Generasi Terakhir Perempuan Dayak Berkuping Panjang (Bagian 3-Tamat)
BAGIAN 3
Ritual Hidup Dayak Bahau
Matahari mulai meninggi saat Tipung Ping dan Yeq Lawing bergabung bersama warga lain di Lamin Adat Datah Suling, Kampung Long Isun Data Suling. Kedua perempuan berkuping panjang ini tak mau ketinggalan saat warga kampung lain mempersiapkan diri ikut serta pada Hudoq Pekayang keesokan harinya di Long Tuyoq.
Malam sebelumnya, Tipung Ping dan Yeq Lawing yang berkarib sejak kecil memeragakan tari gong dan tari bunang tatat di lamin itu. Walau sudah tua, tenaga Yeq Lawing masih lincah saat meniru loncatan katak kala mengikuti ritme petikan sapeq. Pun demikian dengan Tipung Ping, ia masih mampu menyeimbangkan tubuh berdiri di atas gong sambil menari.
Pagi sebelumnya, Jiuq dan Bang membantu para lelaki mengambil daun pinang dan daun pisang yang masih hijau. Itu adalah bahan utama pembuatan baju para pelakon Hudoq. Di lamin, saat semua warga berkumpul, mereka bergotong royong mempersiapkan segalanya.
Dalung (11) dan Linkon (11) yang masih duduk di kelas VI SD tidak mau ketinggalan. Mereka pun belajar merangkai daun pinang dan daun pisang yang dijalin pada kulit kayu menjadi baju Hudoq. Sesekali, bagian-bagian baju itu diukur pada Juq Timang (17).
Tahun ini, Juq ditunjuk oleh warga Datah Suling menjadi salah satu dari pelakon Hudoq. Juq memang mahir melakonkan Hudoq. Siswa SMA ini menjadi anggota Sanggar Seni Apau Punyaat yang didirikan di Long Isun.
“Sanggar itu menjadi salah satu cara agar tradisi leluhur kami terwariskan pada generasi berikutnya,” ujar Kuleh Liah, pensiunan guru yang cukup dihormati di Datah Suling.
Lamin menjadi ramai. Mereka bekerja riang dengan iringan musik yang keluar dari perangkat tata suara yang digerakkan dengan tenaga matahari. Datah Suling belum terjangkau aliran listrik dari PLN. Budoq anak Tipung Ping terlihat cekatan merangkai daun lubaq untuk dijadikan topi. Topi itu akan digunakan pada keesokan harinya saat Hudoq Pekayang digelar.
Kalender Kehidupan
Bagi Dayak Bahau, terlebih sub-suku Dayak Bahau Umaaq Suling, tanah tak sekadar dimaknai sebagai tempat tinggal keluarga dan masyarakat adat. Tanah adalah kehidupan, bahkan diyakini sebagai tempat bersemayam para dewa pelindung dan roh para pitarah, leluhur mereka.
Hukum adat mereka telah mengatur bagaimana hak penguasaan tanah dan pemanfaatannya. Hukum adat itu mencerminkan penghormatan terhadap alam dan hubungan yang harmonis dengan manusia.
Mereka juga meyakini bahwa benda-benda di langit dalam tata surya diciptakan oleh Yang Maha Kuasa agar punya faedah bagi keberlangsungan semesta dan kehidupan manusia. Matahari, bulan, dan bintang bagi mereka adalah petunjuk menjalani kehidupan, seperti membangun rumah, pernikahan, dan terutama mengolah ladang.
Sementara itu, Hudoq Kawit adalah bagian dari siklus mengolah ladang yang didasarkan pada kalender kebudayaan yang telah diwariskan para leluhur mereka. Bagi Dayak Bahau, mencari ladang, membuka, dan membersihkannya, hingga menanaminya harus berpatokan pada kalender kebudayaan yang dimusyawarahkan secara adat itu.
Pola perladangan yang hingga kini dipatuhi Dayak Bahau Umaaq Suling dimulai dengan musyawarah adat penentuan dimulainya membuka lahan yang dipimpin seorang Hipui (tokoh adat). Biasanya, ini dilakukan pada bulan Mei dan saat bulan di langit pada posisi mahaaq (sabit).
Setelah itu, tahapannya adalah mitang tanaaq atau membuat patok lahan dan mendirikan pondok darurat, nesak lumaq untuk mencari pertanda baik menggelar palaaq dau atau gotong royong, nevang-mulap atau menebang pohon, dan nutung atau membakar.
