuan kemanusiaan bagi Rohingya,” ujar Kamaruddin yang didampingi Sekjen PSI Aceh, Yuli Rais.[]




