JAKARTA – Kelompok pemberontak terbesar di Kolombia, FARC, sudah meneken perjanjian damai dengan pemerintah dan melucuti persenjataan mereka. Namun, kini mereka berubah bentuk dari organisasi paramiliter menjadi sebuah partai politik.
Dilansir dari laman Al Jazeera, Sabtu (2/9), buat menandakan kehadirannya di dunia politik Kolombia, FARC meluncurkan bendera dengan lambang baru. Logo senapan di bawah buku berada di atas singkatan FARC berwarna hijau kini berganti dengan ilustrasi mawar merah, dengan bintang di tengahnya. Mereka juga mempertahankan akronim FARC sebagai nama partai. Langkah mereka mirip dengan Gerakan Aceh Merdeka yang juga berubah dari pergerakan bersenjata menjadi partai politik bernama Partai Aceh.
“Kami ingin membangun negara yang baru bersama kalian. Sebuah bangsa di mana tidak ada lagi kelompok diburu hanya karena perbedaan pendapat,” kata Panglima FARC, Rodrigo Londono, saat pawai bersama ribuan pendukung di Ibu Kota Bogota, kemarin.
Mantan panglima militer FARC, Pablo Catatumbo, mengatakan garis kebijakan Partai FARC adalah merangkul semua golongan dalam partai baru. Dia menjanjikan sejumlah agenda bakal menjadi prioritas Partai FARC.
“Kami memperjuangkan keadilan sosial, perdamaian, kedaulatan dan reformasi agraria, dan mempertahankan kepentingan bersama,” kata Pablo.
Kendati demikian, Partai FARC harus berjuang keras supaya bisa diterima di mata masyarakat. Sebab, dikhawatirkan lantaran masih menyandang nama sama bakal membuat orang-orang terngiang akan konflik berdarah selama setengah abad di Kolombia.
FARC juga sudah menggelar kongres buat mematangkan pembentukan partai politik dan memilih sejumlah politikus mereka. Namun, di dalam musyawarah itu mereka terbelah menjadi dua kubu. Sejumlah pimpinan menginginkan Partai FARC tetap mengusung nilai-nilai revolusi, sedangkan yang lain ingin memperhalus citra supaya bisa mencapai tujuan.
Pablo mengatakan Partai FARC menargetkan bisa mengikuti pemilihan umum tahun depan. Sebelum itu, mereka bakal menggelar pemilihan perwakilan politik pada November mendatang. Kemungkinan besar yang terpilih adalah para panglima militer, termasuk Pablo. Dalam kesepakatan damai diteken tahun lalu, pemerintah Kolombia menjamin FARC mendapat jatah lima kursi di dua lembaga legislatif selama dua masa kerja.
Partai FARC kini berusaha membangun jejaring dan mulai mencari kawan buat membangun koalisi. “Kami kini masuk ke lingkar politik karena kami ingin menjalankan pemerintahan, atau menjadi bagian dari mereka,” kata juru runding FARC, Ivan Marquez.
FARC dibentuk pada 1964 sebagai gerakan komunis, karena dipicu sengketa kepemilikan lahan penduduk di wilayah pedesaan. Gerakan itu berubah menjadi perlawanan bersenjata terhadap pemerintah Kolombia selama 50 tahun. Dampak dari konflik itu diperkirakan 250 ribu orang tewas, 60 ribu hilang, dan tujuh juta warga mengungsi.
Setelah berdamai, FARC menyerahkan delapan ribu senjata dan 1,3 juta amunisi. Sekitar tujuh ribu pejuang FARC juga dibebastugaskan, dan sebagian besar dari mereka mendapat pengampunan.[] sumber: merdeka.com