Tahapan selanjutnya adalah me-nugal atau menanam benih padi. Me-nugal harus melalui penetapan yang dilakukan berdasarkan musyawarah adat dengan melihat perjalanan matahari berdasarkan kalender yang telah dibuat para leluhur mereka.
(Buku Riwayat Kehidupan dan Tradisi Warisan Leluhur Dayak Bahau Umaaq Suling Lung Isun, terbitan Perkumpulan Nurani Perempuan dan Bappeda Kabupaten Mahakam Ulu)
Me-nugal merupakan salah satu acara yang ditunggu oleh warga sebab me-nugal dilakukan secara gotong royong. Warga secara bergilir saling membantu menanam bibit padi di ladang-ladang yang sudah siap ditanami.
Hudoq Kawit digelar saat me-nugal sudah selesai dilakukan. Gerakan tarian Hudoq dipercayai turun dari nirwana untuk mengenang leluhur mereka. Mereka percaya bahwa roh nenek moyang berada di sekeliling anak cucunya saat musim tanam tiba. Lewat Hudoq-lah, orang Dayak Bahau memohon bimbingan dari roh-roh pitarah yang dijuluki sebagai Jeliwan Tok Hudoq.
Apo Kayan, sebuah tempat paling hulu di Sungai Mahakam, dipercaya sebagai tempat muasal Asung Luhung, ibu besar yang diturunkan dari langit, yang memberi perintah kepada Tok Hudoq. Dia diperintahkan menemui manusia. Misinya membawa kabar kebaikan sambil memberikan benih dan tanaman obat-obatan.
Karena wujudnya yang menyeramkan, Tok Hudoq mengenakan baju samaran manusia setengah burung serta bertopeng. Tradisi itu mengkristal dalam tarian hudoq hingga sekarang. Para penari menyembunyikan diri mereka dalam rupa topeng serta berbalut pakaian dari kulit kayu yang dibungkus dengan jalinan daun pisang atau daun pinang hingga ke kaki.
Biasanya satu kelompok penari Hudoq terdiri atas 13 orang yang melambangkan jumlah dewa yang memelihara padi. Jumlah penari Hudoq juga menjadi simbol jenis hama yang mengganggu tanaman di ladang. Hama itu terwakili dari rupa topeng Hudoq yang menyerupai binatang buas.
Kesibukan warga Datah Suling di lamin siang itu adalah bagian dari ritual merayakan kehidupan dalam pola perladangan yang mereka hormati. Sementara Juq akan “menjelma” menjadi salah satu dewa, Tipung Ping dan Yeq Lawing bersama ribuan warga Bahau lainnya akan menarikan ngaraang, sebuah ritme simbol persahabatan dan persaudaraan para penghuni tanah di hulu Mahakam.
Ketika Roh-roh Leluhur Menyapa
Suasana riuh terjadi di Matingan, seberang Sungai Kampung Long Tuyoq. Ilalang di bawah pohon-pohon bambu itu sengaja dibersihkan. Matingan menjadi tempat singgah warga Dayak Bahau dari 13 kampung di Kecamatan Long Pahangai, siang itu, 22 Oktober 2016.
Ribuan masyarakat suku Dayak Bahau mendatangi Long Pahangai. Mereka akan merayakan Hudoq Pekayang yang mulai dijadikan agenda festival tahunan oleh Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu. Kali ini, Kampung Long Tuyoq menjadi tuan rumah.
Pun demikian dengan Tipung Ping yang membawa lengkap keluarganya. Dia terlihat sangat cantik dengan pakaian motif Dayak yang sungguh berwarna. Tak lupa, Tipung Ping mengenakan ikat kepala yang dibuat dari daun lubaq dan dipermanis dengan beraneka bunga. Amai Ding, suaminya, tidak mau ketinggalan.
Amai bersama para lelaki Kampung Long Isun juga datang lengkap dengan simbol-simbol budaya Dayak, mulai dari topi, bulu burung enggang, baju, kalung, mandau, perisai, hingga celana. Hari ini semuanya akan bergembira, merayakan ritual warisan leluhur mereka, Hudoq.
Matingan disediakan oleh panitia Hudoq Pekayang menjadi tempat transit warga dari 13 kampung sebelum festival itu dibuka oleh Bupati Mahakam Ulu Bonifasius Belawan Geh. Bonifasius menginginkan ritual Hudoq bisa menjadi agenda tahunan pemerintah kabupaten dalam upaya melestarikan nilai-nilai budaya di Mahakam Ulu.
