Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah kini telah tiba. Seluruh umat Islam dari segala arah dan penjuru nusantara, mulai dari Sabang sampai Merauke tak henti-hentinya mengumandangkan alunan suara takbir, tasbih, tahmid dan tahlil. Sebagian masyarakat kita bahkan pada malam hari raya Idul Fitri turut melakukan takbir keliling yang sudah membudaya. Hal ini sesungguhnya merupakan manifestasi kebahagiaan setelah berhasil memenangi ibadah puasa, atau sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kemenangan besar yang kita peroleh setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan selama satu bulan penuh.

Takbir kita tanamkan ke dalam lubuk hati sebagai pengakuan atas kebesaran dan keagungan Allah SWT. Kalimat tasbih kita tujukan untuk mensucikan Allah dan segenap yang berhubungan dengan-Nya. Tidak lupa kalimat tahmid sebagai puji syukur juga kita tujukan untuk Rahman dan Rahim-Nya yang tidak pernah pilih kasih kepada seluruh hamba-Nya. Sementara tahlil kita lantunkan untuk memperkokoh keimanan kita, bahwa Dia lah Dzat Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.

Ketika mendengar kata Idul Fitri, tentu dalam benak setiap orang yang ada adalah kebahagiaan dan kemenangan. Dimana pada hari itu, semua manusia merasa gembira dan senang karena telah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh. Dalam Idul Fitri juga ditandai dengan adanya “mudik (pulang kampung)” yang notabene hanya ada di Indonesia. Selain itu, hari raya Idul Fitri juga kerap ditandai dengan hampir 90 persen memakai sesuatu yang baru, mulai dari pakaian baru, sepatu baru, sepeda baru, mobil baru, atau bahkan istri baru (bagi yang baru menikah). Maklum saja karena perputaran uang terbesar ada pada saat Lebaran.

Makna Hari Raya Idul Fitri

Kalau sudah demikian, bagaimana sebenarnya makna dari Idul Fitri itu sendiri? Apakah Idul Fitri cukup ditandai dengan sesuatu yang baru? Atau dengan mudik untuk bersilaturrahim kepada sanak saudara dan kerabat?

Idul Fitri (kembali ke fitrah), ya suatu hari yang dirayakan setelah umat Islam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan satu bulan penuh. Dinamakan Idul Fitri karena manusia pada hari itu laksana seorang bayi yang baru keluar dari dalam kandungan, yang tidak mempunyai dosa dan salah.

Idul Fitri juga diartikan dengan kembali ke fitrah (awal kejadian). Dalam arti mulai hari itu dan seterusnya, diharapkan kita semua kembali pada fitrah. Dimana pada awal kejadian, semua manusia dalam keadaan mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan. Dalam istilah sekarang ini dikenal dengan “Perjanjian Primordial” sebuah perjanjian antara manusia dengan Allah yang berisi pengakuan ke-Tuhan-an, sebagaimana yang terekam dalam surah al-A'raf (7).

Hari raya Idul Fitri merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa. Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa itu sendiri, yaitu manusia yang bertaqwa.

Dengan demikian, makna Idul Fitri berdasarkan uraian di atas adalah hari raya dimana umat Islam untuk kembali berbuka atau makan. Oleh karena itulah salah satu sunnah sebelum melaksanakan salat Idul Fitri adalah makan atau minum walaupun sedikit. Hal ini untuk menunjukkan bahwa hari raya Idul Fitri 1 Syawal itu waktunya berbuka, dan haram untuk berpuasa.

Jadi yang dimaksud dengan Idul Fitri dalam konteks ini berarti kembali kepada asal kejadiannya yang suci dan mengikuti petunjuk Islam yang benar. Bagi ummat Islam yang telah lulus melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan akan diampuni dosanya, sehingga menjadi suci kembali seperti bayi yang baru dilahirkan dari kandungan ibunya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya, “setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci.” Oleh sebab itu ke manapun manusia menuju, pasti akan kembali kepada Allah.

Pemaknaan hari raya Idul Fitri hendaknya bersifat positif seperti menjalin silaturrahmi sebagai sarana membebaskan diri dari dosa yang bertautan antar sesama makhluk. Silaturahmi tidak hanya berbentuk pertemuan formal seperti halal bi halal. Namun juga bisa dengan cara menyambangi dari rumah ke rumah, saling duduk bercengkerama, saling mengenalkan dan mengikat kerabat. Apalagi sekarang permohonan maaf dan silaturahmi sudah tidak mengenal batas dan waktu, sebab bisa menggunakan jejaring media sosial seperti contoh lewat sms, up date status, inbox di facebook, twitter, yahoo mesengger, skype dan email.

