ACEH TIMUR — Suara tabuhan rapa’i menggema dari Gampong Matang Kupula Sa, Kecamatan Matat, Kabupaten Aceh Timur. Dentumannya terdengar berlapis, berpadu dengan lantunan syair bernuansa Islami yang dibawakan secara bersahut-sahutan. Di tengah suasana itu, seni tradisi tidak sekadar dipertontonkan, tetapi kembali menghadirkan ingatan tentang bagaimana masyarakat Aceh merawat agama, adat, persaudaraan, dan identitas budaya melalui kesenian.

Gampong Matang Kupula Sa merupakan salah satu desa yang turut terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh. Di tengah kondisi masyarakat yang menghadapi berbagai tantangan, keberadaan kesenian tradisional seperti rapa’i menjadi pengingat bahwa kebudayaan juga memiliki tempat penting dalam membangun kembali semangat kebersamaan.

Bagi masyarakat Aceh, rapa’i bukan hanya alat musik berbentuk gendang yang menghasilkan irama. Di balik kulit dan bingkai kayunya terdapat sejarah panjang mengenai perkembangan Islam, tradisi masyarakat pesisir, seni pertunjukan, serta nilai kebersamaan yang diwariskan lintas generasi.

Dari Tabuhan Menjadi Media Dakwah

Rapa’i dikenal luas sebagai salah satu kesenian tradisional yang memiliki hubungan erat dengan tradisi Islam di Aceh. Dalam sejumlah riwayat budaya, nama rapa’i dikaitkan dengan Ahmad Rifa’i, seorang ulama dan tokoh tasawuf. Tradisi lisan mengenai asal-usulnya kemudian berkembang seiring penyebaran kesenian dan ajaran Islam di kawasan Aceh.

Dalam perkembangannya, rapa’i digunakan bukan semata-mata sebagai hiburan, melainkan sebagai sarana menyampaikan pesan keagamaan. Syair yang mengiringi tabuhan dapat memuat pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, nasihat, ajaran akhlak, serta pesan tentang pentingnya persaudaraan.

Model dakwah melalui seni membuat pesan keagamaan lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Tabuhan yang mudah dikenali menjadi daya tarik, sedangkan syair menjadi ruang untuk menyampaikan nilai dan nasihat.

Dari sinilah rapa’i berkembang menjadi bagian dari tradisi sosial masyarakat Aceh. Ia hadir dalam berbagai momentum, mulai dari kegiatan keagamaan, adat, penyambutan tamu, hingga perhelatan masyarakat.

Rapa’i Pasee dan Jejak Pasai

Salah satu bentuk kesenian rapa’i yang dikenal dalam tradisi Aceh adalah Rapa’i Pasee atau Rapa’i Pase. Istilah “Pasee” berkaitan dengan kawasan Pasai yang dalam sejarah Aceh dikenal sebagai salah satu pusat penting perkembangan Islam dan kebudayaan di wilayah pesisir utara Aceh.

Rapa’i Pasee berkembang sebagai kesenian kelompok dengan kekuatan utama pada kekompakan tabuhan. Para pemain memainkan instrumen secara bersama-sama dengan pola ritme yang teratur dan dinamis. Perbedaan tekanan pukulan menghasilkan karakter bunyi yang membuat pertunjukan terasa hidup dan kuat.

Lebih dari sekadar pertunjukan musik, Rapa’i Pasee memperlihatkan filosofi kebersamaan. Tidak ada satu pemain yang dapat berdiri sendiri. Setiap pukulan harus mengikuti pola dan tempo kelompok. Ketika satu irama dimainkan secara serempak, lahirlah kekuatan suara yang menjadi ciri khas pertunjukan rapa’i.

Nilai itulah yang membuat rapa’i tetap relevan. Di dalamnya terdapat pesan sederhana: kebersamaan menghasilkan kekuatan.

Rapa’i Uroh, Ketika Dentuman Menjadi Seruan Kampung

Selain Rapa’i Pasee, masyarakat Aceh mengenal Rapa’i Uroh yang tumbuh dalam kehidupan sosial masyarakat gampong.