Sementara itu, Juq disibukkan dengan memasang baju Hudoq, topeng-topeng dari kayu yang mengejawantahkan kehadiran para dewa. Semua itu disiapkan oleh para tetua kampung.
Suasana menjadi terasa magis saat para perempuan Dayak mulai melantunkan syair tradisi mereka lewat nyanyian khas, diiringi dengan tetabuhan musik tradisional.
Saat bayangan matahari mulai condong ke timur, suasana semakin riuh. Longboat berukuran besar mulai menyeberangkan warga menuju lokasi penyelenggaraan Hudoq Pekayang. Sungai Mahakam pun menjadi begitu berwarna. Setiap kampung tampil dengan ciri khas berbeda. Sungguh, Dayak Bahau dikaruniai warisan budaya yang memesona.
Raungan suara dari pelakon Hudoq, termasuk Juq, dilantangkan sepanjang perjalanan menuju ke lapangan sebagai pusat perayaan ritual kehidupan. Bonafasius kemudian menabuh tubung sebagai tanda ritual dimulai. Sontak pelakon Hudoq yang berjumlah ratusan itu memulai ritus mereka.
Setiap pelakon melakukan gerakan mistis dengan ritme tinggi. Nada repetisi dari tetabuhan tubung dan gong menjadi penuntun. Selama bebunyian itu melantun, para penari Hudoq terus melakukan gerakan maju sambil mengentakkan kaki. Gerakan itu dibarengi dengan tangan yang mengibas-ngibas meniru gerakan sayap seekor burung. Sesekali suara khas keluar dari mulut mereka.
Tarian ini bermakna mengusir hama penyakit agar tidak menyerang tanaman padi. Roh-roh leluhur pun diyakini datang menyapa. Penari Hudoq pun kian larut dalam gerakan nyidok, yaitu gerakan maju sambil mengentak kaki, lalu disusul gerakan ngedok yang menyentakkan tumit diiringi gerakan tangan yang mengibas-kibas. Gerakan memutar ke kiri mengandung makna membuang sial, sementara memutar ke kanan untuk mengambil kebaikan.
Seolah mendapat kekuatan dari para dewa, para penari Hudoq mampu melakukan gerakan repetisi ini berjam-jam lamanya. Padahal tubuh mereka terkurung di dalam baju dari dedaunan dan kulit kayu serta wajah bertopeng. Penari Hudoq hanya beristirahat sesaat menjelang malam, lalu melanjutkan ritus Hudoq hingga fajar menyapa.
Saat ratusan orang itu menari di tengah lapangan, Tipung Ping dan Yeq Lawing bersama ribuan warga Bahau lainnya membentuk barisan melingkar. Mereka melakonkan tarian Ngaraang. Gerakan berulang membentuk lingkaran besar ini ditarikan sejak sore hingga keesokan paginya, tanpa henti.
Ritus magis Hudoq dan Ngaraang itu baru akan benar-benar berhenti saat lonceng gereja bertalu memanggil umat menghadap Sang Ilahi. Agama Katolik menjadi kepercayaan dominan yang dianut warga Dayak Bahau. Warga dari 13 kampung baru akan pulang saat musyawarah adat selesai digelar di lamin.
Namun, prosesi merayakan kehidupan dari siklus perladangan itu belum benar-benar selesai. Hudoq akan dilanjutkan dengan Hudoq Kawit di kampung masing-masing, termasuk di Datah Suling Long Isun.
Setelah Hudoq Kawit digelar, kalender kebudayaan mereka masih punya tahapan, yakni Navau (membersihkan rumput) dan Ngelunau (memanen padi).
(Buku Riwayat Kehidupan dan Tradisi Warisan Leluhur Dayak Bahau Umaaq Suling Lung Isun, terbitan Perkumpulan Nurani Perempuan dan Bappeda Kabupaten Mahakam Ulu.)
Ketika topeng Hudoq digantung kembali di setiap rumah menunggu ritual tahun berikutnya, Tipung Ping dan Yeq Lawing kembali pada rutinitas keseharian dan bertekad menjaga warisan pitarah sampai takdir datang menyapa.[]Sumber:Kompas.com
WRITER, PHOTOGRAPHER, VIDEOGRAPHER: Ronny Adolof Buol. EDITOR: Laksono Hari Wiwoho, Erwin Kusuma Oloan Hutapea, Dimas Wahyu Trihardjanto, Eris Eka Jaya. COPYWRITER: Georgious Jovinto. GRAPHIC DESIGNER: Cassandra Etania. DEVELOPER: Nurhaman. Copyright 2017. Kompas.com.