Begitulah pentingnya silaturahmi sebagaimana Sabda Rasulullah SAW, yang artinya, “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan melainkan keduanya akan diampuni (dosanya) sebelum mereka berpisah.” (HR. Daud, Tirmidzi & Ibnu Majah)

Kini kita dengan rasa suka cita dan senang karena menyambut hari kemenangan—di samping itu kita juga bercampur sedih, dan dengan linangan air mata bahagia meninggalkan bulan Ramadan yang penuh berkah, maghfirah dan Rahmat Allah SWT. Banyak pelajaran dan hikmah, faedah dan fadhilah yang kita dapatkan. Kini bulan Ramadhan telah berlalu, tapi satu hal yang tidak boleh meninggalkan kita dan harus tetap bersama kita, yaitu spirit dan akhlakiyah puasa Ramadan. Sehingga 1 Syawal menjadi imtidad lanjutan Ramadan dengan ibadah serta kesalehan sosial. Sebab, kata Syawal itu artinya peningkatan. Inilah yang harus mengisi sebelas bulan ke depan dalam perjalanan hidup kita.

Seorang muslim yang kembali kepada fitrahnya akan memiliki sikap tetap istiqomah memegang agama tauhid yaitu Islam. Dia tetap akan berkeyakinan bahwa Allah itu Maha Esa dan hanya kepada-Nya kita memohon. Kemudian, dalam kehidupan sehari-hari ia akan selalu berbuat dan berkata yang benar, walau kaana murran atau meskipun perkataan itu pahit.

Selanjutnya, ia tetap berlaku sebagai abid, yaitu hamba Allah yang selalu taat dan patuh kepada perintah-Nya. Sebagai contoh, kita harus menghormati kedua orang tua kita baik orang tua kandung maupun mertua. Jikalau sudah meninggal, berziarahlah ke tempat makam mereka untuk mendoaakan agar dilapangkan kuburnya dan diampuni dosanya.

Mudah-mudahan berkat ibadah selama bulan Ramadan yang dilengkapi dengan menunaikan zakat fitrah, insya Allah kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrahnya. Karena ibadah puasa Ramadan berfungsi sebagai tazkiyatun nafsi yaitu mensucikan jiwa dan zakat fitrah berfungsi sebagai tazkiyatul badan, yaitu mensucikan badan. Karenanya setelah selesai ibadah puasa dan menunaikan zakat, seorang muslim akan kembali kepada fitrahnya yaitu suci jiwanya dan suci badannya.

Seorang muslim yang kembali kepada fitrahnya, selain sebagai abid (hamba Allah) yang bertakwa, ia juga akan memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan peduli kepada lingkungannya. Itulah beberapa indikator dari gambaran seseorang yang kembali kepada fitrahnya setelah selesai menunaikan ibadah shaum Ramadan sebulan lamanya. Dan itu akan tampak pada dirinya setelah selesai puasa Ramadan, mulai hari ini dan seterusnya.

Namun bila ketiga ciri fitrah tersebut tidak tampak pada diri seorang muslim mulai hari ini dan hari-hari berikutnya, maka berarti latihan dan pendidikan puasa Ramadan yang telah dilakukannya selama sebulan tidak berhasil karena tidak mampu kembali kepada fitrahnya. Semoga dengan kembalinya semua warga masyarakat muslim di negeri ini kepada fitrahnya, cita-cita negara kita menjadi negara yang adil dan makmur, serta baldatun tayyibatun wa rabbun ghaffur.

Dalam kesempatan berlebaran di hari raya yang suci ini, mari kita satukan niat tulus ikhlas dalam sanubari kita. Kita hilangkan rasa benci, rasa dengki, rasa iri hati, rasa dendam, rasa sombong dan rasa bangga dengan apa yang kita miliki hari ini. Mari kita ganti semua itu dengan rasa kasih sayang dan rasa persaudaraan. Dengan hati terbuka, wajah yang berseri-seri serta senyum yang manis, kita ulurkan tangan untuk saling bermaaf-maafan. Kita buka lembaran baru yang masih putih, dan kita tutup halaman yang lama, yang mungkin banyak terdapat kotoran dan noda seraya mengucapkan minal aidin walfaizin. Mohon maaf lahir dan batin.[]

*Penulis ?adalah Muhammad Arsyad, Ketua Umum Forum Gerakan Pemuda Peduli Aceh (Forgeppa) yang aktif dalam merespon isu-isu Aceh. Arsyad kini sedang menyelesaikan Program Pasca Sarjana di kampus ICAS-Paramadina Jakarta, konsentrasi di bidang Filsafat Islam.