Al-Malik Ash-Shalih seorang yang penyantun, kuat beribadah, pemberi nasihat, dan juga pembebas. Kepribadian sosok pemimpin Muslim seperti ini amat dirindukan oleh rakyat. Karena itu, kaum muda berharap para calon pemimpin di Aceh membaca sejarah Al-Malik Ash-Shalih dan sultan-sultan lainnya dari Kerajaan Islam Samudra Pasai untuk dijadikan pedoman dalam memimpin daerah ini di masa mendatang.

Sultan Al-Malik Ash-Shalih atau Al-Malikush-Shalih—sering diucapkan “Sultan Malikussaleh”—telah meletakkan fondasi kepemimpinan Islam yang kukuh di Nusantara, negeri yang sangat jauh dari pusat dunia Islam, Makkah dan Madinah. Pendiri Kerajaan Islam Samudra Pasai di penghujung abad ke-7 H/13 M ini seorang pemanggul dakwah yang menyebarkan Islam di Asia Tenggara. Sang sultan berpulang ke rahmatullah pada 696 H/1297 M.

Kompleks makam Al-Malik Ash-Shalih berada di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Di sisi makamnya, ada makam putranya bernama Sultan Al-Malik Azh-Zhahir Muhammad yang melanjutkan kepemimpinan Dinasti Islam Samudra Pasai, 696 H/1297 M – 726 H/1326 M.

Makam Al-Malik Ash-Shalih sampai saat ini ramai dikunjungi berbagai kalangan, baik masyarakat lokal maupun mancanegara. Makam pemimpin besar itu sering pula diziarahi sejumlah calon kepala/wakil kepala daerah saat memasuki musim pilkada di Aceh seperti sekarang. Bahkan, ada pasangan calon kepala/wakil kepala daerah yang menggelar deklarasi bersama para pendukungnya di kompleks makam tersebut.

Detail kehidupan Al-Malik Ash-Shalih memang telah lenyap ditelan zaman. Akan tetapi, menurut peneliti sejarah dan kebudayaan Islam Taqiyuddin Muhammad, suatu tinggalan sejarah berupa batu nisan makam Al-Malik Ash-Shalih memuat inskripsi yang menjelaskan tetang sosok sultan ini.

Berikut bunyi inskripsi pada batu nisan sebelah kaki (selatan) makam Al-Malik Ash-Shalih yang diterjemahkan oleh Taqiyuddin Muhammad:

“Inilah kubur orang yang dirahmati lagi diampuni, orang yang bertaqwa (takut kepada murka dan azab Allah) lagi pemberi nasehat, orang yang berasal dari keluarga terhormat dan dari silsilah keturunan terkenal lagi pemurah (penyantun), orang yang kuat beribadah (‘abid) lagi pembebas, orang yang digelar [dengan] Sultan [Al-]Malik Ash-Shalih, yang berpindah [ke rahmatullah] dari bulan Ramadhan tahun 696 dari hijrah Nabi [saw.]. Semoga Allah menyiramkan [rahmat-Nya] ke atas pusaranya serta menjadikan surga tempat kediamannya. Tiada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah).

Taqiyuddin menyebut kalimat-kalimat itu tampak tersusun apik, lancar, dan tidak dibuat-dibuat. Bunyi dari kalimat-kalimat tersebut menunjukkan suatu pengakuan batin yang penuh kehangatan bahwa Al-Malik Ash-Shalih amat pantas dikenang, diingat, dan diteladani.

“Sejauh penyelidikan yang pernah kami lakukan, kalimat-kalimat sebagaimana inskripsi tersebut hanya kami temukan pada batu nisan makam Al-Malik Ash-Shalih,” tulis Taqiyuddin dalam bukunya, “Daulah Shalihiyyah di Sumatera”, cetakan pertama tahun 2011.

Menurut Taqiyuddin, Al-Malik Ash-Shalih berasal dari keturunan terhormat, karena ia adalah turunan dari sultan-sultan besar Delhi. Silsilah keturunannya sampai ke Quthbuddin Aibak (wafat 606H/1210 M), pendiri Dinasti Mamalik Delhi yang telah membangun Masjid Quwwatul Islam (kekuatan Islam) dan Qutb Minar, yang sangat terkenal dalam sejarah dunia Islam.

Meski berasal dari keturunan terpandang dan mulia, kata Taqiyuddin, namun Al-Malik Ash-Shalih merupakan seorang yang penyantun, tidak tinggi hati. Ia menyayangi orang-orang yang lemah dan tak berdaya. Statusnya yang tinggi tidak menyulitkan dirinya untuk merendah. Iman dan juga pengalaman pahit dalam hidupnya telah mengangkatnya untuk menjadi sosok yang dicintai rakyatnya, terutama golongan lemah.

