BANDA ACEH – Tanggal 21 April disebut sebagai hari kebangkitan perempuan. Tanggal tersebut diambil dari hari lahirnya R.A Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada 21 April 1879. Tanggal tersebutpun ditetapkan sebagai hari kebangkitan perempuan.

Namun, dewasa ini muncul banyak perdebatan tentang hari kebangkitan perempuan yang diambil dari hari lahirnya R.A Kartini itu. Pasalnya, banyak pahlawan perempuan lainnya seperti Cut Nyak Dhien di Aceh yang perannya dalam melawan penjajah lebih heroik. Bagaimana sejarawan melihat hal ini?

Sejarawan sekaligus Ketua Progran Studi Pendidikan Sejarah Universitas Syiah Kuala, Mawardi Umar, saat dimintai tanggapannya sinag tadi menjelaskan, Kartini dengan Cut Nyak Dhien atau Laksamana Malahayati memiliki latar aspek sejarah yang berbeda.

“Pergerakan perempuan sudah ada di Aceh jauh sebelum Kartini. Namun aspeknya berbeda. Jika Cut Nyak Dhien mengangkat senjata melawan penjajah, Kartini menulis untuk keluar dari kungkungan adat,” ucap Mawardi, Kamis, 21 April 2016.

Menurut Mawardi, Kartini memang memiliki visi yang bagus agar martabat perempuan lebih baik dan naik derajat. Namun, secara pribadi ia telah gagal menjadi perempuan seperti yang ia impikan.

“Secara pribadi ia gagal melawan adatnya karena ia adalah istri kedua. Mungkin alasan mengapa hari kebangkitan perempuan dinobatkan pada hari lahir Kartini karena ia punya mimpi untuk membangkitkan derajat perempuan,” kata dia.

Pun demikian Mawardi mengatakan bahwa sangat sulit untuk membandingkan Kartini dengan para nenek moyang bangsa Aceh terdahulu seperti Laksamana Malahayati atau Cut Nyak Dhien. Pasalnya, pergerakan Malahayati dan Cut Nyak Dien sangat luar biasa dan sangat dikenal dunia.

“Laksamana Malahayati bahkan lebih dulu menunjukan eksistensi perempuan di mata dunia. Jadi sangat sulit kita bandingkan dengan Kartini yang memiliki aspek dan latar belakang sejarah yang berbeda,” kata Mawardi lagi.[](ihn)