Dalam pemahaman masyarakat Aceh, “uroh” berkaitan dengan ajakan atau seruan untuk berkumpul. Pada masa lalu, bunyi rapa’i dapat menjadi tanda bagi warga ketika terdapat kegiatan yang membutuhkan kehadiran masyarakat, seperti gotong royong, kenduri, musyawarah, maupun kegiatan keagamaan.

Sebelum teknologi komunikasi berkembang seperti sekarang, suara tabuhan menjadi salah satu cara efektif untuk menyampaikan pesan kepada warga. Dentuman yang terdengar dari kejauhan menjadi semacam “panggilan kampung” yang menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya.

Karena itu, Rapa’i Uroh tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sosial masyarakat. Ia tumbuh bersama budaya gotong royong, musyawarah, dan semangat saling membantu.

Pertunjukannya pun mengutamakan kekompakan. Para pemain biasanya tampil secara berkelompok dengan pola tabuhan yang dimainkan secara serempak. Semakin solid permainan kelompok, semakin kuat pula karakter pertunjukan yang dihasilkan.

Bukan Sekadar Hiburan

Di tengah perubahan zaman, rapa’i menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Perkembangan teknologi, perubahan pola hiburan masyarakat, serta berkurangnya minat sebagian generasi muda terhadap seni tradisional menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Namun, rapa’i masih memiliki ruang untuk berkembang.

Sejumlah sanggar, komunitas seni, lembaga kebudayaan, dan masyarakat terus memperkenalkan kesenian tersebut kepada generasi muda melalui latihan, pertunjukan, festival, kegiatan adat, dan berbagai agenda kebudayaan.

Pelibatan anak muda menjadi kunci. Sebab, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk pertunjukannya. Pengetahuan mengenai sejarah, filosofi, teknik memainkan alat musik, syair, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya juga perlu diwariskan.

Dengan demikian, rapa’i tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dapat menjadi kesenian yang terus hidup dan beradaptasi dengan zaman.

Dentuman Aceh Menembus Dunia

Rapa’i juga telah menjadi bagian dari wajah kebudayaan Aceh yang diperkenalkan melalui berbagai kegiatan seni, pariwisata, festival, dan diplomasi budaya. Karakter tabuhannya yang kuat, permainan kelompok yang kompak, serta keterkaitannya dengan tradisi Islam menjadikan rapa’i memiliki daya tarik tersendiri ketika ditampilkan di hadapan publik yang lebih luas.

Pengenalan ke tingkat nasional maupun internasional bukan semata-mata soal membawa sebuah pertunjukan ke luar daerah. Lebih jauh, hal itu menjadi kesempatan untuk memperkenalkan sejarah dan karakter masyarakat Aceh melalui bahasa seni.

Ketika rapa’i dimainkan di atas panggung, yang terdengar bukan hanya bunyi gendang. Di dalamnya terdapat cerita tentang masyarakat pesisir, tradisi Islam, kehidupan gampong, semangat gotong royong, dan perjalanan panjang sebuah kebudayaan dalam mempertahankan identitasnya.

“Rapa’i Pasee bukan hanya pertunjukan seni, tetapi juga simbol budaya Aceh yang memperkenalkan kekayaan tradisi Indonesia kepada dunia internasional,” ujar Teuku Muhammad Aidil, Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Jumat, 15 Mei 2026.

Menjaga Suara yang Menghubungkan Generasi

Di Gampong Matang Kupula Sa, dentuman rapa’i menjadi lebih dari sekadar bunyi yang mengisi ruang. Ia menjadi suara yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Di tengah masyarakat yang terus berubah, tradisi seperti Rapa’i Pasee dan Rapa’i Uroh mengajarkan bahwa identitas budaya tidak lahir dari sesuatu yang serba baru. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dirawat, dari cerita yang diwariskan, dan dari nilai yang terus dipraktikkan.

Karena itu, menjaga rapa’i berarti menjaga sebagian dari ingatan kolektif masyarakat Aceh.

Selama masih ada tangan yang menabuh, suara yang melantunkan syair, dan generasi muda yang bersedia belajar, dentuman rapa’i akan terus memiliki tempat.

Bukan sekadar sebagai suara dari masa lalu, melainkan sebagai suara kebudayaan Aceh yang terus bergerak menuju masa depan. [ADV]