“Tidak mengherankan apabila masa pemerintahan Al-Malik Ash-Shalih adalah masa awal Samudra Pasai muncul sebagai sebuah kesatuan politik yang kuat dan berpengaruh di Nusantara, terutama dalam memperluas wilayah Islam di Nusantara yang berada amat jauh dari tempat turun wahyu. Al-Malik Ash-Shalih telah meletakkan fondasi-fondasi yang kukuh bagi Islam di Asia Tenggara lewat negara Samudra Pasainya, sehingga Islam masih tegak sebagai keyakinan mayoritas sampai hari ini, sekalipun pernah dihantam badai imperialisme yang cukup lama dan dahsyat,” ujar Taqiyuddin.

Taqiyuddin menyebut tak dapat tidak untuk diakui bahwa proses islamisasi Asia Tenggara yang begitu cepat adalah peristiwa sejarah terhebat di kawasan ini. Hal tersebut tentu dilakukan orang-orang yang benar-benar teguh, salah satunya Al-Malik Ash-Shalih. Sultan ini juga ahli ibadah, pembebas dan kesatria. Sifat ini, menurut Taqiyuddin, membuat Al-Malik Ash-Shalih bukan orang terkecualikan dalam barisan tokoh-tokoh besar dan agung dalam sejarah Islam.

Selain itu, Al-Malik Ash-Shalih adalah seorang pengembang dakwah Islam dan penyebar nilai-nilai kebebasan. Menurut Taqiyuddin, sultan ini tidak dapat membiarkan sebuah bangsa yang rakyatnya ditindas dan dikukung oleh penguasanya. Apabila ketertarikan ramai orang kepada Islam diawali faktor sosok penyebarnya, kata dia, kepribadian Al-Malik Ash-Shalih merupakan daya tarik pertama yang mendorong orang untuk memeluk Islam.

“Jelas sekali, ia seorang yang tidak bernafsu menguasai tanah dan harta milik orang lain. Ia hanya menginginkan hati mereka di dalam Islam,” kata Taqiyuddin.

Sementara itu, Ketua DPR Aceh Tgk. Muharuddin mengatakan, Sultan Al-Malik Ash-Shalih ialah tokoh besar Muslim yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi Aceh hari ini. “Seluruh hidupnya telah dipersembahkan untuk Islam dan kebaikan umat manusia di berbagai wilayah dalam kawasan Asia Tenggara,” ujarnya.

Menurut Tgk. Muharuddin, Sultan Al-Malik Ash-Shalih atau Al-Malikus Shalih (Sultan Malikussaleh) merupakan sosok yang sudah sepatutnya dihormati, dibanggakan, dan yang terlebih penting lagi adalah diteladani supaya perjalanan sejarah generasi hari ini dapat tersambung dengan sejarah pendahulunya yang besar. (Baca: Ini Pernyataan Ketua DPRA Tentang Sosok Malikussaleh yang Difilmkan)

Sekretaris Jenderal Center Informasi for Samudra Pasai Heritage (Cisah) Mawardi Ismail mengatakan, kepribadian Sultan Al-Malik Ash-Shalih sangat patut diteladani, bukan hanya bagi generasi muda, tetapi juga untuk calon pemimpin di Aceh, baik eksekutif maupun legislatif.

“Malik Ash-Shalih memang seorang raja atau sultan, tapi beliau tidak pernah memandang tinggi rendahnya seseorang dari jabatan. Beliau memandang setiap orang dari sisi ketakwaan dan ketaatannya kepada Allah,” ujar Mawardi kepada portalsatu.com, Rabu, 28 September 2016.

Mawardi menyebut Malik Ash-Shalih adalah seorang yang ahli ibadah, tetapi ia bukan seorang petapa yang menyembunyikan dirinya di hutan dan gua. “Ia selalu tampil ke hadapan publik untuk memberikan panutan. Ia adalah seorang kesatria dan pejuang yang tidak pernah meninggalkan ibadahnya,” kata pemuda Lhokseumawe ini.

Menurut Mawardi, Malik Ash-Shalih merupakan seorang raja yang tidak pernah takut kepada manusia. Namun, ia gemetar, menangis, dan takut hanya pada kemurkaan dan azab Allah.

“Ia adalah orang yang tegas kepada kafir dan pelaku kejahatan, tapi ia menyayangi fakir miskin. Ia lahir dari keturunan terhormat, tidak memiliki skandal dan rantai kriminal dalam silsilah keluarganya, apalagi dalam jejak langkah perjalanan hidupnya, sehingga ia mampu memimpin rakyat masa itu,” ujar Mawardi.

Mewakili kaum muda, Mawardi sangat berharap kepada para calon pemimpin di Aceh saat ini untuk lebih sering menziarahi makam sultan dan ulama Samudra Pasai. “Melihat dan membaca langsung sejarah hidup mereka untuk dijadikan pedoman dalam memimpin Aceh,” katanya.

Sebaiknya, mawardi menyarankan, pesan-pesan dari sejarah Sultan Malik Ash-Shalih dan raja-raja Pasai lainnya dipajang pada setiap ruangan instansi pemerintahan di Aceh. “Supaya kemudian setiap orang yang membacanya akan mengaplikasikan nilai-nilai kebaikan itu dalam dirinya untuk melayani rakyat”.[](idg)