IDI RAYEK Petani di Kecamatan Simpang Ulim, Madat, dan Pante Bidari, Aceh Timur mengeluhkan kelangkaan pupuk phonska yang terjadi sejak tiga bulan lalu. Petani berharap instansi terkait segera turun tangan mencari tahu penyebab kelangkaan pupuk tersebut.
“Kelangkaan pupuk di wilayah kita telah terjadi sejak pertengahan Oktober 2016. Kita sangat susah mencari pupuk phonska karena di semua kios penjual pupuk, tidak tersedia,” ujar Azhar, petani di Simpang Ulim kepada portalsatu.com, Sabtu, 31 Desember 2016.
Azhar dan sejumlah petani lainya mengaku saat ini sangat membutuhkan pupuk phonska. Pasalnya, rata-rata umur padi baru mencapai satu bulan, sehingga petani mengandalkan pupuk phonska untuk membantu pertumbuhan tanaman tersebut.
Kami tidak mengetahui penyebab pupuk phonska langka di kios pengecer. Apakah pupuk jatah di kecamatan ini dijual ke daerah lain. Sebab, saat ditanyakan di kios, mereka menyatakan telah habis dijual, dan pengecer pun tidak bisa memberi kepastian kapan pupuk itu akan dipasok kembali,” kata Azhar.
Petani lainnya, Hasbi mengatakan kelangkaan pupuk sering terjadi saat musim tanam padi tiba. Sejak tahun 2014 sampai sekarang kelangkaan pupuk phonska kerap terjadi. Untuk mendapat pupuk itu, kata dia, biasanya tiga atau dua bulan sebelum musim tanam kebanyakan petani telah memesan kepada kios pengecer dengan memberikan panjar setengah dari harga.
“Cara untuk mendapatkan pupuk itu petani harus memesan sebelum masa tanam padi. Kalau tidak memesan seperti itu otomatis kita tidak akan dapat membeli pupuk, sementara harga pupuk mencapai 120 hingga 130 ribu rupiah per saknya,” ucap Hasbi.
Petani berharap Pemkab Aceh Timur segera turun tangan mencari tahu penyebab kelangkaan pupuk tersebut. Sehingga petani tidak mencurigai para agen atau distributor yang “bermain” dalam menjual pupuk.
Jangan terkesan dinas tutup mata terhadap keluhan petani di lapangan. Kalau bisa pihak dinas dan kepolisian segera mencari tahu, apakah ada permainan agen pupuk di Aceh Timur,” ujar Hasbi.[]



