LHOKSEUMAWE – Delapan Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat di Lhokseumawe melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tahun ini, sisanya masih melaksanakan UN secara tertulis. Namun, di SMA 1 Lhokseumawe, UNBK terpaksa dilaksanakan secara bergilir akibat kurangnya jumlah komputer, Senin, 04 April 2016.

Pantauan portalsatu.com di SMA Negeri 1 Lhokseumawe, yang melaksanakan UN berbasis komputer terpaksa harus melakukan sistem bergilir kepada para peserta ujian. Para siswa tersebut tampak menunggu gilirannya melaksanakan ujian dengan menggunakan komputer.

“Jadi, satu hari ada tiga ronde atau giliran, siswa saling bergantian ikut UN-nya, pukul 8 sampai pukul 10, kemudian masuk yang berikutnya jam 10 sampai jam 12, begitu seterusnya,” ujar Nurasma, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Lhokseumawe.

Menurut Nurasma, mereka hanya mampun menyediakan sebanyak 150 komputer. Sementara siswa kelas 3 yang ikut UNBK di sekolah tersebut berjumlah 429 siswa. “Makanya kami terpaksa buat (sistem) ronde atau bergilir,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya saat memantau salah satu sekolah kepada para wartawan mengatakan pihaknya mengakui saat ini di daerah pimpinannya itu baru 8 sekolah mengikuti UNBK.  “Tahun ini kita baru mampu 8 sekolah yang ikut UNBK, sisanya masih manual ujian nasional secara tertulis seperti sebelum-sebelumnya,” ujarnya.

Suaidi Yahya menjelaskan, hal demikian terjadi dikarenakan masih terbatasnya jumlah sekolah dengan fasilitas komputer di kota yang pernah dijuluki ‘Petro Dollar’ itu.  “Tahun ini ada 3338 siswa peserta UN dari 21 SMA, SMK, dan MA negeri di Lhokseumawe, namun hanya 8 yang melaksanakan UNBK,” kata Suaidi.[](ihn)