Dalam bulan Rajab, banyak shalat sunah yang dianjurkan. Salah satu di antaranya shalat sunah Raghaib. Ulama terdahulu juga telah melaksanakannya, dan ini bisa dilihat dalam karya mereka. Shalat Raghaib yaitu rangkaian shalat sunah dilaksanakan pada malam Jumat pertama bulan Rajab. Biasanya pada hari Kamisnya didahului puasa. Namun meski tanpa puasa, shalat ini juga masih dianjurkan.
Amaliah shalat sunah Raghaib telah disebutkan oleh Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam karangannya berdasarkan hadis Rasulullah saw., yang bunyinya: …Tidak ada seorang berpuasa pada hari Kamis, yaitu awal Kamis dalam bulan Rajab, kemudian shalat di antara Maghrib dan Atamah (Isya)-yaitu malam Jumat- (sebanyak) dua belas rakaat. Pada setiap rakaat membaca surah Al-Fatihah sekali dan surah Al-Qadr tiga kali, serta surah Al-Ikhlas dua belas kali. Shalat ini dipisah-pisah setiap dua rakaat dengan salam. Jika telah selesai dari shalat tersebut, maka ia bershalawat kepadaku tujuh puluh kali, kemudian mengatakan: Allahhumma shalli ala Muhammadin Nabiyil umiyi wa alihi, kemudian sujud, lalu menyatakan dalam sujudnya: Subuhun qudusun Rabbul malaikati wa ar ruh tujuh puluh kali, lalu mengangkat kepalanya dan mengucapkan Rabbighfirli warham wa tajaawaz amma talam, inaka antal Azizul azham tujuh puluh kali, kemudian sujud kedua dan mengucapkan seperti ucapan pada sujud yang pertama. Lalu memohon kepada Allah hajatnya, maka hajatnya akan dikabulkan. Rasulullah bersabda, Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak ada seorang hamba lali-laki atau perempuan yang melakukan shalat ini, kecuali akan Allah ampuni seluruh dosanya, walaupun seperti buih lautan dan sejumlah daun pepohonan, serta bisa memberi syafaat pada hari kiamat kepada tujuh ratus keluarganya. Jika berada pada malam pertama, di kuburnya akan datang pahala shalat ini. Ia menemuinya dengan wajah yang berseri dan lisan yang indah, lalu menyatakan: Kekasihku, berbahagialah! Kamu telah selamat dari kesulitan besar. Lalu (orang yang melakukan shalat ini) berkata: Siapa kamu? Sungguh demi Allah aku belum pernah melihat wajah seindah wajahmu, dan tidak pernah mendengar perkataan seindah perkataanmu, serta tidak pernah mencium bau wewangian, sewangi bau wangi kamu. Lalu ia berkata: Wahai, kekasihku! Aku adalah pahala shalat yang telah kamu lakukan pada malam itu, pada bulan itu. Malam ini aku datang untuk menunaikan hakmu, menemani kesendirianmu dan menghilangkan darimu perasaan asing. Jika ditiup sangkakala, maka aku akan menaungimu di tanah lapang kiamat. Maka berbahagialah, karena kamu tidak akan kehilangan kebaikan dari maulamu (Allah) selama-lamanya. (kitab Tabyin Al-Ajab Bima Warada Fi Fadhli Rajab Ibnu Hajar Al-Asqalani hal. 34-36)
Berdasarkan hadis di atas, dapat penulis simpulkan metode shalat Raghaib. Pertama, jumlah rakaat dua belas rakaat dengan metode pelaksanaanya setiap dua rakaat satu salam. Kedua, bertakbir dengan mengucapkan Allahu Akbar. Ketiga, setiap rakaat membaca surah Al-Fatihah sekali, surathAl-Qadar tiga kali dan surah Al-Ikhlash dua belas kali. Keempat, kemudian ruku dan sujud.
Kelima, usai shalat Raghaib mengucapkan selawat kepada Nabi Muhammad sebanyak tujuh puluh kali dengan lafaz: Allahhumma shalli Ala Muhammadin Nabiyil umiyi wa alihi. Keenam, kemudian sujud dengan membaca Subuhun qudusun Rabul malaikati wa ar ruh. Kemudian bangun dan duduk dengan mengucapkan Rabbighfirli warham wa tajaawaz amma talam, innaka antal Azizul ahzam. Ketujuh, lalu sujud lagi dan mengucapkan sebagaimana ucapan saat sujud pertama. Kemudian berdoa kepada Allah sesuai dengan hajat kebutuhannya. Wallahu 'Alam Bishawab.[]


